Onim: 4 Kali Saya Dijadikan Target Pembunuhan oleh Israel

   •    Jumat, 08 Dec 2017 11:23 WIB
israel palestina
Onim: 4 Kali Saya Dijadikan Target Pembunuhan oleh Israel
Salah satu bentuk protes kebijakna Trump atas Yerussalem di Istanbul, Turki. (Foto: AFP/Ozan Koze)

Jakarta: Abdillah Onim mungkin hanya satu dari sekian banyak warga negara Indonesia yang aktif dalam misi kemanusiaan di Palestina. Selama lebih dari 10 tahun tinggal di jalur Gaza, Palestina, Onim mengaku mengalami apa yang dirasakan oleh warga Palestina.

Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas keputusan menyatakan Yerussalem sebagai ibu kota Israel tak hanya melukai hati warga Palestina namun juga dirinya yang kini sudah memiliki dua anak dari seorang wanita Palestina yang menjadi istrinya.

Pasca-keputusan Trump, Onim menuturkan kondisi di Palestina di tiga hari terakhir ini begitu kacau. Israel yang terus menerus menginvasi hampir seluruh wilayah Palestina membuat negara tersebut terpecah menjadi dua bagian.

"Saat ini Palestina dibagi menjadi dua, jalur Gaza yang berbatasan langsung dengan Mesir dan di tepi barat Yerussalem yang berbatasan dengan Yordania," ujar Onim, dalam Metro Pagi Primetime, Jumat 8 Desember 2017.

Onim mengakui bahwa terpecahnya wilayah Palestina membuat warga sulit untuk melakukan perlawanan terhadap Israel. Apalagi di wilayah tepi barat yang terbagi menjadi tiga bagian yang masing-masing dihuni oleh penduduk campuran Yahudi dan Palestina, mayoritas Yahudi, dan mayoritas Palestina semakin membuat kekuatan Palestina terpecah.

Menurut bapak dua orang anak ini, keputusan Trump tidak hanya melukai umat muslim, Kota Yerussalem yang saat ini dinyatakan sebagai ibu kota Israel juga menjadi tempat bermukimnya umat Yahudi dan Nasrani.

"Kebijakan ini otomatis membuat sakit hati bukan hanya muslim di seluruh dunia tapi juga nasrani," kata Onim.

Curahan hati pastor Palestina

Meski bukan hanya hati umat muslim yang terluka, dukungan yang didapatkan umat Nasrani dan Yahudi di Palestina tak sebanyak dengan apa yang didapatkan oleh umat muslim di negara tersebut.

Onim bercerita pernah suatu waktu Ia berkunjung ke gereja dan bertemu dengan pastor dan pendeta yang menyatakan kesedihannya tak mendapat dukungan morel dari saudara-saudara seimannya dari luar Palestina.

Para salah satu dari pendeta bertanya, mengapa orang Indonesia yang juga dihuni oleh umat kristiani tidak pernah hadir memberikan dukungannya kepada saudara-saudara seiman mereka yang tengah kesulitan di jalur Gaza.

"Saya katakan memang informasi yang datang dari Palestina abu-abu. Ada yang mengatakan karena persoalan agama, tanah, politik dan sebagainya. Sehingga orang Kristen di Indonesia seakan cuek apapun yang terjadi di Palestina," tutur Onim.

Meski jawaban yang didapatkan tak membuat hati mereka bahagia, namun para pendeta tersebut menaruh harapan suatu hari nanti ada dari saudara seiman mereka mau untuk datang dan memberikan bantuan dan dukungan bagi mereka/

"Para pastor ini berpesan, tolong kabarkan pada orang Kristen di Indonesia silakan datang ke Palestina untuk melihat kondisi mereka," ungkapnya.

Menjadi target pembunuhan

Banyak hal yang dialami oleh Onim selama berada di Palestina. Ia yang juga sebagai salah satu jurnalis lokal yang vokal terhadap kekejaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina cukup sering mendapatkan ancaman dan perilaku tak menyenangkan.

Selama tinggal di Palestina dan menjadi jurnalis sudah empat kali Onim mendapatkan ancaman pembunuhan dari Israel. Meskipun Ia hanyalah warga negara Indonesia.

"Karena bagi siapa saja orang asing yang menginjakkan kaki atau satu langkah saja ke Palestina maka orang tersebut pantas dibunuh di mata Israel dan Saya mengalaminya sendiri," ungkap Onim.

Tindakan tak manusiawi Israel

Omin menuturkan kekejaman Israel tak hanya menginvasi sejumlah wilayah di Palestina. Selama sekitar 11 tahun jalur Gaza di blokade, kebutuhan dasar masyarakat Palestina hampir dapat dipastikan tidak bisa terpenuhi.

Bagaimana tidak, selain pangan obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat pun sangat sulit didapatkan. Onim mengatakan setiap hari tidak kurang dari 5 bayi meninggal dunia akibat kekejaman Israel yang tidak mengizinkan mereka dievakuasi ke rumah sakit.

"Krisis obat-obatan terus terjadi. Pintu perbatasan Gaza-Mesir ditutup, pintu Gaza-Israel pun ditutup. Obat diizinkan masuk hanya jika sudah kedaluwarsa. Itu yang dilakukan oleh Israel," katanya.

Tak hanya obat-obatan, kebutuhan pangan pun sangat sulit diakses oleh warga Palestina di jalur Gaza. Pernah Onim memesan sembaki ke tepi barat Yerussalem namun tidak bisa diantarkan tanpa izin Israel.

Israel memberikan izin bahan makanan bisa masuk ke jalur gaza hanya jika makanan tersebut sudah kedaluwarsa.

"Sebagai WNI saya menyampaikan mari Kita bersatu menggalang kekuatan, memberi dukungan, karena selama ini yang Kita berikan hanya kecaman. Kita tunjukkan sikap bahwa apa yang terjadi di Palestina adalah pelanggaran HAM," jelasnya.




(MEL)