Presiden Zimbabwe Tuding Militer Rencanakan Kudeta

Arpan Rahman    •    Sabtu, 29 Jul 2017 16:07 WIB
zimbabwe
Presiden Zimbabwe Tuding Militer Rencanakan Kudeta
Presiden Zimbabwe Robert Mugabe tuduh militer rencanakan kudeta (Foto: PA).

Metrotvnews.com, Harare: Presiden Robert Mugabe mengecam militer Zimbabwe karena terlibat dalam politik, meskipun telah memainkan peran kunci dalam mempertahankan kekuasaannya sendiri. Militer juga kemungkinan akan mempengaruhi siapa yang mengganti dirinya, kata para analis.
 
Pada Kamis 27 Juli, Mugabe mengatakan bahwa keterlibatan militer dalam politik internal partai Zanu-PF yang berkuasa sama dengan "sebuah kudeta".
 
"Militer tidak memiliki hak yang Anda tahu, untuk mengganggu proses politik," Mugabe mengatakan pada sebuah pertemuan Liga Perempuan partainya, seperti dikutip News24, Sabtu 29 Juli 2017.
 
Politik di depan senjata
 
Dia katakan bahwa tentara hanya boleh memainkan peran pendukung berdasarkan "prinsip bahwa politik harus selalu di depan senjata dan bukan politik senjata."
 
Pejabat senior di militer, polisi dan veteran perang diperkirakan mendukung sebuah faksi yang dipimpin oleh Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa, mantan menteri pertahanan, yang mengatakan bahwa dia mengawasi presiden. Tapi faksi Mnangagwa ditentang oleh sebuah jaringan terkait Ibu Negara Grace Mugabe.
 
Cambuk tentara
 
Analis dan sejarawan Takavafira Zhou berkata, kritik Mugabe ke petinggi militer berawal dari "pergeseran paradigma". Presiden berusaha mempersiapkan basis dukungan militer partai tersebut untuk seseorang yang "tidak memiliki sejarah pembebasan", mungkin istrinya.
 
"Mugabe mencoba mencambuk tentara sehingga mereka akan menerima apapun yang mungkin dia lakukan ke depan," ujar Zhou kepada News24.
 
Dia katakan bahwa hal itu tidak akan berhasil. Soalnya petinggi militer hanya "dapat menerima orang-orang yang telah memerintah mereka di masa lalu". Sehingga akan menyukai seseorang yang dapat melindungi kepentingan bisnis pribadi mereka.
 
Blok kekuatan menentukan
 
Mugabe mengatakan kepada Liga Perempuan bahwa partai tersebut dapat segera mengembalikan kebijakan memiliki seorang wakil presiden perempuan. Grace Mugabe, sebagai kepala Liga Perempuan, akan menjadi kandidat yang mumpuni.
 
Analis politik Pedzisai Ruhanya mengatakan kemarahan Mugabe terhadap tentara tidak akan mencairkan peran mereka dalam suksesi politik.
 
"Blok kekuatan yang menentukan dalam masalah suksesi di Zanu adalah militer dan inilah mengapa Mugabe menyerang mereka," kata Ruhanya kepada News24.
 
"Ini cukup mengatakan bahwa Mugabe berbicara tentang keterlibatan militer sebagai sebuah kudeta. Karena saya pikir dia gagal mengendalikan para jenderal dalam hal tekad mereka memastikan mereka memilih (penerusnya) bahwa mereka tidak akan memilih yang diinginkan istri Mugabe dan keluarganya," tegasnya.



(FJR)