Oposisi Venezuela Siapkan Protes Besar Menentang Presiden Maduro

Arpan Rahman    •    Rabu, 19 Apr 2017 18:11 WIB
konflik venezuela
Oposisi Venezuela Siapkan Protes Besar Menentang Presiden Maduro
Protes anti-Pemerintah Venezuela terus merebak (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Caracas: Warga Venezuela bersiap menggelar demonstrasi pembangkangan, Rabu 19 April, melawan Presiden Nicolas Maduro. Maduro -- yang bergerak memperketat cengkeramannya pada kekuasaan -- telah memicu kerusuhan mematikan dan meningkatnya krisis politik dan ekonomi negara.
 
Barisan seteru Maduro bersumpah untuk memanggungkan "induk dari segala protes" menyerukan keambrukannya, setelah dua pekan demonstrasi penuh kekerasan yang menyebabkan lima orang tewas dan puluhan luka-luka.
 
Menebar kekhawatiran akan kekerasan lebih luas, Maduro akhirnya mendesak para pendukungnya, militer, dan milisi sipil buat mempertahankan "revolusi" kiri yang diluncurkan oleh pendahulunya Hugo Chavez pada 1999.
 
Gelaran kali ini diatur menjadi hari terbesar dalam protes sejak para sekutu Maduro bergerak melucuti kekuatan legislatif mayoritas oposisi -- satu-satunya tuas pemerintahan yang tidak mereka kontrol -- dan melarang pemimpin oposisi Henrique Capriles dari politik.
 
Jalan-jalanan Caracas telah dimarakkan bentrokan yang mengadu para demonstran bertopeng bersenjatakan batu dan bom molotov melawan polisi anti huru-hara yang menembakkan gas air mata, peluru karet, dan kanon air.
 
Protes telah relatif mengecil sejauh ini, dengan ribuan jumlah pengunjuk rasa. Pihak oposisi kini berharap membanjiri jalan-jalan dengan lautan demonstran, yang mereka serukan agar tetap damai.
 
Mereka berencana berbaris dari 26 titik demo menuju sentral ibu kota Caracas, benteng pro-Maduro dan pusat pemerintahan. Pihak berwenang mengatakan, mereka tidak akan membiarkan pendemo masuk ke suatu kawasan, di mana unjuk rasa pendukung pemerintah akan diadakan. Kubu Maduro bersumpah tidak mau kalah dengan oposisi.
 
"Seluruh Caracas akan dijaga oleh pasukan revolusioner," kata anggota parlemen Diosdado Cabello, salah satu sekutu presiden yang paling kuat, seperti dinukil AFP, Rabu 19 April 2017.
 
Demonstrasi pasukan Maduro
 
Tekanan pada Maduro meningkat lantaran krisis ekonomi yang diperparah oleh turunnya harga ekspor minyak Venezuela, yang diandalkan dalam perekonomian negara, sehingga memicu kekurangan pangan dan obat-obatan.
 
Pada Selasa 18 April, oposisi sayap kanan mengulangi seruan untuk militer -- pilar kekuasaan Maduro -- supaya meninggalkan presiden.
 
"Ini adalah saat bagi angkatan bersenjata menunjukkan bahwa mereka memegang teguh konstitusi dan bersama rakyat," kata pemimpin oposisi kongres, Julio Borges.
 
Tapi menteri pertahanan Venezuela, Jenderal Vladimir Padrino Lopez, bersumpah bahwa tentara "setia tanpa syarat." 
 
Maduro mengecam Borges menghasut "kudeta" terhadap dirinya, dan mengatakan anggota parlemen oposisi itu "harus diadili."
 
Presiden mendemonstrasikan pasukannya, pekan ini, bersumpah hendak mengerahkan tentara ke jalan-jalan dan menerjunkan milisi pro-pemerintah yang akan diperbanyak jumlahnya dengan setengah juta anggota, "masing-masing bawa senapan."
 
"Saat pertempuran telah tiba," kata Maduro. "Kita berada pada masa yang penting dalam nasib bangsa kita."
 
Kelompok kampanye internasional Human Rights Watch mengatakan, penguatan milisi ditujukan buat mengintimidasi oposisi.
 
"Kami tahu tidak ada kasus serupa lainnya di Amerika Latin: pemerintah mempersenjatai milisi perkotaan," kata Direktur Amerika kelompok itu, Jose Miguel Vivanco, dalam konferensi pers di Washington.
 
"Maksud saya adalah para penjahat, kawanan geng yang bertindak dengan impunitas total, dan mengintimidasi warga, dengan kekuatan untuk menembak dan melakukan penangkapan," cetusnya
 
Kekhawatiran kawasan
 
Di Amerika Latin, di mana pemerintah lainnya semakin khawatir akan ketidakstabilan Venezuela, 11 negara termasuk Brasil, Meksiko, dan Chile mengeluarkan pernyataan, Senin 17 April, mengutuk kematian para demonstran dan mendesak pasukan keamanan supaya menahan diri.
 
Oposisi yang semula terpecah-belah telah kembali berpadu karena Mahkamah Agung mengeluarkan putusan pada 30 Maret merebut kekuasaan legislatif.
 
Pengadilan membalikkan sebagian putusan setelah kecaman internasional, tetapi ketegangan terlanjur meningkat ketika pihak berwenang melarang Capriles berpolitik pada 7 April.
 
Venezuela menderita gelombang anarki besar-besaran terakhir pada 2014, tatkala 43 orang tewas dalam kerusuhan anti-pemerintah.



(FJR)