Arab Saudi Tampik Paksa PM Lebanon Mengundurkan Diri

Arpan Rahman    •    Minggu, 12 Nov 2017 18:59 WIB
konflik lebanon
Arab Saudi Tampik Paksa PM Lebanon Mengundurkan Diri
Foto mantan PM Lebanon Saad al-Hariri di pusat kota Riyadh. (Foto:AFP)

Riyadh: Sejak pesawat Saad al-Hariri mendarat di Arab Saudi, pada Jumat 3 November, dia terkejut.

Tidak ada pangeran Arab Saudi atau pejabat kementerian, yang biasanya menyambut seorang perdana menteri dalam sebuah kunjungan resmi ke Raja Salman. Demikian menurut sumber-sumber senior yang dekat dengan Hariri serta pejabat tinggi keamanan Lebanon. 

Ponselnya disita, keesokan harinya dia terpaksa mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Lebanon dalam sebuah pernyataan yang disiarkan sebuah saluran TV milik Saudi.

Langkah tersebut mendorong Lebanon kembali ke garis depan sebuah perjuangan yang membentuk kembali Timur Tengah, antara kekuasaan monarki Sunni Saudi dan Syiah Iran.

Persaingan kedua negara telah memicu konflik di Irak, Suriah, dan Yaman, di mana mereka saling perangi, dan sekarang berisiko mengacaukan Lebanon. Di sana, Saudi sudah lama berupaya melemahkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, kekuatan politik utama Lebanon dan bagian dari koalisi yang berkuasa.

Sumber yang dekat dengan Hariri mengatakan Arab Saudi telah menyimpulkan bahwa perdana menteri itu -- sekutu lama Saudi dan putra perdana menteri Rafiq al-Hariri, yang dibunuh pada 2005 -- harus mundur karena dia tidak mau menghadapi Hizbullah.

Beberapa sumber Lebanon mengatakan, Riyadh berharap bisa menggantikan Saad Hariri dengan kakaknya Bahaa sebagai politisi Sunni yang paling berkuasa di Lebanon. Bahaa diyakini berada di Arab Saudi dan anggota keluarga Hariri sudah diminta pergi ke sana untuk berjanji setia kepadanya, namun mereka menolaknya, kata sumber tersebut.

"Ketika pesawat Hariri mendarat di Riyadh, dia segera menyampaikan pesan bahwa ada yang tidak beres," kata seorang sumber Hariri kepada kantor berita AFP.

"Tidak ada yang menyambutnya," imbuhnya, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu 12 November 2017.

Arab Saudi menepis anggapan bahwa memaksa Hariri mengundurkan diri dan berkata dia adalah orang merdeka. Pejabat Saudi tidak dapat segera dihubungi guna mengomentari kondisi kedatangannya: apakah ponselnya telah diambil, atau apa kerajaan tersebut berencana mengganti kedudukannya dengan saudaranya.

Hariri tidak memberi sambutan publik sejak mundur dan tidak ada indikasi kapan dia bisa kembali ke Lebanon.

Anggota keluarga, ajudan, dan politisi yang telah menghubungi Hariri di Riyadh mengatakan bahwa PM Lebanon itu merasa khawatir dan enggan mengatakan apa pun selain: "Saya baik-baik saja". Ketika ditanya apakah dia akan pulang, mereka katakan jawaban normalnya adalah: "Insya Allah".



(FJR)