Wayang Keroncong Asal Bandung Menyabet Penghargaan di Moskow

Riyan Ferdianto    •    Sabtu, 11 Nov 2017 04:58 WIB
pementasan wayang
Wayang Keroncong Asal Bandung Menyabet Penghargaan di Moskow
Ilustrasi sejumlah pelajar mengikuti workshop Wayang Tavip buatan seniman M. Tavip dalam acara workshop dan pertunjukkan "Wayang Keroncong Behind The Actors" di Bale Rumawat Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/4). ANTARA FOTO/Agus Bebe

Metrotvnews.com, Moskow: Wayang keroncong dari kelompok teater asal Bandung Behind The Actors mendapatkan penghargaan the Best Puppet Maker dalam ajang Red Mood Festival yang berlangsung di Moskow, Rusia, baru-baru ini.

Sekretaris Pertama Palaksana Fungsi Penerangan Sosial dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moskow, Enjay Diana mengatakan, pengahargaan diberikan karena wayang keroncong dinilai sangat unik dan menarik.

Sementara itu Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus M. Wahid Supriyadi menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kiprah Behind The Actors yang secara tidak langsung turut memerankan diplomasi budaya Indonesia di Rusia.

Keunikan dan keragaman budaya Indonesia sangat digemari masyarakat Rusia, seperti wayang golek dan wayang kulit yang dipentaskan di Festival Indonesia. Wahid mengatakan, masyarakat Rusia pada dasarnya menyukai karya-karya klasik seperti wayang.

Red Mood Festival merupakan festival boneka internasional yang berlangsung selama empat tahun berturut-turut. Sejumlah negara pernah ambil bagian dalam festival yang diadakan di Red Theatre, di pinggiran kota Moskow di antaranya Belarus, Belgia, Yunani, Pranci, dan Georgia.

Pertunjukkan wayang keroncong berupa permainan wayang golek dengan iringan musik keroncong yang kali ini membawakan lakon matinya Kumbakarna (Kumbakarna Pejah) tampak menghibur penonton, termasuk anak-anak yang memenuhi gedung pertunjukan.

Wayang golek yang dimainkan oleh dalang Atjep Hidayat, didukung Asep Budiman sebagai sutradara atau aktor, Hendra Permana sebagai manajer atau aktor dan Syarif Maulana sebagai penata musik menarik perhatian penonton.

Uniknya, semua anggota juri adalah murid Sekolah Teater yang juga mewawancarai para artis pertunjukkan.

"Kita kagum anak-anak itu cukup profesional dan sangat obyektif," kata Syarif Maulana, yang juga dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ( ITB).

Setelah pertunjukkan selesai, tidak sedikit penonton, khususnya anak-anak yang mengerubungi Behind The Actors untuk memegang wayang golek, mencoba memainkannya dan bahkan berfoto bersama. Ada juga yang mengajukan berbagai pertanyaan mengenai wayang golek, cara pembuatannya, hingga memainkannya.

Selain Behind The Actors, Red Mood Festival yang keempat ini diikuti juga berbagai kelompok teater, yaitu Sacvoyage, Trilika, dan Hello! dari Rusia dan The Home of The Sun dari Belarus. Sebelumnya, Behind The Actors sudah pernah mengikuti berbagai festival di Taiwan, Vietnam, Turki, dan Swedia. (Antara)


(DEN)