Tentara Suriah Rebut Wilayah Kekuatan Terakhir ISIS

Arpan Rahman    •    Kamis, 09 Nov 2017 16:22 WIB
isis
Tentara Suriah Rebut Wilayah Kekuatan Terakhir ISIS
Militer Suriah terus mendesak pertahanan kelompok Islamic State (ISIS) (Foto: AFP).

Albu Kamal: Tentara Suriah dan sekutu-sekutunya, yang dipelopori oleh Hizbullah Lebanon, merebut benteng besar terakhir Islamic State (ISIS) di Suriah, pada Rabu 8 November. Seorang komandan dalam aliansi tersebut mengatakan kekhalifahan nyaris mendekati kejatuhan.

"Benteng terakhir ISIS, Albu Kamal, sudah bebas dari organisasi itu," kata komandan tersebut, seperti dikutip Eyewitness News, Kamis 9 November 2017. Ia bertugas dalam aliansi militer yang mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad.

ISIS telah hancur selama dua tahun terakhir ini. Di puncak kekuasaannya pada 2015, mereka menguasai sebuah kawasan antara Irak dan Suriah. Menerabas perbatasan, mencetak uang, menerapkan undang-undang kejam, dan merencanakan serangan di seluruh dunia.

Pada Rabu, setelah beberapa bulan yang lalu melintasi Suriah tengah dan timur, tentara Suriah dan milisi Syiah berkumpul mengepung dan menyerang Albu Kamal.

"Hizbullah menjadi pelopor dalam pertempuran Albu Kamal", kata komandan tersebut. Ia menambahkan bahwa ratusan pasukan elit kelompok Syiah yang didukung Iran ambil bagian dalam pertempuran tersebut.

Televisi negara Suriah menyatakan "Albu Kamal dibebaskan". Namun sebuah lembaga monitor, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), yang berbasis di Inggris, mengatakan tidak benar bahwa Albu Kamal telah diduduki dan masih terjadi pertempuran di daerah tersebut.

Albu Kamal terletak di perbatasan Irak di tepi sungai Efrat. Selama pertempuran, pasukan Hizbullah memasuki Irak dan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak menyeberang ke Suriah demi membantu merebut kota tersebut, kata komandan ini.

ISIS mempertahankan kontrol atas beberapa wilayah padang pasir dan pedesaan terdekat. Serta sebuah kota dan beberapa desa lain di wilayah Irak yang tidak berjauhan, dan di sejumlah enklave yang tersebar di tempat lain di kedua negara.

Mengatasi ancaman

Terlepas dari terpukul, ISIS masih memiliki wilayah teritorial di Libya dan di lokasi lain. Banyak negara memperkirakan ISIS tetap menjadi ancaman, bahkan setelah lenyapnya kekhalifahan yang dideklarasikan dari Mosul, Irak, pada 2014.

Sudah digelarnya operasi gerilya di Irak dan Suriah, terus mengilhami militan pelaku tunggal agar menyerang sasaran sipil di Barat.

Di Suriah, akhir operasi besar melawan ISIS mungkin hanya akan membentuk fase baru perang. Karena kekuatan yang saling berseteru telah menguasai wilayah dari para militan.

Tentara Suriah, di samping Hizbullah dan milisi Syiah lainnya, serta didukung Iran dan Rusia, merebut wilayah Suriah tengah dan timur dalam menghadapi ISIS tahun ini.

Media resmi Rusia dalam beberapa pekan terakhir melaporkan adanya gelombang pemboman strategis dan serangan rudal jelajah pada target ISIS di Suriah timur saat tentara maju.

Sebuah koalisi yang didukung AS telah mendukung kampanye rivalnya oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF), sebuah aliansi milisi Kurdi dan Arab yang sudah mengusir ISIS dari sebagian besar negeri bagian utara dan timur.

Fase baru perang

Pemerintah Suriah bersumpah merebut kembali wilayah yang dikangkangi SDF, termasuk bekas ibukota ISIS, Raqqa, dan ladang minyak dan gas di sebelah timur Sungai Efrat.

Di daerah-daerah yang dikendalikan SDF di Suriah utara, kelompok-kelompok yang dipimpin Kurdi telah menetapkan otonomi, mengumumkan pemilu, dan menetapkan kebijakan internal.

Pada Selasa, Bouthaina Shaaban, seorang penasihat senior Assad, menggambarkan pasukan AS yang membantu SDF sebagai penyerbu ilegal. Washington belum menjelaskan bagaimana dukungan militernya bagi SDF akan berkembang setelah kekalahan ISIS.

Shaaban juga menunjuk, dalam sebuah wawancara televisi, contoh Irak, di mana pemerintah melakukan pembalasan terhadap daerah Kurdi yang otonom sesudah mengadakan referendum kemerdekaan.

Pejabat militer Irak mengatakan sekelompok kecil militan ISIS masih bercokol di kota Rawa dan jalur gurun perbatasan dengan Suriah. Desa-desa yang tersebar di dekat al-Qaim, dekat Albu Kamal, masih berada di bawah kontrol militan di daerah yang disebut Rummana.

Pasukan Mobilisasi Populer Irak (PMF), sebuah aliansi milisi, pada Rabu lalu membantah telah menyeberangi perbatasan Suriah dan menyerang Albu Kamal.

"Pergerakan kami dilakukan atas perintah komandan kepala angkatan bersenjata dan tujuan utama kami adalah untuk membebaskan wilayah Irak dari ISIS. Kami tidak memiliki perintah untuk melewati perbatasan," kata juru bicara PMF Ahmed al-Asadi.


(FJR)