Erdogan Kembali Ancam Hancurkan Pasukan Kurdi Suriah

Arpan Rahman    •    Rabu, 07 Nov 2018 20:06 WIB
krisis suriahturkikurdi
Erdogan Kembali Ancam Hancurkan Pasukan Kurdi Suriah
Pasukan AS dan Kurdi Suriah dari aliansi SDF berpatroli di Al-Darbasiyah, Suriah, yang berada dekat dengan perbatasan Turki. (Foto: AFP/File / Delil SOULEIMAN)

Ankara: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperbarui ancamannya untuk menghancurkan pasukan Kurdi Suriah. Kali ini, ia bertekad menghancurkan pasukan Kurdi di Suriah bagian timur laut, tempat di mana pasukan Amerika Serikat juga bersiaga.

Serangan artileri Turki telah mengenai beberapa posisi dari Unit Perlindungan Rakyat Kurdi atau YPG. Ankara mengingatkan operasi militer ini bertujuan membersihkan milisi Kurdi dari perbatasan Turki.

Baca: Abaikan Peringatan AS, Turki Serang Kurdi di Suriah

Sementara AS berusaha mengendalikan ketegangan antara Turki dengan YPG. Turki memandang YPG sebagai grup "teroris," sementara AS menilainya sebagai mitra kunci dalam memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS) di Suriah.

Sejumlah analis menilai operasi militer Turki terhadap Kurdi di Suriah, terutama di wilayah timur Sungai Efrat, adalah percobaan yang dilakukan Erdogan untuk melihat respons AS.

"Dia mencoba melihat seberapa jauh Turki bisa melakukan aksi militer di wilayah Efrat sebelum nantinya AS merespons negatif," ucap Nicholas Heras, seorang analis dari Pusat Keamanan Amerika Baru, seperti dilansir dari kantor berita AFP, Rabu 7 November 2018.

Sejak 2016, Turki telah melancarkan dua operasi terhadap pasukan Kurdi di Suriah. Operasi kedua berujung pada kemenangan pemberontak yang didukung Turki, yang berhasil merebut kota Afrin pada Maret lalu.

YPG selama ini memimpin aliansi Kurdi-Arab, dengan didukung koalisi AS, dalam mendorong ISIS dan kelompok militan lainnya di Suriah timur laut. Aliansi tersebut dinamakan Pasukan Demokratik Suriah atau SDF.

Saat ini SDF masih terus memerangi ISIS di wilayah ujung Suriah timur yang berbatasan dengan Irak. ISIS masih bertahan meski jumlah wilayahnya di Suriah dan Irak sudah berkurang drastis sejak mendeklarasikan kekhilafahan pada 2014.


(WIL)