Derap Langkah Arab Saudi Hadapi Iran Bergema di Kawasan Timur Tengah

Arpan Rahman    •    Kamis, 09 Nov 2017 11:17 WIB
politik arab saudi
Derap Langkah Arab Saudi Hadapi Iran Bergema di Kawasan Timur Tengah
Manuver politik Pangeran Mohammed bin Salman patut diperhatikan (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Riyadh: Arab Saudi lebih agresif menghadapi rivalnya Iran di berbagai lini. Kebijakan Saudi berisiko mempertajam sejumlah konflik di Timur Tengah. Kendati sejauh ini Riyadh gagal membendung pengaruh Teheran.
 
Langkah yang lebih tegas sebagian besar dilihat sebagai karya putra Raja Salman, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang telah mengkonsolidasikan kekuasaannya. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan Saudi menunjukkan kesiapan mengguncang kawasan. Seperti meluncurkan kampanye militer di Yaman terhadap pemberontak yang tampak sebagai boneka Iran dan memicu konfrontasi lawan Qatar, sebagian menyangkut hubungannya dengan Teheran.
 
Meski begitu, Iran mampu memanfaatkan perang di Irak dan Suriah demi membangun aliansi yang membentang dari perbatasan ke Laut Tengah.
 
Akhir pekan lalu, terlihat perkembangan dramatis terkait kerajaan Saudi yang mengintensifkan ketegangan regional:
 
- Pemberontak Yaman menembakkan sebuah rudal yang menargetkan bandara internasional di ibu kota Saudi, Riyadh, dan Arab Saudi menuduh Iran memasok rudal tersebut. Dikatakan bahwa hal itu dapat dianggap sebagai tindakan perang. Rudal ditembak jatuh oleh pertahanan udara, namun itu menjadi sasaran tembak pemberontak terjauh di wilayah Saudi sejak perang Yaman dimulai pada 2015.
 
- Arab Saudi tampaknya bertindak buat menghancurkan pemerintahan Lebanon yang meliputi sekutu kuat Iran, Hizbullah. Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri, sekutu Saudi, mengumumkan pengunduran dirinya yang mengejutkan di Riyadh, yang diyakini atas dorongan tokoh-tokoh Saudi.
 
- Putra Mahkota Mohammed Salman tampaknya memperkuat kekuatannya di dalam negeri. Serangkaian penangkapan pangeran dan tokoh senior dalam apa yang disebut sebagai tindakan keras terhadap korupsi. Namun secara luas dipandang sebagai pembersihan barisan seteru dan kritikusnya.
 
Bagaimana kebijakan Saudi mempengaruhi berbagai negeri di Timur Tengah, berikut rangkuman AFP, seperti dilansir Rabu 8 November 2017:
 
Konfrontasi langsung dengan Iran?
 
Meskipun Saudi mengatakan bahwa pihaknya berhak membalas rudal Yaman, tidak mungkin melakukan aksi militer langsung atas Iran.
 
Militer kerajaan sudah terikat dalam perang Yaman, pesawat tempurnya memimpin kampanye udara di sana dan tentara di perbatasan. Militer Iran lebih besar dan lebih kuat berperang dibanding Arab Saudi. Namun kerajaan tersebut memiliki persenjataan yang jauh lebih maju yang dibeli dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa dalam dekade terakhir. Didampingi sekutu kuat, Uni Emirat Arab, yang juga telah membangun sebuah kekuatan militer besar-besaran.
 
Aksi militer langsung akan mengambil risiko destabilisasi besar di Teluk dan sekitarnya, mengganggu pengiriman minyak yang penting ke Arab Saudi dan sekutu-sekutunya. Kerajaan tidak mungkin bertindak tanpa lampu hijau dari Washington, di mana kebijakan yang digariskan ialah menghindari konfrontasi langsung dengan Iran. Itu membuat mereka bergerak dalam pertempuran proksi demi mendapatkan kekuasaan di kawasan.
 
Yaman
 
Perang di negara miskin di perbatasan selatan Arab Saudi telah menjadi jebakan bagi kerajaan. Pada 2015, koalisi Arab Saudi, UEA, dan sekutu lainnya mulai kampanye melawan pemberontak Syiah yang dikenal dengan Houthi, yang dikatakan sebagai perpanjangan tangan Iran.
 
Perang sudah menewaskan lebih dari 10.000 warga sipil dan mendorong jutaan orang Yaman ke jurang kelaparan. Menghabiskan sumber daya Saudi pada saat harga minyak sudah turun. Pasukan Saudi sebagian besar bertahan, hanya mengandalkan serangan udara. Putra mahkota mengaku invasi darat akan menelan harga terlalu mahal kehidupan di Saudi.
 
Iran mendukung pemberontak Houthi, namun membantah mempersenjatai mereka. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Zarif menolak tuduhan Riyadh mengenai rudal, mengatakan bahwa Saudi menyalahkan Iran atas konsekuensi dari perang "agresi, intimidasi regional, perilaku destabilisasi dan provokasi yang berisiko di kerajaan tersebut."
 
Lebanon
 
Pengunduran diri Hariri secara luas dilihat sebagai langkah Saudi melawan Hizbullah, kelompok politik Syiah dan pasukan gerilya yang menjadi senjata kuat Iran di Lebanon dan Suriah.
 
Hizbullah masih mendominasi Lebanon, dan tidak ada yang akan menggoyangnya dalam waktu dekat. Tidak ada milisi atau kelompok politik Sunni yang memiliki pengaruh yang sama besar, dan hanya sedikit kaum Sunni yang mau mengambil risiko bertarung tidak imbang lawan Hizbullah. 
 
Intervensi Saudi hanya membuat banyak orang Lebanon, termasuk beberapa pendukung Hariri, membenci kerajaan tersebut. Mereka khawatir hal itu akan mengganggu struktur pembagian kekuasaan yang rumit antara kaum Syiah, Sunni, Kristen, dan komunitas Lebanon lainnya. Negara ini mungkin akan terjebak tanpa pemerintah yang efektif -- atau lemah dan sementara.
 
Juru bicara Kemenlu Iran Bahram Ghasemi mengkritik pertikaian sebagai plot AS-Israel-Saudi yang menyebabkan ketegangan di Lebanon.
 
Menteri terkemuka Arab Saudi Thamer al-Sabhan menyalahkan Iran atas ketidakstabilan tersebut dan mengatakan bahwa kerajaan sekarang akan memperlakukan Lebanon "sebagai sebuah pemerintahan yang mengumumkan perang terhadap Arab Saudi karena agresi Hizbullah."

Suriah
 
Setelah enam tahun perang di Suriah, Iran dan sekutunya Presiden Bashar Assad menjinakkan sebagian besar pemberontak Sunni, banyak di antaranya didukung Saudi.
 
Iran mengintensifkan pengaruhnya di Suriah, pasukan dan pejuangnya sendiri dari Hizbullah dan milisi Syiah Irak berjuang bersama pasukan Assad. Intervensi langsung Iran dan kampanye udara Rusia menyelamatkan Assad dan mengubah gelanggang menjadi kemenangan, merebut kembali wilayah yang terbentang luas.
 
Seiring tekanan internasional terhadap Assad agar mundur, upaya Arab Saudi mendorong Iran keluar dari Suriah telah mandek.
 
Qatar
 
Arab Saudi dan UEA, Mesir dan Bahrain memutus hubungan dengan negara tetangga Qatar pada Juni karena hubungan negara Teluk yang kecil itu dengan Iran serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok teroris.
 
Perpecahan diplomatik ini membawa keuntungan bagi Iran. Ketika Arab Saudi dan UEA melarang pesawat Qatar dari wilayah udara mereka, Qatar memakai wilayah udara Iran. Di kala Saudi menutup perbatasan darat Qatar, mereka beralih ke arah Iran dan Turki mengisi celah tersebut.
 
Meskipun diulang-ulang upaya oleh Washington demi mendorong dialog dan menyelesaikan kebuntuan, Saudi dan negeri Emirat menuntut sejumlah konsesi dari Qatar, yang banyak di antaranya ditolak Qatar.



(FJR)