PM Israel Ancam Usir Al-Jazeera dari Yerusalem

Fajar Nugraha    •    Kamis, 27 Jul 2017 09:31 WIB
palestina israel
PM Israel Ancam Usir Al-Jazeera dari Yerusalem
Warga Palestina salat di sekitar komplek Masjid Al-Aqsa dijaga pasukan Israel (Foto: Guardian).

Metrotvnews.com, Yerusalem: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan ancaman untuk mengusir stasiun berita Al-Jazeera dari Yerusalem.
 
Netanyahu mengatakan bahwa pihaknya tengah membahas masalah penutupan ini dengan pihak terkait di pemerintahannya. Dia menuduh televisi asal Qatar itu telah memicu kekerasan di Yerusalem.
 
Sejak pekan lalu, Yerusalem dalam kondisi tegang setelah terjadi protes warga Palestina menentang pembatasan akses masuk ke Masjid Al-Aqsa. Protes dengan melakukan salat Jumat di luar Masjid Al-Aqsa berujung pada bentrokan dengan polisi Israel yang hingga kini menyebabkan delapan orang tewas.
 
Kejadian bentrokan itu mendapatkan perhatian khusus dari media internasional, termasuk Al-Jazeera.
 
"Jaringan Al-Jazeera terus memicu kekerasan di Temple Mount (sebutan Israel untuk kompleks Masjid Al-Aqsa)," tulis Netanyahu dalam akun Facebooknya, seperti dikutip Guardian, Kamis 27 Juli 2017.
 
"Saya sudah berbicara beberapa kali kepada pihak berwenang mengenai permintaan untuk menutup kantor Al-Jazeera di Yerusalem," imbuhnya.
 
Al-Jazeera sendiri tidak menanggapi ancaman dari Netanyahu. Namun ancaman penutupan terhadap Al-Jazeera bukan pertama kalinya terjadi.
 
Pada 2014, Al-Jazeera menghadapi sensor ketat di Mesir pada 2014. Mesir saat itu memenjarakan tiga karyawan Al-Jazeera selama tujuh tahun dan menutup kantornya di Kairo. Dua dari karyawan Al-Jazeera itu sudah dibebaskan tetapi seorang lainnya masih ditahan.
 
Kamera CCTV di Al-Aqsa
 
Protes pada pekan lalu di sekitar Al-Aqsa dipicu pula karena pemasangan pemindai logam di pintu masuk masjid tersebut. Meskipun pemindai sudah dibuka, masih ada kamera CCTV yang beroperasi.
 
 
Pencopotan detektor logam di Masjid Al-Aqsa oleh Israel, tidak serta merta membuat rakyat Palestina tenang. Sebelum detektor logam dicopot, Israel menambahkan pemasangan kamera pengintai atau CCTV.
 
Para ahli dan pengamat mengatakan, pemasangan kamera pengintai merupakan ancaman yang lebih besar untuk warga Palestina.
 
Analis politik Timur Tengah Khalil Shaheen menegaskan, kamera-kamera ini dapat mendeteksi wajah dan identitas, ini berarti bahwa Israel mengontrol penuh atas wilayah al-Haram al-Sharif. Peran Yordania sebagai 'penjaga' Palestina telah disingkirkan.
 
RI kecam Israel di DK PBB
 
Delegasi Indonesia menyuarakan kecaman atas tindakan Israel di komplek Masjid Al-Aqsa. Kecaman disampaikan langsung dalam debat terbuka dengan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
 
 
Menurut Indonesia, usaha untuk memerdekakan Palestina dari pendudukan Israel sudah berjalan selama 50 tahun. Kini masyarakat internasional sudah sepatutnya tidak menunggu 50 tahun lagi demi kemerdekaan Palestina.
 
Delegasi Indonesia lebih lanjut mengutuk tindakan kekerasan dan pelanggaran HAM aparat keamanan Israel terhadap jamaah Palestina, yang telah menimbulkan korban jiwa dan lebih dari seratus luka-luka. 
 
Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Dubes Triansyah Djani, di hadapan anggota DK PBB turut mengecam pembatasan akses beribadah di Masjid Al-Aqsa dan menegaskan bahwa pembatasan beribadah di Masjid Al-Aqsa adalah tindakan provokatif yang mengancam seluruh proses perdamaian Palestina-Israel, serta pelanggaran atas hak kebebasan beragama masyarakat Palestina. 
 
Lebih lanjut Dubes Triansyah Djani menegaskan bahwa Israel harus pertahankan status quo terhadap status Yerusalem dan kompleks Masjid Al-Aqsa. Dalam kaitan ini, Indonesia mengusulkan agar masyarakat internasional jadikan kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah perlindungan internasional guna pastikan agar masyarakat Palestina terjamin dapat menjalankan ibadah secara aman.

 

 
(FJR)