Hariri Akan Pastikan Posisi di Pemerintahan Lebanon

Arpan Rahman    •    Minggu, 19 Nov 2017 17:06 WIB
konflik lebanon
Hariri Akan Pastikan Posisi di Pemerintahan Lebanon
PM Lebanon Saad Hariri diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris (Foto: AFP).

Paris: Perdana Menteri Saad Hariri mengatakan akan kembali ke Lebanon untuk memperingati perayaan Hari Kemerdekaan, Rabu mendatang. Ia hendak menjelaskan situasi setelah pengumuman pengunduran dirinya yang mengejutkan di Arab Saudi ternyata memicu kekacauan politik.

(Baca: Hariri Akan Hadiri Perayaan Hari Kemerdekaan Lebanon).

Berbicara sesudah dialog di Paris, pada Sabtu 18 November, dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Hariri mengatakan bahwa dia ingin "memastikan posisi saya" di Beirut. Macron sendiri berusaha menjadi perantara jalan keluar dari krisis ini.

"Seperti yang Anda tahu saya telah mengundurkan diri, dan kami akan membahasnya di Lebanon," katanya kepada wartawan, seperti dilansir AFP, Minggu 19 November 2017. Dikatakan bahwa dia perlu bertemu dengan Presiden Michel Aoun sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

Kabar tersebut menyusul dua pekan ketidakpastian yang mencuat setelah pengumuman mengejutkan Hariri untuk mengundurkan diri pada 4 November.

Kegagalannya kembali ke Lebanon sejak itu memicu desas-desus bahwa dia ditahan di Riyadh karena keputusannya. Isu itu dibantah Hariri dan para pejabat Saudi.

"Mengatakan bahwa saya ditahan di Arab Saudi dan tidak diizinkan meninggalkan negara tersebut adalah sebuah kebohongan," katanya di sebuah postingan Twitter sebelum terbang ke Paris dalam semalam.

Istri Hariri dan putra sulungnya, Houssam, bergabung untuk makan siang bersama Macron di Istana Elysee. Namun kedua anak mereka yang lebih muda, ditinggalkan di Arab Saudi, tetap di sana "untuk ujian sekolah mereka", menurut sumber yang dekat dengan perdana menteri.

Usai pertemuan, kantor Macron mengatakan bahwa presiden akan "terus mengambil semua inisiatif penting demi stabilitas Lebanon."

"Kami membantu meredakan ketegangan di wilayah ini," Istana Elysee menambahkan.

Keputusan misterius Hariri untuk mundur -- yang ditolak Presiden Aoun lantaran Hariri masih berada di luar negeri -- telah menimbulkan kekhawatiran akan demokrasi Lebanon yang rapuh.

Kubu Hariri sudah berupaya meredakan masalah tersebut. Sebuah sumber mengatakan bahwa perdana menteri mengadakan pertemuan "yang membuahkan hasil dan konstruktif" dengan putra mahkota Saudi yang berkuasa.

Hariri -- yang ayahnya, mantan perdana menteri Rafiq Hariri, tewas dalam sebuah pengeboman mobil pada 2005, yang disalahkan pada Hizbullah -- tahun lalu mengambil alih kepala pemerintahan persatuan nasional yang goyah, termasuk gerakan Syiah yang kuat.

Sebagai warga negara Arab ganda yang sebelumnya menikmati dukungan Riyadh, dia mengundurkan diri karena mengkhawatirkan keselamatan jiwanya.

Dia menuding rival utama Arab Saudi, Iran dan sekutunya di Lebanon yang kuat, Hizbullah, membuat negaranya tidak stabil.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir dalam pada itu bersikeras dari Madrid, pada Jumat. Bahwa "kecuali Hizbullah melucuti senjata dan menjadi partai politik, Lebanon akan disandera oleh Hizbullah dan, lebih luas lagi, Iran".

Perang demi pengaruh

Pengunduran diri Hariri secara luas dipandang sebagai eskalasi pertempuran untuk mendapatkan pengaruh antara Arab Saudi yang Sunni dan Iran Syiah, yang mendukung pihak-pihak yang bertikai dalam konflik di Suriah dan Yaman.

Upayanya untuk mundur juga bertepatan dengan pembersihan lebih dari 200 pangeran, menteri, dan pengusaha Saudi.

Riyadh pada Sabtu memulangkan duta besarnya dari Berlin untuk memprotes komentar dari Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel yang ditafsirkan sebagai kesan bahwa Hariri bertindak berdasarkan perintah Saudi.

Tanpa menyebutkan Saudi secara langsung, Gabriel mengatakan, pada Kamis, bahwa dia khawatir tentang ancaman ketidakstabilan dan pertumpahan darah di Lebanon dan memperingatkan "petualangan".

(Baca: Menlu Jerman Komentari Isu PM Lebanon, Arab Saudi Tarik Dubes dari Berlin).

"Lebanon telah mendapatkan hak untuk memutuskan nasibnya sendiri dan tidak menjadi bola pingpong Suriah atau Arab Saudi atau kepentingan nasional lainnya," katanya pada awal pekan ini.

Kemenlu Jerman belum memberikan komentar mengenai perselisihan tersebut, namun dalam sebuah pernyataan, pihaknya menyambut kembali "kembalinya segera Hariri ke Lebanon".

Mulainya solusi

Intervensi Prancis yang terbaru dalam serangkaian upaya Eropa buat meredakan ketegangan di Lebanon. Di mana perpecahan antara kelompok Sunni Hariri dan Syiah Hizbullah telah lama menjadi titik pusat dalam pertarungan yang lebih luas antara Riyadh dan Teheran.

Paris, yang memegang mandat kekuasaan atas Lebanon di paruh pertama abad ke-20, berencana menyatukan dukungan internasional bagi Lebanon, tergantung pada bagaimana situasinya berkembang.

Presiden Prancis juga sudah menelpon mitra-mitranya di Amerika Serikat dan Mesir, Donald Trump dan Abdel Fattah al-Sisi, serta Pangeran Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres guna membahas situasi di Timur Tengah .

Dia dan Trump "menyetujui perlunya bekerja dengan sekutu demi menentang aksi Hizbullah dan Iran yang tidak stabil dikawasan tersebut", menurut sebuah pernyataan Gedung Putih, Sabtu.

Namun, Macron mengatakan kepada wartawan, pada Jumat, bahwa Prancis menginginkan "dialog" dengan Iran dan bertujuan "membangun perdamaian, untuk tidak berpihak ke satu kubu atas kubu yang lain".

Menjelang keberangkatan Hariri, Aoun -- sekutu Hizbullah -- menyambut perjalanan ke Paris, dengan harapan bahwa itu adalah "permulaan sebuah solusi".

"Jika Hariri berbicara dari Prancis, saya akan mempertimbangkan untuk berbicara secara bebas," kata Aoun.

"Tapi pengunduran dirinya harus dipresentasikan di Lebanon, dan dia harus tetap di negeri ini sampai terbentuknya pemerintahan baru," cetusnya.


(FJR)