Kisruh Tunisia-Uni Emirat Arab Terkait Militan Perempuan

   •    Rabu, 27 Dec 2017 14:05 WIB
terorismeuni emirat arabtunisia
Kisruh Tunisia-Uni Emirat Arab Terkait Militan Perempuan
Ilustrasi: Metrotvnews.com

Tunis: Uni Emirat Arab membuat marah Tunisia dengan melarang terbang perempuan Tunisia, mengetahui perempuan itu adalah militan yang kembali dari Irak atau Suriah. Hal tersebut terkait kecurigaan perempuan itu menggunakan paspor Tunisia untuk melakukan serangan.
 
Tunisia meminta Uni Emirat Arab meminta maaf atas larangan perjalanan tersebut, dengan mengatakan bahwa UEA tidak memberikan penjelasan, dan pada Minggu menangguhkan kegiatan perusahaan penerbangan Emirates, yang bermarkas di Dubai, di bandar udara Tunis.
 
Sejak saat itu, Saida Garrach, penasihat di kepresidenan Tunisia, mengatakan kepada radio setempat Shems FM bahwa UEA memiliki keterangan khusus mengenai kemungkinan tindakan teror sebagai bagian dari kepulangan petempur, yang meninggalkan Irak dan Suriah, dan bahwa kedua negara itu sekarang bekerja bersama untuk mengatasi ancaman tersebut.
 
"Terdapat komplotan teroris di beberapa negara," kata Garrach dalam wawancara pada Senin dan diunggah di laman stasiun radio tersebut.
 
"Yang menjadi kekhawatiran Uni Emirat Arab adalah kemungkinan tindakan teroris yang dilakukan oleh wanita Tunisia atau oleh pemegang paspor Tunisia," katanya, seperti dikutip dari Antara, Rabu 27 Desember 2017.
 
Garrach mengkritik cara ancaman tersebut dihubungkan ke Tunisia. "Kami memerangi terorisme bersama Uni Emirat Arab dan kami berkoordinasi untuk memecahkan masalah ini. Namun kami tidak dapat menerima cara perempuan Tunisia diperlakukan dan tidak menerima apa yang telah terjadi pada wanita Tunisia di bandar," tegasnya.
 
Tunisia termasuk di antara negara-negara dengan jumlah petempur militan Islamis tertinggi, masalah yang terkait dengan radikalisasi yang meluas di antara kaum muda yang mengalami kekecewaan dan pelonggaran kontrol keamanan setelah pemberontakan pada 2011 di Tunisia.
 
Kekalahan militer dari kelompok ISIS di sebagian besar Suriah dan Irak tahun ini telah mendorong banyak petempur asing dan keluarga mereka untuk pulang. ISIS juga telah kehilangan benteng utamanya di negara tetangga Tunisia, Libya.
 
Lebih dari 3.000 warga Tunisia diketahui melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berperang, kata kementerian dalam negeri Tunisia. Pada setahun lalu, menteri dalam negeri mengatakan bahwa 800 orang kembali ke Tunisia, tempat mereka dipenjara, dipantau atau dikenai tahanan rumah.



(FJR)


Obama Sindir Sejumlah Kebijakan Trump

Obama Sindir Sejumlah Kebijakan Trump

8 hours Ago

Sejumlah kebijakan Trump disindir Obama, yaitu kebijakan imigrasi dan mundurnya AS dari Kesepakatan…

BERITA LAINNYA