Jadi Mata-mata Iran, Mantan Menteri Israel Dibui

Arpan Rahman    •    Kamis, 10 Jan 2019 10:58 WIB
iranisrael
Jadi Mata-mata Iran, Mantan Menteri Israel Dibui
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Tel Aviv: Mantan menteri Israel akan menghabiskan 11 tahun penjara setelah mengaku menjadi mata-mata untuk Iran. Gonan Segev mengakui tuduhan melakukan spionase dan memberikan informasi kepada pihak musuh.

Segev menjabat sebagai menteri energi di bawah mantan perdana menteri Yitzhak Rabin pada pertengahan 1990-an. Ia sebelumnya dipenjara karena mencoba menyelundupkan narkotika ekstasi ke negara itu.

Dia diekstradisi dari Guyana Khatulistiwa dan ditangkap di Israel Mei lalu dengan tuduhan bertindak sebagai agen intelijen Iran. Dalam aksinya, dia memberi informasi tentang "pasar energi dan situs keamanan di Israel".

Shin Bet, dinas keamanan Israel, awalnya mengatakan Segev telah bertemu dengan operatornya dua kali di Iran dan dengan agen Iran di hotel dan apartemen di berbagai penjuru dunia.

Sebuah perintah mendadak dikeluarkan atas sebagian besar detail tersebut. Tetapi Menteri Kehakiman Israel mengatakan hukuman 11 tahun telah disepakati.

Israel menganggap Iran sebagai ancaman terbesar, seraya menyebut seruan Iran untuk penghancuran Israel, dukungannya bagi sejumlah kelompok seperti Hizbullah dan pengembangan rudal jarak jauh.

Israel sudah melakukan beragam serangan udara terhadap pasukan Iran di Suriah baru-baru ini. Pada Agustus, menteri intelijen Iran mengungkapkan di televisi pemerintah tentang direkrutnya seorang mantan pejabat tingkat kabinet dari negara ‘seteru’, tetapi tidak menyebut Israel atau Segev.

Tim pengacara Segev mengatakan mereka tidak bisa membahas semua detail kasus itu, tetapi termasuk dalam kesepakatan pembelaannya adalah penghapusan tuduhan pengkhianatan.

"Memang, Segev memiliki kontak dengan Iran tetapi motifnya bukan untuk 'membantu musuh selama perang'," mereka menambahkan, seperti dikutip dari laman Sky News, Rabu 9 Januari 2019. 

Segev ditangkap pada 2004 karena berusaha menyelundupkan 32.000 tablet ekstasi dari Belanda ke Israel menggunakan paspor diplomatik yang sudah kadaluwarsa.

Dia juga dulunya seorang dokter dan dicabut izin medisnya. Dia dibebaskan dari penjara di Israel pada 2007 dan tinggal di Afrika baru-baru ini.


(FJR)