Diteror ISIS, Anak-Anak Mosul Hidup Menderita di Tengah Kegelapan

Arpan Rahman    •    Selasa, 11 Jul 2017 13:20 WIB
isis
Diteror ISIS, Anak-Anak Mosul Hidup Menderita di Tengah Kegelapan
Anak-anak beristirahat dalam pelarian dari Kota Tua Mosul, Irak, 5 Juli 2017. (Foto: AFP/AHMAD AL-RUBAYE)

Metrotvnews.com, Mosul: Anak-anak "hidup seperti tikus dalam kegelapan" selama tiga tahun berkuasanya kelompok militan Islamic State (ISIS) di Mosul. Demikian pengakuan seorang relawan, seperti dikutip Evening Standard, Senin 10 Juli 2017.

Sally Becker, dari badan amal Road to Peace, baru saja kembali dari kota Mosul yang telah berhasil dikuasai kembali oleh pasukan Irak.

Dia mengatakan kondisi anak-anak di Mosul adalah "hal terburuk yang saya lihat." Ia menambahkan: "Ada penembak jitu, pengebom bunuh diri, mortir, serangan kimia, pesawat tak berawak. Orang-orang menderita kekurangan gizi, dehidrasi, airnya tidak sehat."

"Tidak ada susu formula untuk bayi. Orang-orang trauma, bahkan anak-anak -- hanya mimpi buruk yang lengkap dan menyeluruh," lanjut dia. 

Selama ini, Road to Peace membantu anak-anak di zona perang untuk mendapatkan perawatan medis.

"Mereka hidup dalam kegelapan seperti tikus, sehingga banyak yang menderita rakhitis karena kekurangan vitamin D, dan mereka sangat kurus," kata Becker.

Lorong-lorong Mosul hancur setelah pertempuran untuk mengalahkan militan ISIS, yang merebut kota tersebut pada Juni 2014. 

Kemarin, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi berjalan kaki di Mosul untuk memberikan ucapan selamat kepada tentara, pejuang Kurdi dan Sunni serta milisi Syiah, yang didukung Inggris dan Amerika Serikat (AS). 

Serangan udara mewarnai "kemenangan" mereka sesudah hampir sembilan bulan pertempuran merebut kembali Mosul. 

Ribuan warga sipil dikhawatirkan telah meninggal dunia dalam pertempuran di Mosul. Hampir satu juta orang diyakini sudah meninggalkan rumah mereka di sana.

Menteri Pertahanan Inggris Sir Michael Fallon mengatakan RAF (Angkatan Udara Inggris) akan terus menghantam ekstremis, yang kini fokusnya beralih ke Raqqa, markas besar ISIS di Suriah.

AS, Rusia, dan Yordania mengumumkan gencatan senjata dan "kesepakatan penurunan ketegangan" di Suriah bagian barat daya pada Jumat 7 Juli, setelah berakhirnya KTT G20 di Hamburg.

 


(WIL)