Pasukan Israel Tembak Mati Terduga Militan Palestina

Arpan Rahman    •    Minggu, 16 Jul 2017 16:53 WIB
israel palestina
Pasukan Israel Tembak Mati Terduga Militan Palestina
Seorang pendemo menggunakan ketapel untuk menyerang pasukan Israel di Tepi Barat, Jumat 14 Juli 2017. (Foto: Anadolu Agency)

Metrotvnews.com, Tel Aviv: Pasukan Israel menembak mati seorang terduga militan asal Palestina yang menembaki mereka di kawasan Tepi Barat. 

Juru bicara kepolisian Micky Rosenfeld mengatakan orang diduga telah melakukan dua serangan di Tepi Barat pada Sabtu 15 Juli 2017. Ia menembaki tentara dan polisi yang telah melacak keberadaannya..

"Teroris ditemukan dan dikepung, dia mengarahkan senjatanya ke arah mereka, dan sebagai respons, dia ditembak," kata Rosenfeld, seperti disitir The Guardian dari Reuters, Minggu 16 Juli 2017.

Tidak ada komentar langsung dari pejabat Palestina mengenai insiden ini.

Insiden terjadi sebelum fajar di desa Nabi Saleh, Tepi Barat, dekat kota Ramallah. Tidak ada korban dari pihak Israel dalam penembakan ini.

Gelombang kekerasan yang melibatkan warga Palestina sejak 2015 telah menurun, tapi belum berhenti sepenuhnya. Sedikitnya 260 warga Palestina dan satu warga Yordania terbunuh sejak kekerasan dimulai.

Israel mengatakan setidaknya 175 dari mereka terbunuh saat melakukan serangan, sementara yang lain tewas dalam bentrokan dan demonstrasi.

Empat puluh orang Israel, dua wisatawan asal Amerika Serikat (AS), dan seorang mahasiswa Inggris tewas dalam insiden penikaman, penembakan dan penabrakkan mobil oleh warga Palestina. Beberapa serangan juga telah dilakukan oleh warga Arab Israel.

Jumat 14 Juli, dua polisi Israel ditembak mati tiga orang bersenjata keturunan Arab Israel di pinggiran salah satu area di Yerusalem, yang dikenal sebagai Tempat Suci bagi umat Islam dan juga Yahudi. Ketiga pria itu semuanya ditembak mati polisi.

Israel menyalahkan gelombang kekerasan terjadi karena hasutan dari pimpinan Palestina. Otoritas Palestina -- yang menjalankan pemerintahan di Tepi Barat -- mengatakan bahwa keputusasaan warga Palestina selama 50 tahun pendudukan Israel adalah penyebabnya.


(WIL)