Petani Kulit Putih Zimbabwe Lihat Peluang Usai Mugabe Lengser

Arpan Rahman    •    Jumat, 01 Dec 2017 17:53 WIB
zimbabwe
Petani Kulit Putih Zimbabwe Lihat Peluang Usai Mugabe Lengser
Robert Mugabe lengser dari jabatan Presiden Zimbabwe pada 21 November lalu (Foto: AFP).

Harare: Berdiri di luar gerbang rumah pertanian dari mana dia diusir pada 2008, Deon Theron warga kulit putih Zimbabwe tahu bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan tanahnya kembali.
 
Tapi dia yakin bahwa jatuhnya Robert Mugabe sesudah hampir 40 tahun berkuasa dapat menyebabkan pemerintah baru mendorong petani kulit putih untuk berperan dalam menghidupkan kembali sektor pertanian utama negara ini.
 
Ribuan petani kulit putih dipaksa keluar dari tanah mereka oleh massa yang didukung Mugabe. Atau diusir dalam putusan pengadilan yang meragukan, yang konon membantu orang kulit hitam terpinggirkan di bawah pemerintahan kolonial Inggris.
 
Namun, peternakan tersebut sering dialokasikan untuk sekutu Mugabe dan jatuh ke dalam kehancuran. Menyebabkan puluhan ribu pekerja pedesaan keluar dari pekerjaan dan mengirim ekonomi ke dalam kekacauan saat produksi pangan jatuh.
 
"Saya diusir setelah intimidasi, kekerasan, dan kasus pengadilan," kata Theron, 63, yang sekarang mengelola wisma di ibu kota Harare dan bisnis pengolahan susu.
 
"Saya tidak mengharapkan tanah saya dikembalikan, tapi menurut saya pemerintah akan mencari orang-orang yang memiliki keahlian di peternakan -- dan itu berarti para pemuda yang berasal dari keluarga yang diusir," cetusnya seperti disitat News24, Jumat 1 Desember 2017.
 
Beberapa hari setelah jatuhnya Mugabe pada 21 November, Theron kembali ke Zanka, ladang seluas 400 hektar, yang dia beli pada 1984. Di sana, dia membangun rumahnya sendiri dan tinggal selama 24 tahun bersama istrinya, membesarkan tiga anak.
 
Blokir dari kenangan
 
"Itu diberikan kepada pejabat tinggi di bank perkreditan," katanya, melihat lewat pagar kawat yang terkunci di rumah itu, di Beatrice, provinsi Mashonaland Timur, dua jam di sebelah selatan Harare.
 
"Saya memblokir banyak kenangan, dan telah mencoba untuk melanjutkan," tambahnya, hampir menangis saat mengingat bagaimana mandornya dipukuli sampai mati pada 2005, tampaknya saat berada dalam tahanan polisi selama pengusiran.
 
Presiden Emmerson Mnangagwa, yang berkuasa pekan lalu, setelah militer memaksa Mugabe mengundurkan diri, adalah seorang veteran garis keras dari partai Zanu-PF yang berkuasa.
 
Namun dia tampaknya tidak berbagi kebencian ideologis Mugabe terhadap petani kulit putih. Ia memprioritaskan pertanian untuk menghidupkan kembali ekonomi yang hampir mati.
 
Zimbabwe dikenal sebagai lumbung pangan di Afrika bagian selatan pada tahun-tahun awal pemerintahan Mugabe setelah merdeka dari Inggris pada 1980.
 
Tapi mulai tahun 2000, sekitar 4.500 peternakan disita dengan persetujuan Mugabe dalam gelombang amarah menyasar para pemilik lahan kulit putih yang didukung partai oposisi MDC.
 
Beberapa ratus petani kulit putih tetap berbisnis dan hasil pertanian turun dari USD2,9 miliar pada 2001 menjadi USD880 juta di tahun 2008, menurut Bank Dunia.



(FJR)