Anak-anak di Kota Raqqa Alami Trauma Berat akibat Perang

Arpan Rahman    •    Senin, 28 Aug 2017 18:36 WIB
isis
Anak-anak di Kota Raqqa Alami Trauma Berat akibat Perang
Anak-anak bermain di Karm al-Jabal, Aleppo, Suriah, 10 Maret 2017. (Foto: AFP/JOSEPH EID)

Metrotvnews.com, Raqqa: Banyak remaja Suriah menderita luka psikologis akibat perang, yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa sembuh. Demikian peringatan organisasi Save the Children, seperti dilansir Sky News, Senin 28 Agustus 2017.

Pendidikan dan waktu bermain untuk anak-anak telah sirna di kota Raqqa yang dilanda perang. Di sana, anak-anak berusia 13 tahun mengatakan bahwa bom yang jatuh dan tubuh-tubuh terpenggal menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.

Ruang yang diperlukan bagi pengalaman masa kecil telah berubah jadi tempat pembuangan mayat yang dipenggal di Raqqa, di bawah rezim kelompok militan Islamic State (ISIS).

Raasida (bukan nama sebenarnya) berkata: "Suatu hari ISIS memancung orang dan meninggalkan tubuh mereka di tanah."

"Kami melihat itu, dan saya tidak bisa melupakannya," cetusnya. "Saya ingin tidur tapi tidak bisa, karena mengingat apa yang saya lihat."

Farida (juga bukan nama sebenarnya), dan sama-sama berumur 13 tahun, menjelaskan: "Jika seorang wanita melakukan kesalahan, mereka akan melempari dia dengan batu. Dan mereka terus melempari dia dengan batu sampai dia meninggal. Dan mereka memotong tangan, memotong kepala, dan juga kaki. Mereka memotong semuanya."

Dia menambahkan: "Jika seseorang merokok, jari tangan yang biasa dia pakai memegang rokok akan dipotong. Ada seseorang, saya tidak tahu apa yang dia katakan, tapi mereka menjahit mulutnya. Dia mengatakan sesuatu tentang ISIS dan mereka menjahit mulutnya. Dan saat mereka mencambuknya, darah keluar dari mulutnya."

Sejumlah keluarga menghadapi pilihan mustahil: mencoba bertahan di tengah pertempuran di medan perang atau mengambil risiko untuk melarikan diri dari jeratan ISIS.


Sebuah keluarga Suriah di kamp pengungsian. (Foto: Save the Children)

Trauma Berat

Sonia Khush, direktur Save the Children di Amman, mengatakan: "Anak-anak telah melarikan diri dari Raqqa selama beberapa bulan, dan kami memperhatikan bahwa mereka benar-benar menunjukkan tanda-tanda stres dan trauma berat."

"Inilah jenis stres yang terbentuk selama berbulan-bulan, akibat terpapar kekerasan, serangan granat, pengeboman, dan tinggal di tengah pengepungan," bubuhnya.

Save the Children mengatakan 90 persen anak-anak di Raqqa telah kehilangan anggota keluarga mereka, baik akibat kematian atau terpisah di tengah pertempuran.

Trauma ini, katanya, akan menghantui mereka selama bertahun-tahun. 

Sebagian besar dari 300 ribu warga Raqqa telah melarikan diri. Diperkirakan antara 18.000 dan 25.000 sisanya, hampir setengah dari mereka, adalah anak-anak.

 


(WIL)