Yordania Desak AS Tidak Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Willy Haryono    •    Senin, 04 Dec 2017 13:54 WIB
israel palestinadonald trumppalestina israel
Yordania Desak AS Tidak Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel
Bendera Israel berkibar di Yerusalem. (Foto: AFP)

Amman: Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi mengingatkan Amerika Serikat (AS) mengenai "konsekuensi berbahaya" jika mengakui Yerusalem sebagai ibu kota dari Israel. 

Safadi mengatakan kepada Menlu AS Rex Tillerson bahwa pengakuan semacam itu akan memicu kemarahan besar di dunia Arab dan Muslim. 

Spekulasi bermunculan yang menyebut Presiden AS Donald Trump akan segera mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Jika jadi diakui, maka terbuka pula peluang pemindahan gedung Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Israel.

Menantu sekaligus penasihat senior Trump, Jared Kushner, mengatakan bahwa presiden belum dapat memutuskan hal tersebut. Ia menyebut Trump masih mempertimbangkan banyak hal. 

"Berbicara dengan Menlu Tillerson mengenai konsekuensi berbahaya dari pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel," tulis Safadi di akun Twitter, seperti dilansir BBC, Senin 4 Desember 2017. 

Sejauh ini belum ada respons apapun dari Kemenlu AS mengenai pernyataan Safadi. 

Sementara itu Presiden Palestina Mahmoud Abbas berusaha menggalang dukungan internasional untuk mendorong Trump agar tidak jadi mengakui Yerusalem. Abbas menelepon beberapa orang, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

"Dia ingin menjelaskan bahaya dari keputusan AS memindahkan kedutaan atau mengakui Yerusalem," kata penasihat Abbas, Majdi al-Khalidi kepada AFP

Palestina sebelumnya mengingatkan bahwa pengakuan Yerusalem akan merusak solusi dua negara. 

Israel menduduki Yerusalem Timur sejak perang 1967. Israel menganeksasi area tersebut pada 1980 dan menganggapnya sebagai wilayah eksklusif. 


(WIL)