Kematian Pedemo di Tahanan Iran Picu Kekhawatiran Pelanggaran HAM

Arpan Rahman    •    Selasa, 09 Jan 2018 20:31 WIB
politik iraniran
Kematian Pedemo di Tahanan Iran Picu Kekhawatiran Pelanggaran HAM
Protes warga Iran terhadap pemerintahan Presiden Hassan Rouhani (Foto: AFP).

Teheran: Aktivis hak asasi manusia (HAM) di Iran mengungkapkan kekhawatiran tentang penangkapan massal selama demonstrasi terbesar di negara tersebut dalam hampir satu dekade. Setidaknya tiga demonstran tewas di sebuah penjara Teheran.
 
Dua anggota parlemen Iran yang dekat dengan kubu reformis mengonfirmasi, pada Senin 8 Januari 2018, bahwa satu orang tahanan, Sina Ghanbari, meninggal di Penjara Evin.
 
Secara terpisah, Nasrin Sotoudeh, pengacara hak asasi manusia terkemuka, mengatakan kepada Guardian melalui telepon dari Teheran bahwa setidaknya dua pemrotes lainnya telah meninggal di penjara. Mereka belum diidentifikasi.
 
Sedikitnya 21 orang tewas setelah bentrokan antara pengunjuk rasa dan petugas keamanan selama lebih dari sepekan demonstrasi. Kebanyakan dari mereka yang tewas adalah pemrotes dan beberapa penjaga keamanan, menurut pejabat. Lebih dari 1.000 orang, termasuk setidaknya 90 mahasiswa, ditangkap.
 
"Saya berbicara dengan seorang tahanan di penjara Evin dan saya diberitahu bahwa tiga tahanan telah kehilangan nyawa mereka," kata Sotoudeh. 
 
"Ketika pihak berwenang menggunakan penangkapan massal, mereka tidak dapat mengklaim untuk melindungi hak-hak mereka. Tidak mungkin dalam situasi seperti itu untuk proses peradilan dilakukan," serunya seperti disitat Guardian, Selasa 9 Januari 2018.
Sotoudeh sangat khawatir dengan penggunaan pusat penahanan tidak resmi. Selama demonstrasi 2009 menyusul sengketa terpilihnya Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden, salah satu pusat penahanan tersebut, Kahrizak, menarik perhatian nasional setelah diketahui sejumlah pemrotes melakukan perundungan seksual, disiksa, dan dibunuh dalam tahanan.
 
Politisi reformis, termasuk anggota parlemen Mahmoud Sadeghi yang vokal, memperingatkan pengulangan skandal tersebut. "Saya memperingatkan presiden, pejabat intelijen, dan peradilan terhadap pengulangan Kahrizak kedua," dia mencuit.
 
Sotoudeh meragukan klaim pejabat bahwa Ghanbari bunuh diri. Dia mengatakan kematiannya menunjukkan tindakan keras yang dilakukan benar-benar sedang berlangsung meski terlalu dini untuk mengetahui skalanya. 
 
"Pada 2009, dibutuhkan waktu berminggu-minggu sebelum skala kebrutalan di Kahrizak diabaikan," kata Sotoudeh. 
 
"Pihak berwenang bertanggung jawab atas keselamatan narapidana," tegasnya.
 
Sotoudeh khawatir dengan pendampingan hukum narapidana pada saat banyak pengacara HAM dipenjara, diasingkan atau difitnah.
 
Pihak berwenang Iran menyalahkan demonstrasi kepada musuh-musuh asing. Namun pada Senin, Presiden Hassan Rouhani menyinggung kesenjangan antara pandangan dunia terhadap pemerintah dan para pemuda negara tersebut, yang merupakan sebagian besar penduduk. Rata-rata usia mereka yang ditangkap selama kerusuhan tersebut adalah 25, kata beberapa pejabat.
 
Seorang pedemo yang ditahan di lokasi yang dirahasiakan adalah Kasra Nouri, mahasiswa hukum berusia 26 tahun di Universitas Teheran. Dia anggota ordo darwis Gonabadi, sebuah sekte minoritas Muslim yang tidak diakui pemerintah Iran.
 
"Dia telah melakukan mogok makan sejak 4 Januari. Kami benar-benar terjebak dalam kegelapan tentang situasi di penjara dan pengacaranya juga tidak dapat mengaksesnya," kata seorang anggota keluarga.
 
Keprihatinan tentang nasib ribuan tahanan telah dicekam oleh kematian Ghanbari. Hadi Ghaemi, direktur eksekutif Pusat Hak Asasi Manusia di Iran, mengatakan. "Pihak berwenang mengklaim dia bunuh diri, tapi tidak ada kredibilitas terhadap klaim mereka tanpa penyelidikan yang independen dan adil," tambahnya.
 
"Orang-orang Iran memiliki kenangan baru tentang tahanan 2009 yang diperkosa dan disiksa secara sistematis di pusat penahanan seperti Kahrizak dan Evin. Ada seruan vokal di Iran untuk mencegah terulangnya kekejaman semacam itu," sambungnya.

(Baca: Rusia Minta DK PBB dan AS Tak Campuri Urusan Iran).
 
Nassim Papayianni, peneliti Amnesty International di Iran, mengatakan penyelidikannya menunjukkan "berkali-kali bagaimana kondisi penjara yang tidak manusiawi di Iran, dengan kepadatan penghuni yang berlebihan, gangguan yang buruk, dan ancaman penyiksaan yang selalu ada.
 
"Kami juga khawatir bahwa pihak berwenang Iran menolak anggota keluarga dari informasi mengenai nasib dan keberadaan orang yang mereka cintai. Pihak berwenang harus mengakhiri dinding kesunyian ini dan memberi informasi kepada keluarga tentang mereka yang ditahan," ucapnya.
 
Rouhani, yang terpilih kembali dalam kemenangan telak tahun lalu, mendapat tekanan karena demonstrasi tersebut meletus segera setelah dia mengumumkan sebuah anggaran penghematan.
 
Meskipun demonstrasi awal pada 28 Desember diyakini digelar oleh kelompok anti-Rouhani, unjuk rasa menyebar ke seluruh negeri, yang berubah dari demo ekonomi ke soal politik yang menantang fondasi Republik Islam.
 
Mengakui bahwa orang muda menginginkan perubahan, Rouhani berkata: "Seseorang tidak dapat memaksakan gaya hidup mereka pada generasi mendatang."
 
Musuh-musuh Iran "ingin negara kita berada dalam keadaan kerusuhan", lanjutnya, menunjuk pada "beberapa daerah", yang diyakini menyinggung Arab Saudi, "rezim Zionis", terminologi Iran untuk Israel, dan Amerika Serikat.

(FJR)


Pameran Replika Stasiun Kereta Api Bersejarah di AS

Pameran Replika Stasiun Kereta Api Bersejarah di AS

1 day Ago

Ribuan pengunjung setiap tahun datang ke U.S. Botanic Garden atau Kebun Raya AS di Washington untuk…

BERITA LAINNYA