Kekerasan di Gaza dan Trauma Anak-anak Palestina

Marcheilla Ariesta    •    Kamis, 29 Nov 2018 14:58 WIB
palestina israel
Kekerasan di Gaza dan Trauma Anak-anak Palestina
Anak-anak Palestina di perbatasan Rafah duduk di tumpukan bantuan makanan dari UNRWA. (Foto: AFP).

Depok: Bentrokan antara masyarakat Palestina dan militer Israel di jalur Gaza membuat anak-anak trauma. Tak hanya itu, ratusan anak-anak di bawah umur juga dipenjarakan oleh militer Negeri Zionis.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun menuturkan sekitar 200 anak dipenjara oleh tentara Israel. "Kekerasan Israel terhadap warga kami harus dihentikan," katanya di Hari Solidaritas Internasional Palestina, di Depok, Jawa Barat, Kamis 29 November 2018.

Sementara itu, Direktur Said Aqil Siradj (SAS) Imdadun Rahmat mengatakan tak hanya memenjarakan anak-anak, militer Israel juga merusak properti di Tepi Barat. "Rumah anak-anak yang ditangkap juga banyak yang dirusak oleh para militer," tuturnya.

Selain itu, Imdadun menuturkan Israel juga menerapkan pola sistematik untuk mengusir warga Palestina dari sekitar Yerusalem Timur. Dia mengatakan awalnya Israel menerapkan kependudukan 70 persen untuk mereka dan 30 persen untuk Palestina.

"Namun, belakangan jadi nol persen untuk Palestina," tuturnya.

Imdadun setuju dengan pernyataan Dubes Zuhair yang menyebutkan Negeri Bintang Daud mengepung wilayah Palestina sehingga masyarakat susah bergerak.

Selain itu, menurut Imdadun, harus ada kritik terhadap Arab Saudi yang melarang pengungsi Palestina untuk berhaji. "Dari kebijakan ini, bisa bertujuan mengurangi warga Palestina untuk kembali ke negaranya," tukas dia.

Bentrokan terus terjadi di wilayah Gaza dan Tepi Barat. Ratusan warga Palestina terluka akibat serangan senjata dari militer Israel. Begitu pun puluhan anggota militer Israel gugur akibat balasan dari warga Palestina.

Indonesia menyerukan kepada negara-nrgara dunia untuk menegaskan kembali posisi solusi dua negara atas kasus Palestina. Indonesia terus menyebutkan kemerdekaan Palestina berada di jantung politik luar negeri RI.


(FJR)