Delapan Bulan Kekerasan Terjadi di Kongo, Sekitar 3.000 Warga Tewas

Arpan Rahman    •    Rabu, 21 Jun 2017 11:17 WIB
konflik kongo
Delapan Bulan Kekerasan Terjadi di Kongo, Sekitar 3.000 Warga Tewas
Aksi protes yang terjadi di wilayah tengah Republik Demokratik Kongo yang berujung pada kekerasan (Foto: Reuters).

Metrotvnews.com, Kinshaha: Lebih dari 3.000 orang terbunuh di daerah terpencil di Republik Demokratik Kongo. Korban merupakan imbas aksi kekerasan yang berlangsung selama delapan bulan.
 
Seperti laporan NPR Ofeibea Quist-Arcton, kekerasan di wilayah pusat Kasai meletus, Agustus lalu: "ketika militer membunuh Kamuina Nsapu, seorang kepala suku yang meminta pasukan pemerintah untuk meninggalkan wilayah tersebut." Pihak gereja sudah berupaya menjadi perantara kesepakatan damai. 
 
Kelanjutan laporan dari Ofeibea: "Gereja Katolik Kongo mengatakan tentara berusaha menghentikan pemberontakan, menghancurkan sepuluh desa. Gereja tersebut juga menuduh milisi Kamuina Nsapu membunuh ratusan orang, menghancurkan empat desa, dan menyerang properti gereja dalam kampanye anti-pemerintahnya," seperti dilansir NPR, Selasa 20 Juni 2017.
 
Kekerasan ini terjadi saat komisioner hak asasi manusia (HAM) PBB mengeluarkan sebuah laporan baru mengenai kekerasan di sana, yang menggambarkan "serangan yang sangat serius, meluas, dan tampaknya direncanakan terhadap penduduk sipil di Kasais."
 
Zeid Ra'ad Al Hussein berkata bahwa penyelidik HAM PBB baru-baru ini ditempatkan di daerah tersebut dan menemukan bahwa situasinya sudah muncul "jauh lebih kompleks" dan lebih mematikan.
 
Di saat yang sama, katanya, pihak berwenang Kongo gagal melindungi warga sipil dan berupaya mencegah keterlibatan internasional dalam menyelidiki kejahatan tersebut.
 
Berbicara kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB, dia katakan bahwa sebuah milisi baru yang dinamakan Bana Maru sudah dibentuk dan dipersenjatai, "yang diduga mendukung pihak berwenang dalam memerangi Kamuina Nsapu, namun telah melakukan serangan mengerikan terhadap warga sipil dari kelompok etnis Luba dan Lulua." 
 
"Pengungsi dari beberapa desa di wilayah Kamonya mengindikasikan bahwa dalam dua bulan terakhir Bana Mura telah menembak mati, melukai dengan kasar, atau membakar sampai mati, dan memutilasi, ratusan penduduk desa, serta menghancurkan seluruh desa," tutur Hussein.
 
"Tim saya melihat anak-anak seperti dua orang yang anggota badannya telah dipotong, banyak bayi menderita luka parah dan luka bakar parah. Seorang bayi berusia dua bulan yang dilihat oleh tim saya terkena dua peluru empat jam sesudah kelahiran, ibu juga terluka. Sedikitnya dua wanita hamil disayat dan janin mereka dimutilasi," cetusnya. 
 
Dia imbuhkan, 42 situs kuburan massal sudah ditemukan di wilayah tersebut -- dan memperingatkan bahwa mungkin ada lebih banyak lagi. Hussein menyerukan penyelidikan internasional independen.
 
Juru bicara pemerintah berkata kepada Associated Press bahwa pemerintah berencana mengeluarkan laporan terpisah mengenai krisis tersebut. 
 
"Melampaui verifikasi apakah angka-angkanya benar atau tidak, ini menunjukkan situasi keamanan yang sebenarnya, yang harus benar-benar mengarah pada reaksi pemerintah yang tepat untuk mengakhirinya," Lambert Mende mengatakan pada kantor berita tersebut.
 
Pada Maret, seperti dilaporkan NPR, jenazah dua pegawai PBB ditemukan di wilayah Kasai: warga Amerika Serikat, Michael Sharp, dan Swedia, Zaida Catalan, yang datang menyelidiki peningkatan kekerasan.
 
Seperti dilaporkan Ofeibea, kejadian ini muncul di tengah gejolak politik yang lebih luas: "Kekerasan yang meresahkan di Kasai memicu ketegangan politik yang ada di Kongo, yang disebabkan keputusan Joseph Kabila untuk tetap berkuasa di luar batas akhir dua kali masa jabatan presiden pada 2016."



(FJR)