Transisi Tak Menentu Memicu Bentrokan Maut di Kongo

Arpan Rahman    •    Rabu, 21 Sep 2016 10:49 WIB
konflik kongo
Transisi Tak Menentu Memicu Bentrokan Maut di Kongo
Kehancuran akibat kerusuhan di Kongo (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Kinshaha: Mayat-mayat itu semula masih merokok, Selasa (20/9/2016) pagi, beberapa jam setelah matahari terbit, lalu para pembunuh datang.
 
Mereka telah hangus tak bisa dikenali, dengan lengan menggapai kesakitan, setiap bagian dari kulitnya terbakar habis.
 
"Pemerintah yang melakukan ini," kata Félix Tshisekedi, putra salah seorang tokoh oposisi paling populer Kongo. "Saya tidak ragu," tegasnya seperti dikutip The New York Times, Rabu (21/9/2016).
 
Perang kotor bergolak di jalan-jalan Kinshasa, ibu kota Kongo. Dalam dua hari terakhir, setidaknya 44 korban dari pihak-pihak yang bertikai lantaran perpecahan politik telah terbunuh dengan parang, tembakan, granat atau kebakaran. Gejolak kekerasan telah melumpuhkan salah satu kota terbesar di Afrika dan bisa menjadi pertanda pertumpahan darah akan datang.
 
Gertakan yang banyak beredar adalah "Toyebi indako." Dalam bahasa Lingala, yang paling banyak digunakan Kinshasa, itu berarti: Aku tahu rumahmu.
 
Kebangkrutan ekonomi, sejarah kebrutalan di Kongo, kemiskinan tak terhindarkan, dan populasi pemuda pengangguran yang besar semuanya memicu kerusuhan. Seperti disebut seorang diplomat Barat pada Selasa, ada banyak sumbu pendek berserakan.
 
"Menyulutnya mudah, pemilihan presiden. Atau lebih tepatnya, karena tidak ada presiden," sebut diplomat itu.
 
Menurut konstitusi Kongo, Presiden Joseph Kabila, yang telah berkuasa selama 15 tahun terakhir, diharuskan mundur pada Desember.


Kekerasan warnai Kongo (Foto: AFP)
 
 
Tapi Kabila tidak menunjukkan tanda-tanda melakukan hal itu. Tidak jelas rencana,-atau bahkan sebuah tanggal- untuk pemilu mendatang. Jutaan pemilih baru harus didaftarkan, dana perlu digulirkan, dan kalender pemilu harus disepakati, namun tidak satupun dari itu terjadi. Maka pertanyaan meluas.
 
Apakah Kabila mencoba menunda pemilu selama mungkin? Apakah dia tidak akan pernah mau mundur?
 
Pada Senin, ribuan pendukung oposisi melakukan protes di kawasan kumuh Kinshasa. Demonstrasi tidak terkendali ketika para pemuda mengamuk di daerah sekitarnya, membakar toko, mengobrak-abrik bank, dan membunuh beberapa polisi.
 
Para pengunjuk rasa tampak memendam kebencian khusus pada kantor milik partai politik Kabila. Di sana, mereka membobol dinding bata berlubang setebal tiga meter, membakar gambar raksasa wajah Kabila dan kemudian menjarah meja-meja, kursi, komputer, dan TV layar datar.
 
Aksi balasan muncul sekitar 18 jam kemudian. Menurut saksi, sebuah truk tentara penuh dengan tentara berseragam bergerak cepat menuju markas besar Union for Democracy and Social Progress, partai oposisi terkemuka. Para prajurit menembakkan granat dari peluncur roket ke gedung itu dan menyiramnya dengan tembakan.
Pemuda yang membawa senjata dalam kerusuhan di Kongo (Foto: AFP)
 
 
Selasa 20 September pagi, mayat tiga orang tergeletak di atas pintu-pintu yang telah robek engselnya, yang kemudian menjadi usungan untuk mereka.
 
Ketiganya bekerja sebagai relawan penjaga di markas oposisi dan berada di dalam gedung ketika terkena granat. Selain mereka, beberapa korban lain ditemukan dalam reruntuhan.
 
Dua markas oposisi lainnya juga diserang, dan semua saksi menuduh tentara, meskipun juru bicara pemerintah Kongo, Lambert Mende, membantah keras keterlibatan mereka.
 
"Tentara tidak bodoh," katanya. "Apa yang akan mereka lakukan, membunuh orang saat mereka mengenakan seragam?" tanya Mende. 
 
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok hak asasi manusia telah mencatat banyak oknum tentara pemerintah Kongo membunuh dan memperkosa warga sipil.


Polisi melakukan penjagaan di Kongo (Foto: AFP)
 
 
Mende menambahkan, pemerintah berkomitmen untuk menemukan solusi bagi kebuntuan pemilu dan bahwa pihaknya berharap proses yang disebut "dialog",-yang disebut para pemimpin oposisi "monolog"- akan menghasilkan kompromi.
 
Mende menyatakan, Kabila tidak berniat untuk tetap berkuasa tapi dia tidak bisa mundur begitu saja.
 
"Ketika seorang presiden di negara kita ini mengatakan 'Saya tidak akan memimpin lagi,' jika dia tetap menjabat selama tiga bulan atau satu tahun, itu akan menjadi tiga bulan atau satu tahun anarki," ujar Mende. 
 
"Ini budaya kita. Kita perlu memiliki pemimpin yang jelas dan bertanggung jawab," tegasnya
 
Étienne Tshisekedi, 83, dianggap sesepuh dari oposisi, mengatakan setuju untuk menunda pemilu dengan satu syarat: Kabila turun pada bulan Desember.
 
"Kalau tidak," katanya, "kami akan memanggil masyarakat untuk mengambil kekuasaan sendiri," pungkas Tshisekedi.



(FJR)