Irak Setelah Saddam Hussein, Sebuah Harapan Menguap

Fajar Nugraha    •    Jumat, 06 Apr 2018 17:17 WIB
konflik irakSaddam Hussein
Irak Setelah Saddam Hussein, Sebuah Harapan Menguap
Patung Saddam Hussein di pusat Kota Baghdad, Irak dirobohkan saat pasukan AS lakukan invasi (Foto: AFP).

Baghdad: Kejatuhan Saddam Hussein menandakan akhirnya sebuah era pemerintahan tangan besi di Irak. 9 April 2003 warga Irak menyaksikan patung Saddam Hussein dirobohkan di Baghdad.
 
15 tahun lalu, Abu Ali kegirangan melihat pasukan Amerika Serikat masuk ke Baghdad. "Sang Tiran habis sudah," Ali mengingat saat itu, sambil membayangkan masa depan cerah bagi Irak tanpa ada campur tangan Saddam Hussein.
 
Tetap tahun-tahun berikutnya yang terjadi hanyalah penderitan. Sambil melihat foto ketiga putranya yang tewas dalam beragam aksi kekerasan di Irak, Ali merasakan sedih yang mendalam.
 
Usai kejatuhan Saddam, Irak dipenuhi dengan kekerasan sektarian dan serangan kelompok militan yang memisahkan keluarga dengan membunuh puluhan ribu jiwa.
 
Pada Juli 2007, putra tertua Ali yang saat itu berusia 18 tahun tewas saat sebuah bom mobil menghantam jalanan yang ramai penduduk di Karrada, Baghdad. Ketika ledakan, putra Ali sedang berjualan semangka.
 
Enam tahun kemudian hampir di waktu yang sama, dua putra Ali yang lain yakni, Alaa (23) dan Abbas (17) tewas dalam sebuah serangan. Kehilangan putra tercinta tampak jelas di wajahnya yang menua di usia 61 tahun.
 
Sejak dahulu, Abu Ali bermimpi bahwa anak-anaknya bisa mendapatkan masa depan cerah dibanding dirinya.
 
"Pada akhirnya saya selalu mendatangi makam mereka setiap minggu. Saya merasa duduk berada di dekat kami," tutur Abu Ali, seperti dikutip AFP, Jumat 6 April 2018.
 
Baghdad jatuh saat patung Saddam roboh
 
Kini Abu Ali harapan akan masa depan yang lebih cerah sudah memudar.
 
"Situasi saat ini tidak membaik. Tak ada yang memikirkan rakyat," ujarnya. "Tiap partai terus berusaha memenangkan kursi (parlemen)."
 
Pendapat senada juga diutarakan oleh Qais al-Shaera, seorang penata rambut di Baghdad.
 
"Saddam Hussein adalah orang yang kuat. Sosok yang mengendalikan semua dan menakuti dunia dengan senjata kimianya," ucap Al-Shaera.
 
Setiap pagi ketika membuka salonnya di alun-alun Al-Ferdous di jantung kota Baghdad, berdiri tegak patung dari Saddam Hussein. Keadaan berubah ketika 9 April 2003,-Sharea yang berada di rumah menonton tevelisi dan melihat pasukan AS menarik patung perunggu yang berada di depan salonnya hingga jatuh.
 
"Saat itu, Baghdad jatuh ketika patung itu juga jatuh," tegas Sharea.
 
Sharea yang saat itu berusia 27 tahun mengira bahwa Baghdad akan dipenuhi dengan klub malam dan restoran. "Kami mengira akan bepergian ke seluruh dunia," jelasnya.
 
"Tetapi bukan perkembangan dan keterbukaan kepada dunia, kehidupan di Irak justru mundur lima langkah," pungkas Sharea.
 
Lain lagi pendapat politisi Kurdi berusia 65 tahun, Mahmoud Othman. Sosok yang menjadi anggota transisi kepemimpinan setelah kejatuhan Saddam, memimpikan masa depan yang lebih baik.
 
"Amerika memiliki rencana untuk menjatuhkan Saddam Hussein, tetapi mereka tidak memiliki agenda apapun setelah kejatuhan Saddam," tukas Othman.
 
Jerat korupsi dan kekerasan sektarian
 
Ketika Saddam Hussein jatuh Partai Baath yang sebelumnya berkuasa, dilucuti hingga habis terutama ketika tokoh oposisi kembali dari pengasingannya.
 
Tetapi korupsi dan ketegangan sektarian merebak. Hal ini makin subur setelah dipicu oleh milis yang muncul dari kevakuman keamanan karena pelucutan pihak keamanan yang dianggap setia kepada Saddam.
 
"Kami mengira akan memiliki sitem politik yang demokratis dan federal. Tetapi pada kenyataannya yang kami miliki saat ini adalah sektarisme dan chauvinisme," jelas Ketua Partai Goran, Raud Maaruf yang merupakan oposisi Kurdi.
 
Sementara kelompok etnis dan agama yang menjadi minoritas di Irak mengatakan sudah membayar mahal atas kekacauan yang terjadi selama lebih dari satu dekade terakhir ini.
 
Menurut tokoh pemimpin Katolik Kaldean, Louis Raphael Sako, dirinya melihat langsung jumat komunitasnya berkurang.
 
Bagi akademisi, Abdel Salam al-Samer setiap institusi di Negeri Seribu Satu Malam ini terpengaruh dengan kondisi yang ada. Samer menjadi saksi di mana faksi politik dan koleganya yang dibunuh oleh milisi.


(FJR)