Tewas Dipenggal ISIS, Prajurit Iran Dianggap sebagai Martir

Arpan Rahman    •    Rabu, 27 Sep 2017 19:25 WIB
isisiran
Tewas Dipenggal ISIS, Prajurit Iran Dianggap sebagai Martir
Mohsen Hojaji dianggap sebagai pahlawan Iran dalam menghadapi ISIS (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Teheran: Pemimpin tertinggi Iran dan ribuan warga, Rabu 27 September, meratapi seorang tentara Garda Revolusi muda yang dipancung oleh kelompok militan Islamic State (ISIS). Aksi pembunuhan itu telah menyerang urat syaraf di dalam Republik Iran yang pasukannya terus menderita korban di Irak dan Suriah.
 
Pembantaian Mohsen Hojaji 25 tahun, tertangkap imajinasi banyak orang di Iran sebagai wahana berkabung dan mengakui pengorbanannya suci. Sejak kematiannya, para seniman dan warga lainnya mengabadikan Hojaji dalam video dan lukisan. Sementara diskusi tentang pembantaiannya telah meredam kritik domestik terhadap operasi militer Iran di ranah asing, terutama di Suriah.
 
Pemakamannya di Teheran dilayat Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei, yang berdoa di dekat peti mati terbungkus bendera Iran. Para penduka kemudian meletakkan bunga di atas peti jenazah, sementara di jalan prajurit Garda paramiliter berbaur dengan para pria yang mengenakan pita  hitam dan wanita berkerudung hitam panjang. Banyak yang membawa potret bergambar Hojaji, sedangkan yang lain membentangkan bendera hitam yang biasa dibentangkan pada peringatan Muharram, hari berkabung kaum Syi'ah.
 
Banyak pejabat pemerintah saat ini dan mantan, termasuk juru bicara parlemen Ali Larijani dan mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, menghadiri pemakaman tersebut. Politikus juga ikut berkabung, saat seorang ulama menuduh Israel dan Amerika Serikat berada di balik kelompok ISIS, dengan teriakan "Kematian untuk Israel" dan "tumbanglah dengan Amerika" dari para hadirin.
 
"Kami bersumpah atas darah Hojaji, kami tidak akan berpangku tangan sampai menghancurkan Israel," ulama Ali Reza Pahanhian berkata dari podium. 
 
"Israel, kami bersumpah demi kepala Hojaji bahwa kami akan memenggal pemimpin Anda. Para pengawal! Siapkan rudal Anda untuk pemusnahan Israel," serunya seperti dikutip AFP, Rabu 27 September 2017.
 
Hojaji adalah salah satu dari banyak anggota Guard dan sukarelawan yang terbunuh di Irak saat mendampingi milisi Syiah yang memerangi kelompok ISIS atau di Suriah, di mana pasukan Iran mendukung Presiden Bashar Assad yang diperangi pemberontak.
 
Tapi sementara kelompok ISIS mencoba menggunakan pemenggalan kepala Hojaji sebagai propaganda, banyak kalangan di Iran melihatnya secara berbeda. Sebuah gambar Hojaji dari sebuah video ISIS, menunjukkan dirinya dengan teguh berdiri setelah penangkapannya dilatari asap yang membubung di gurun Suriah. Imaji itu mengilhami rasa patriotisme di sebuah negara di mana sejumlah pihak sudah bosan dengan operasi militernya di luar negeri.
 
"Lihatlah foto itu, tidak ada tanda-tanda menyerah meski dia ditembak dan ditangkap," jandanya Zahra Abbasi, 23 tahun, mengatakan kepada media Iran. 
 
"Tidak ada ketakutan di matanya. Itu semua kegagahan, keberanian. Dia seperti sebongkah gunung," cetusnya.
 
Artis grafis Hassan Rouholamini mengambil alih tampilan itu dan melukiskannya kembali: Hojaji disambut oleh orang suci Syi'ah ketiga, Hussein, cucu Nabi Muhammad. Hussein sendiri dipenggal pada Pertempuran Karbala -- atau di kawasan Irak saat ini -- pada abad ke-7, sebuah peristiwa yang akan ditandai oleh warga Iran kelak dengan peringatan Asyura.
 
Khamenei sendiri bahkan menyebut Hojaji sebagai "martir terkasih" dalam sebuah pidato.
 
"Tuhan meninggikan Hojaji sebagai bukti banyak anak muda" yang bersedia untuk berperang dan gugur membela Islam, kata pemimpin tertinggi Iran.
 
Presiden Iran Hassan Rouhani, ulama moderat yang mengkritik Garda dalam kampanye pemilu, juga memuji Hojaji. Karena telah menunjukkan bagaimana orang-orang Iran siap mengorbankan diri mereka demi kebaikan yang lebih besar.
 
Kematian Hojaji telah menyebabkan persatuan yang jarang terjadi di kalangan garis keras, moderat, dan reformis di Iran. Banyak aktivis, seniman, atlet, selebriti, dan politisi, termasuk Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, menyampaikan belasungkawa dan menyatakan simpati.
 
Kematiannya juga membungkam beberapa kritik terhadap operasi militer asing Iran, terutama di Suriah. Pada Mei, mantan walikota reformis Teheran, Gholamhossein Karbashchi, mengatakan dalam sebuah pidato publik bahwa diplomasi dan bukan kehadiran militer dapat memecahkan masalah di Suriah.
 
Jenazah Hojaji pertama kali dibawa ke kota suci Masyhad di Iran untuk didoakan di kuil Imam Reza, delapan Imam Syiah. Dia akan dikebumikan pada Kamis di kampung asalnya Najafabad, sekitar 400 kilometer selatan Teheran.



(FJR)