Lebanon Gelar Pemilu Perdana Sejak Hampir Satu Dekade

Willy Haryono    •    Minggu, 06 May 2018 13:22 WIB
konflik lebanon
Lebanon Gelar Pemilu Perdana Sejak Hampir Satu Dekade
Petugas mengangkut kertas suara untuk pemilu Lebanon. (Foto: AFP)

Beirut: Tempat pemungutan suara telah dibukan di seantero Lebanon dalam pemilihan umum parlemen perdana sejak hampir satu dekade silam, Sabtu 5 Mei 2018. Pemilu terakhir di Lebanon terjadi pada 2009. 

Pemilu di Lebanon seharusnya digelar tiap empat tahun sekali. Namun parlemen melipatgandakan masa kepemimpinan karena imbas dari ketidakstabilan di Suriah, dan untuk mereformasi aturan elektoral Lebanon. 

Sistem pemilu di Lebanon kini diubah, dengan mengurangi jumlah distrik dan mengizinkan ekspatriat untuk ikut serta untuk kali pertama. 

Hizbullah, grup bersenjata yang dianggap kelompok teroris oleh Amerika Serikat dan negara lain, berusaha meningkatkan representasi mereka di parlemen Lebanon. Pemilu kali ini memperebutkan total 128 kursi.

Seperti dikutip BBC, hasil resmi pemilu baru akan muncul sekitar Senin atau selasa mendatang. Namun sejumlah analis memprediksi hasil penghitungan cepat dapat muncul pada Minggu malam. 

Puluhan ribu warga Lebanon yang tinggal di luar negeri sudah menggunakan hak suara mereka pekan ini. Mereka diperbolehkan memilih lewat perubahan sistem elektoral. 

Lebanon memiliki sejarah perpecahan politik antar denominasi agama di parlemen. Jumlah kursi di parlemen dibagi antara kubu Kristen dan Muslim. 

Presiden, perdana menteri dan kepala parlemen juga harus diambil dari masing-masing latar belakang agama. 

PM Lebanon saat ini, Saad al-Hariri, memicu krisis politik pada November saat melarikan diri ke Arab Saudi. Ia mengumumkan mengundurkan diri dengan alasan khawatir atas usaha percobaan pembunuhan terhadap dirinya.

Dua pekan kemudian, dia membekukan pengunduran dirinya usai berbicara dengan Presiden Michel Aoun di Lebanon. Pada Desember, ia membatalkan pengunduran dirinya. 


(WIL)