Presiden Abbas: Yerusalem Ibu Kota Abadi Palestina

Fajar Nugraha    •    Kamis, 07 Dec 2017 08:30 WIB
palestina israel
Presiden Abbas: Yerusalem Ibu Kota Abadi Palestina
Presiden Palestina Mahmoud Abbas kecam tindakan AS akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel (Foto: AFP).

Tepi Barat: Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengecam dan menolak pengakuan Amerika Serikat (AS) mengenai Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Menurutnya langkah itu melanggar seluruh aturan internasional.
 
 
Abbas menyuarakan pendapatnya setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
 
"Ini melanggar seluruh aturan internasional dan resolusi bilateral," ujar Abbas, seperti dikutip Xinhua, Kamis 7 Desember 2017.
 
"Deklarasi ini tidak akan memberikan legitimasi apapun terhadap Israel. Yerusalem adalah ibu kota abadi dari Palestina," tegasnya.
 
Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, di saat mereka merdeka. Sementara Israel dengan keserakahannya, menginginkan seluruh wilayah Yerusalem sebagai ibu kota Negara Yahudi tersebut.
 
"Tujuan nasional Palestina ini dalam persimpangan setelah keputusan AS mengenai Yerusalem. Rakyat Palestina akan tetap bersatu mempertahankan Yerusalem serta berupaya untuk tetap memenangkan hak kami demi mengakhiri pendudukan yang berujung pada meraih kemerdekaan," ungkap Abbas.
 
Abbas juga mengecam sikap Amerika Serikat yang mengabaikan konsensus internasional yang disampaikan oleh berbagai negara mengenai Yerusalem. 
 
 
Dengan jelas Abbas mengatakan bahwa deklarasi AS ini mewakili penarikan diri Negeri Paman Sam dalam mensponsori proses perdamaian. Hal ini juga makin mendorong Israel untuk terus mencaplok wilayah Palestina dengan melakukan pembangunan pemukiman serta melakukan pembersihan etnis.
 
"Pengakuan ini sudah memberikan jalan bagi kelompok ekstrimis yang ingin mengkarakteristikan konflik ini sebagai perang agama," imbuh Abbas.
 
Hingga saat ini, Abbas dan jajaran pemeirntahannya terus memonitor perkembangan dari situasi terakhir. Pihaknya juga akan melakukan konsultasi dengan negara Timur Tengah lainnya serta negara sahabat.



(FJR)