Israel Inginkan Imigran Afrika Pergi Atau Hadapi Penjara

Arpan Rahman    •    Rabu, 03 Jan 2018 20:12 WIB
israel
Israel Inginkan Imigran Afrika Pergi Atau Hadapi Penjara
Israel ancam imigran dari Afrika untuk keluar dari wilayahnya (Foto: AFP).

Tel Aviv: Israel menginformasikan ribuan warga Afrika yang memasuki negara tersebut secara ilegal bahwa mereka memiliki waktu tiga bulan untuk pergi atau menghadapi hukuman penjara tanpa batas waktu.
 
Keputusan tersebut,-yang ditentang oleh kelompok hak asasi manusia,- menyusul spekulasi selama berbulan-bulan mengenai masa depan migran dan fasilitas penahanan Holot di gurun Negev, yang menurut pemerintah hendak ditutup.
 
Sering muncul perdebatan sengit tentang kehadiran sekitar 40.000 migran Afrika di Israel, banyak yang berasa dari Eritrea dan Sudan.
 
Usulan agar para migran yang tidak memiliki aplikasi pengungsi, atau yang aplikasinya tertunda, akan menerima pemberitahuan kemudian mereka diwajibkan hadir di kantor kementerian dalam negeri untuk memperbarui izin tinggal mereka. Selain menyuruh mereka meninggalkan Israel atau menghadapi pemenjaraan yang tidak pasti.
 
Rincian rencana itu diungkapkan pekan ini dalam sebuah pernyataan oleh Menteri Dalam Negeri Israel, Arye Deri, dan Menteri Keamanan Publik, Gilad Erdan. Mereka mengatakan bahwa migran hanya memiliki "dua pilihan saja: deportasi sukarela atau mendekam di penjara."
 
Para kritikus telah menunjukkan bahwa pilihan untuk pergi, jauh dari sukarela, jika alternatifnya adalah penjara.
 
Tidak jelas apakah Mahkamah Agung Israel, yang telah ikut campur dalam masalah migran sebelumnya, akan melakukannya lagi.
 
Sebagian besar migran tiba di Israel pada paruh kedua dekade terakhir, menyeberang dari Mesir sebelum pihak keamanan baru di perbatasan menutup rute tersebut.
 
Kelompok-kelompok termasuk Pusat Pengungsi dan Migran, Amnesty International Israel, dan Asosiasi Hak-hak Sipil di Israel sudah menandatangani sepucuk surat yang menuntut agar pengusiran dihentikan. "Siapa pun yang memiliki hati nurani harus menentang pengusiran para pengungsi," kata surat itu, seperti disitat Guardian, Rabu 3 Januari 2018.
 
Mengacu pada kesepakatan yang dilaporkan secara luas untuk membayar Rwanda USD5.000 per orang agar menerima migran, ditambahkan: "Rwanda bukanlah tempat yang aman. Semua bukti menunjukkan bahwa siapa pun yang diusir dari Israel ke Rwanda menemukan dirinya di sana tanpa status dan tanpa hak, terkena ancaman, penculikan, penyiksaan, dan perdagangan manusia."
 
Rwanda telah mengatakan bisa menampung sebanyak 10.000 orang. Penyelidikan oleh Hotline for Refugees and Migrants, sebuah LSM, menemukan bahwa orang-orang yang setuju untuk pergi ke Rwanda rentan terhadap sejumlah ancaman termasuk pemenjaraan, kekerasan, dan pemerasan.
 
Baru-baru ini komisaris tinggi PBB untuk pengungsi, Filippo Grandi, mengkritik rencana yang muncul tersebut. "Keputusan pemerintah Israel mengusir 40.000 pencari suaka Afrika sangat memprihatinkan," katanya. 
 
"Israel memiliki sejarah migrasi dan pengasingan yang menyakitkan. Generasi baru tidak boleh lupa bahwa pengungsi tidak melarikan diri dari sebuah pilihan, tapi karena mereka tidak punya pilihan lain," pungkasnya.



(FJR)


Pameran Replika Stasiun Kereta Api Bersejarah di AS

Pameran Replika Stasiun Kereta Api Bersejarah di AS

4 hours Ago

Ribuan pengunjung setiap tahun datang ke U.S. Botanic Garden atau Kebun Raya AS di Washington untuk…

BERITA LAINNYA