Kerasnya Kehidupan Seorang Gembala dari Somalia

Arpan Rahman    •    Selasa, 13 Jun 2017 20:13 WIB
somalia
Kerasnya Kehidupan Seorang Gembala dari Somalia
Kehidupan gembala di Somalia (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Baligubadle: Baruud Abokor bermukim di Baligubadle selama empat dekade terakhir. Sebelum menetap di kota terpencil Somali yang berbatasan dengan Ethiopia itu, dia berkelana sampai jauh. 
 
"Saya berkuasa atas diri saya sendiri," katanya, seperti dilansir The Economist, Sabtu 10 Juni 2017. "Ekonomi lumayan enak dan saya punya banyak ternak." 
 
Tapi sepanjang bertahun-tahun kekeringan beruntun, dan perang antara wilayah Somaliland yang memisahkan diri -- tempatnya bermukim -- melawan pemerintah pusat di selatan Mogadishu, telah merugikan mereka. Kawanannya lebih dari 100 ekor domba menyusut menjadi selusin. Somaliland, seperti di tempat lain di Tanduk Afrika, tahun ini menderita kekeringan terburuk sepanjang masa. Tapi Abokor tetap tinggal di sana.
 
Cukup masuk akal. Soalnya Baligubadle hanya beberapa jam berkendara ke selatan ibu kota Somaliland, Hargeisa, bantuan makanan mencapai kota tanpa terlalu banyak kesulitan. Kawanannya terlalu lemah buat berkeliaran ke tempat lain untuk digembalakan saat kekeringan paling parah, awal tahun ini. 
 
Baligubadle memiliki lubang bor air buatan manusia, yang membuat mereka tetap bisa bertahan, bahkan saat matahari terbenam di jalan berdebu dan kering. Kota itu menjadi berkah bagi penggembala-pengembara seperti Abokor. Namun keberadaannya juga membantu menjelaskan mengapa penggembalaan di sana berada dalam cengkeraman krisis yang berlangsung jauh lebih mendalam daripada kekeringan.
 
Penggembala hewan yang tinggal dalam jumlah besar di Tanduk Afrika begitu tangguh di saat kekurangan air. Mampu mengurus dan memindahkan ternak ke padang rumput segar memberi mereka keuntungan dari para petani. Tapi mobilitas itu telah menyusut. 
 
Dua dekade yang lalu, seorang penggembala nomaden seperti Abokor mungkin telah menempuh perjalanan sejauh 500 km setiap musim, kadang hingga ke negara tetangga Ethiopia, kata Ahmed Ibrahim dari Candelight, sebuah LSM lokal. Saat ini paling bergerak tidak jauh dari 50km, kecuali di saat darurat.
 
Tersebarnya kota-kota kecil seperti Baligubadle, dengan sekolah dan klinik kesehatan, merupakan salah satu faktor penting. Lantaran akses dibatasi untuk lahan. Garis besar yang membentang di Somalia diperintah oleh sistem kepemilikan komunal yang dikenal sebagai 'xeer'. Tapi xeer menciut pada 1990-an dengan runtuhnya negara bagian dalam perang sipil. Traktat tanah yang dulunya bebas terbuka untuk dijelajahi telah dipagari oleh penduduk kota yang jahat dan penggembala yang lebih kaya.
 
Lahan yang tersisa sudah terdegradasi karena vegetasinya rusak. Somaliland sekarang hampir tidak memiliki cadangan musiman, yang sangat penting, membiarkan padang rumput terbengkalai dan menghijau, dan yang pada masa lalu dilindungi oleh kawanan penjaga. Vegetasi dalam kondisi memilukan: tanah yang mengelilingi Baligubadle berupa semak duri dan pohon akasia. Sebagian besar rumput kaya vitamin yang pernah menyelimutinya lenyap bertahun-tahun silam.
 
Itulah masalah yang terasa oleh sekitar 30 juta penggembala yang tersebar di Tanduk Afrika dan Kenya. Pertumbuhan populasi yang melonjak di daerah penggembalaan semakin menekan sumber daya yang telah berkurang. Penggembala komersial kaya, sebagian dengan hewan ternak yang berjumlah ribuan, memonopoli lahan terbaik. Perkembangan pesat kota melanggar batas atas lahan.
 
Upaya mengatasi hal ini hanya setengah hati. Hak atas tanah komunal melemah di seluruh wilayah. Dan pemerintah cenderung terlihat tidak sportif terhadap mobilitas: layanan sosial, terutama sekolah, jarang dirancang untuk mengatasinya. 
 
Sekolah Baligubadle ditutup karena para guru telah pindah ke tempat lain, bersama dengan hewan mereka. Anak-anak gembala umumnya kurang berpendidikan daripada teman sebayanya, sehingga membuat mereka sulit mencari pekerjaan lain. Mereka yang menetap di kota acap mendapati diri mereka miskin.
 
Penggembalaan di lahan kering Afrika timur tetap ada meskipun tertekan prinsip Malthus. Di lingkungan yang keras, banyak yang melihatnya sebagai satu-satunya cara agar tetap hidup. Usaha berulang kali demi memukimkan populasi dan mengenalkan pertanian irigasi berskala besar memiliki catatan sejarah kegagalan di kawasan ini, paling tidak karena mereka sering diwarnai paksaan.
 
Di Somaliland kurang dari sepersepuluh dari tanah tersebut diperhitungkan cocok dengan pertanian. Jadi pilihannya adalah antara hidup sebagai nomaden, atau berpendidikan dan melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Masa depan anak-anaknya, Abokor berkata, bahwa dia berharap "hidup mereka akan berubah".



(FJR)

Waspadai Infiltrasi Ideologi

Waspadai Infiltrasi Ideologi

3 hours Ago

Infiltrasi ideologi merupakan ancaman di balik cepatnya perkembangan teknologi. Namun pendekatan…

BERITA LAINNYA