Sekitar 890 Tewas Akibat Kekerasan Etnis di Kongo

Arpan Rahman    •    Kamis, 17 Jan 2019 16:59 WIB
konflik kongo
Sekitar 890 Tewas Akibat Kekerasan Etnis di Kongo
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Kinshaha: Setidaknya 890 orang diyakini telah tewas dalam kekerasan etnis selama tiga hari pada Desember di Kongo Barat, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Angka itu dua kali lipat dari perkiraan yang awalnya diberikan pada Senin oleh seorang pendeta lokal dan aktivis masyarakat sipil. Semula diklaim bahwa setidaknya 400 orang tewas dalam pertumpahan darah yang menyebabkan pemerintah membatalkan pemungutan suara di sana dalam pemilihan presiden, bulan lalu.

Juru bicara hak asasi manusia PBB Ravina Shamdasani berkata: "Saya harus menekankan bahwa 890 adalah jumlah orang yang kita ketahui yang benar-benar dikuburkan."

"Tetapi ada laporan bahwa banyak orang lain mungkin terbunuh dan tubuh mereka mungkin sudah dibuang di Sungai Kongo atau mereka mungkin telah dibakar sampai mati," katanya, seperti dikutip dari laman Metro.co.uk, Rabu 16 Januari 2019.

Menurut Shamdasani, kekerasan pecah karena perselisihan terkait dengan pemakaman seorang kepala suku. Michelle Bachelet, Direktur HAM PBB, mengatakan para pelaku harus diadili atas 'kekerasan mengejutkan' yang meletus antara komunitas Banunu dan Batende di Provinsi Mai-Ndombe.

Kantor HAM PBB mengatakan telah meluncurkan penyelidikan, bersama dengan otoritas nasional di Kongo. Pertikaian komunal dan penjarahan yang meluas di sekitar kota Yumbi menyebabkan sekitar 16.000 orang mencari perlindungan dengan menyeberangi Sungai Kongo ke Republik Kongo, menurut pernyataan kantor hak asasi PBB.

Dikatakan: "Menurut dugaan dari sumber yang dapat dipercaya, sedikitnya 890 orang tewas antara 16 dan 18 Desember di empat desa di wilayah Yumbi, provinsi Mai-Ndombe di barat DRC, dalam apa yang tampaknya merupakan bentrokan antara Banunu. dan komunitas Batende."

Sementara pertumpahan darah itu tidak secara langsung terkait pemilu, seorang aktivis lokal mengaku, pada Desember ketegangan antara kedua kelompok etnis telah tumbuh karena para pemimpin Batende mendukung koalisi yang berkuasa, sementara para pemimpin Banunu mendukung kandidat oposisi.


(FJR)