Israel: Assad Punya Tiga Ton Senjata Kimia

Arpan Rahman    •    Kamis, 20 Apr 2017 13:59 WIB
krisis suriah
Israel: Assad Punya Tiga Ton Senjata Kimia
Bocah yang menjadi korban serangan gas beracun di Suriah (Foto: Dogan).

Metrotvnews.com, Yerusalem: Suriah masih memiliki tiga ton senjata kimia, menurut sejumlah pejabat pertahanan Israel, pada Rabu 19 April. Klaim itu menjadi penilaian intelijen spesifik pertama atas daya persenjataan Presiden Bashar al-Assad sejak serangan kimia mematikan, awal bulan ini.
 
Taksiran tersebut muncul saat kepala pengawas senjata kimia internasional mengatakan bahwa tes laboratorium telah memberi bukti yang tidak dapat dibantah bahwa korban tewas dan korban selamat dari serangan 4 April di Suriah utara terkena gas saraf sarin atau toksin serupa yang dilarang.
 
Israel, bersama Amerika Serikat (AS) dan sebagian besar masyarakat internasional, telah menuduh pasukan Assad melakukan serangan tersebut, yang menewaskan setidaknya 90 orang, termasuk puluhan anak-anak.
 
Seorang pejabat senior militer Israel mengatakan bahwa intelijen Israel yakin para komandan militer Suriah memerintahkan serangan tersebut dengan sepengetahuan Assad. Dalam jumpa pers, dia berkata Israel memperkirakan Assad masih memiliki 'antara satu sampai tiga ton' senjata kimia.
 
Penilaian tersebut dikonfirmasi oleh dua pejabat pertahanan Israel lainnya. Semua pejabat berbicara secara anonim di bawah peraturan militer.
 
Assad membantah keras berada di balik serangan di kota Khan Sheikhoun yang dikuasai oposisi di Provinsi Idlib, Suriah utara. Ia telah menuduh oposisi berusaha menjebak pemerintahannya. Sekutu utama Assad, Rusia, sudah menyatakan serangan udara pemerintah Suriah ke sebuah pabrik senjata kimia pemberontak, yang menyebabkan bencana tersebut.
 
Sebagai tanggapan atas serangan 4 April, AS melepaskan 59 rudal ke sebuah pangkalan udara Suriah yang diketahui menjadi landasan peluncuran serangan tersebut. Israel menyambut baik serangan yang menyasar negeri tetangganya di utara.
 
Pemerintah Suriah terperangkap dalam perang sipil enam tahun melawan sejumlah kekuatan oposisi. Pertikaian tersebut telah menewaskan sekitar 400.000 orang dan mengungsikan separuh dari populasi Suriah.
 
Israel sebagian besar tidak terlibat dalam pertempuran, meskipun telah melancarkan sejumlah serangan udara mengarah ke pengiriman senjata yang diduga asal Iran yang diyakini memasok kelompok militan Hizbullah Libanon. Iran dan Hizbullah, keduanya musuh bebuyutan Israel, bersama Rusia telah mengirim pasukan buat mendukung Assad.
 
Setelah intervensi Rusia pada September 2015, Israel dan Moskow membuka sebuah sambungan telepon langsung demi mengkoordinasikan aktivitas militer di Suriah. Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman akan terbang ke Moskow pekan depan guna melakukan pembicaraan dengan pejabat senior Rusia.
 
Suriah sudah setuju melucuti persenjataan senjata kimia demi mencegah serangan balasan AS atas serangan senjata kimia di daerah yang dikuasai oposisi Damaskus pada Agustus 2013 yang menewaskan ratusan orang dan memicu kemarahan di seluruh dunia.
 
Menjelang pelucutan senjata tersebut, pemerintah Assad mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki sekitar 1.300 ton senjata kimia, termasuk sarin, gas saraf VX, dan gas mustard.
 
Seluruh gudang tersebut dikatakan telah dibongkar dan dikirim keluar di bawah pengawasan internasional pada 2014 dan dihancurkan. Tapi keraguan mulai muncul bahwa tidak semua fasilitas persenjataan atau produksi yang diumumkan tersebut sudah dihancurkan. Terdapat juga bukti bahwa kelompok Islamic State (ISIS) dan pemberontak lainnya telah mendapatkan senjata kimia.
 
Dan Kaszeta, ahli senjata kimia berbasis di Inggris, mengatakan perkiraan Israel tampaknya konservatif, namun tetap saja cukup mematikan.
 
"Satu ton sarin dapat dengan mudah digunakan untuk melakukan serangan hingga mencapai skala serangan 2013, yang juga bisa digunakan setara 10 serangan pada ukuran yang sama dengan serangan Khan Sheikhoun baru-baru ini," katanya, seperti dinukil News24 dari Associated Press, Kamis 20 April 2017.
 
Sebuah misi pencari fakta dari Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW), sebuah badan pengawas internasional, sedang menyelidiki insiden 4 April dan pada Rabu direktur jenderalnya, Ahmet Uzumcu, mengatakan bahwa hasil "dari empat laboratorium yang diperiksa oleh OPCW menunjukkan paparan terhadap sarin atau Zat seperti sarin. "
 
Dia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa hasil lebih lanjut akan diumumkan, namun "hasil analisis yang telah diperoleh tidak terbantahkan". Badan tersebut, yang berbasis di Den Haag, Belanda, diperkirakan akan menerbitkan sebuah laporan dalam waktu dua pekan.
 
Sejumlah tes yang dilakukan Turki dan Inggris juga menyimpulkan bahwa sarin atau zat yang mirip dengan gas saraf mematikan digunakan dalam serangan Idlib.
 
Awal pekan ini, mantan kepala riset senjata kimia Assad mengatakan kepada suratkabar The Telegraph bahwa Suriah memiliki "setidaknya 2.000 ton" senjata kimia sebelum perang dan hanya mengumumkan 1.300. Mantan Brigadir Jenderal Zaher al-Sakat mengatakan bahwa pemerintah Suriah masih memiliki ratusan ton senjata kimia.



(FJR)