Turki Ingin Jadi Mediator Krisis Rusia-Ukraina

Fajar Nugraha    •    Kamis, 29 Nov 2018 15:57 WIB
turkiRusia-Ukraina
Turki Ingin Jadi Mediator Krisis Rusia-Ukraina
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) bersama Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: AFP).

Ankara: Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan,Turki dapat memainkan peran mediasi untuk meredakan ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Ditahannya tiga kapal Ukraina memicu krisis baru antara kedua negara.

Baca juga: Putin Bela Penyitaan atas Kapal Ukraina.

Hubungan Ankara yang kerap kali rapuh dengan Moskow telah berkembang sejak pertengahan 2016 dalam suatu pendekatan yang kadang-kadang meresahkan Barat. Turki bekerja sama dengan Rusia dalam konflik Suriah dan juga membeli sistem pertahanan udara Rusia yang canggih.

Tapi Erdogan selalu berusaha untuk menekankan pentingnya hubungan tradisional Turki yang kuat dengan Ukraina, bahkan ketika Kiev dan Moskow tetap berselisih.

"Di sini kami dapat mengambil peran mediator dan kami telah mendiskusikan ini dengan kedua pihak," kata Erdogan kepada wartawan di bandara Istanbul sebelum menuju KTT G20 di Argentina.

Komentarnya muncul setelah diplomasi telepon yang intens pada Rabu antara Erdogan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan mitranya, Presiden Ukraina Petro Poroshenko. Erdogan juga berbicara dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Baik Putin dan Poroshenko dalam pembicaraan kami membuat permintaan. Kami akan menyampaikan tuntutan (Ukraina) kepada Putin dalam pertemuan kami di Argentina," tambah Erdogan, seperti dikutip AFP, Kamis, 29 November 2018.

Turki ingin tidak melihat eskalasi lebih lanjut dalam konflik antara negara-negara pesisir Laut Hitam yang bisa membawa ketidakstabilan lebih lanjut ke wilayah tersebut.

Moskow dan Kiev terus bergantian melontarkan kecaman saat kapal Angkatan Laut Rusia menembaki, menaiki dan menangkap tiga kapal Ukraina di lepas pantai Krimea. Presiden Ukraina Petro Poroshenko bahkan memperingatkan ancaman perang skala penuh dengan Rusia.  Pada Rabu 28 November, Porshenko menandatangani pemberlakukan darurat militer selama 30 hari di wilayah yang berbatasan dengan Rusia, Laut Hitam dan Laut Azov.

Kiev telah menuntut kembalinya kapal-kapalnya dan pelepasan 24 pelaut yang ditahan selama konfrontasi. Ketegangan antara Kiev dan Moskow tumpah ke dalam konfrontasi ketika protes pro-Uni Eropa di Ukraina menyebabkan tersingkirnya presiden pro-Moskow Viktor Yanukovych pada tahun 2014. Rusia dituduh mencaplok Krimea sementara separatis pro-Moskow merebut bagian-bagian wilayah Donetsk dan Lugansk di timur Ukraina.


(FJR)