Pesawat Arab Saudi Ditembak Jatuh Pemberontak di Yaman

Arpan Rahman    •    Senin, 08 Jan 2018 20:00 WIB
konflik yaman
Pesawat Arab Saudi Ditembak Jatuh Pemberontak di Yaman
Pesawat jet tempur F-15 milik Arab Saudi. (Foto: AFP/FAYEZ NURELDINE)

Sanaa: Sebuah pesawat tempur Arab Saudi telah jatuh di Yaman. Pesawat yang diyakini sebagai jenis Tornado buatan Inggris, jatuh di provinsi Saada, Minggu 7 Januari 2018.

Pemberontak Houthi menyampaikan lewat saluran televisi al-Massirah bahwa mereka telah menembak pesawat itu.

Namun kantor berita Saudi Press Agency atau SPA melaporkan bahwa jet tempur tersebut mengalami "kesalahan teknis" di tengah operasi militer. 

Riyadh mengatakan sebuah operasi khusus dilakukan guna mengevakuasi dua pilot tersebut yang masih hidup dalam kecelakaan tersebut.

Seorang juru bicara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi mengatakan: "Komando Pasukan Koalisi Arab Saudi menerapkan sebuah operasi bersama untuk mengevakuasi dua pilot dengan partisipasi pasukan udara dan darat, di mana kedua pilot tersebut dievakuasi ke wilayah-wilayah Kerajaan," seperti dilansir Express, Minggu 7 Januari 2018.

Jika klaim Houthi benar, insiden ini akan menjadi eskalasi lain dalam konflik yang sedang berlangsung di Yaman. Sabtu 6 Januari, pemberontak menembakkan sebuah rudal balistik ke sebuah pangkalan militer Arab Saudi di perbatasan.

Kejadian itu menyusul ditembakkannya rudal ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Serangan pada 4 November itu membuat pasukan Arab Saudi meningkatkan blokade di Yaman.

Arab Saudi menuduh Iran memasok rudal ke pemberontak Houthi. Teheran membantah tegas tuduhan tersebut. Riyadh terlibat dalam konflik Yaman pada Maret 2015.

Houthi beraksi di sejumlah wilayah di Yaman sejak 2014. Mereka membuat Presiden AbedRabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional melarikan diri ke Arab Saudi.

Konflik tersebut secara luas dilihat sebagai perang antara dua seteru regional, Arab Saudi dan Iran. Konflik ini telah membuat dua juta warga Yaman kehilangan tempat tinggal, memicu wabah kolera, dan mendorong negara tersebut ke jurang kelaparan. Sedikitnya 10.000 orang terbunuh dalam konflik tersebut.


(WIL)