Obama Desak Putin Akhiri Kekerasan di Suriah

Nur Azizah    •    Senin, 21 Nov 2016 06:39 WIB
konflik suriah
Obama Desak Putin Akhiri Kekerasan di Suriah
Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Peru: Presiden Amerika Serikat Barack Obama mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menegakkan Perjanjian Minsk dan juga mengakhiri kekerasan di Suriah. Permintaan itu Obama sampaikan saat KTT APEC pada Minggu (20/11/2016) waktu setempat.

"Presiden mendesak Presiden Putin untuk menegakkan Perjanjian Minsk. AS menggarisbawahi bahwa kedaulatan Ukraina adalah mitra kami," kata Pejabat Gedung Putih seperti yang dilansir dari Reuters, Senin (21/11/2016)

Obama juga menekankan perlunya menteri luar negeri AS dan Rusia beinisiatif, bersama-sama dengan masyarakat internasional yang lebih luas untuk mengurangi kekerasan dan meringankan penderitaan rakyat Suriah. 

"Pada Suriah, Presiden mencatat perlunya Sekretaris (John) Kerry dan Menteri Luar Negeri (Sergei) Lavrov untuk terus mengejar inisiatif, bersama-sama dengan masyarakat internasional yang lebih luas, untuk mengurangi kekerasan dan meringankan penderitaan rakyat Suriah," lanjut sumber Gedung Putih.

Serangan udara tak kunjung henti melanda Aleppo Timur, Suriah. Akibatnya, tidak ada lagi satu pun rumah sakit yang beroperasi penuh di daerah yang dikuasai pemberontak. Demikian disampaikan Lembaga Medis Suriah-Amerika (SAMS), Sabtu 19 November.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, layanan semua rumah sakit darurat di Aleppo timur terhenti. Sejumlah laporan lain menunjukkan beberapa fasilitas medis masih berfungsi, namun penduduk terlalu takut untuk memakainya.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Susan Rice mengatakan, Amerika Serikat (AS) mengutuk serangan udara yang begitu kejam dan menyerukan Rusia mengambil langkah-langkah untuk menghentikan kekerasan.

"AS kembali bergabung dengan mitra kami dalam menuntut penghentian pengeboman, dan menyerukan Rusia segera mengurangi kekerasan dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan dan akses bagi rakyat Suriah," tambahnya seperti disitir IB Times.

Menurut Pertahanan Sipil Suriah atau White Helmets, setidaknya 61 warga sipil tewas dalam puluhan serangan udara, bom barel, dan artileri, di Aleppo Timur. Serangan itu dipimpin pemerintah Suriah sejak Selasa 15 November, setelah sempat ada jeda selama tiga pekan. Serangan darat diduga diluncurkan ke posisi militan pada Jumat 18 November.

"Ini penghancuran atas infrastruktur penting bagi mereka yang hidup dalam kepungan, orang-orang tak berdosa, termasuk anak-anak serta lanjut usia, tanpa fasilitas kesehatan yang menawarkan pengobatan untuk menyelamatkan jiwa, membiarkan mereka meninggal," kata pihak direktorat kesehatan Aleppo dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita Reuters.

Menurut PBB, sedikitnya 700 warga sipil tewas di Aleppo Timur dalam serangan udara. Sementara serangan roket di bagian barat Aleppo menewaskan puluhan orang pada akhir Oktober. Aleppo, bekas pusat perdagangan Suriah, telah terbelah dua, dikuasai pemberontak di timur dan rezim mengendalikan sebelah baratnya, sejak 2012.


(SCI)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

1 day Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA