AS Tuduh Iran Memprovokasi Bahaya

Arpan Rahman    •    Kamis, 20 Apr 2017 18:14 WIB
as-iran
AS Tuduh Iran Memprovokasi Bahaya
Menlu AS Rex Tillerson tuduh Iran memprovokasi bahaya (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Washington: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson menuduh Iran sedang menebar provokasi membahayakan yang bertujuan mengguncang Timur Tengah dan merongrong kepentingan Amerika di wilayah tersebut.
 
"Iran yang tidak terkendali memiliki potensi untuk membuat urusan yang sama seperti Korea Utara dan menjerumuskan dunia ke dalamnya," kata Tillerson.
 
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memerintahkan peninjauan kembali kesepakatan nuklir Iran. Namun, AS mengakui bahwa Teheran mematuhi kesepakatan pada 2015 tersebut. 
 
Pihak Iran sejauh ini tidak memberi komentar kepada publik mengenai perkembangan terakhir. Mereka telah berulang kali membantah tuduhan oleh pihak Barat soal percobaan mengembangkan senjata nuklir.
 
Pada Selasa 18 April, Washington menuduh Korut mencoba "memprovokasi sesuatu", setelah Pyongyang melakukan uji coba rudal yang gagal, akhir pekan ini.
 
Korut mengatakan bisa menguji rudal setiap pekan, dan memperingatkan "perang habis-habisan" jika AS mengambil tindakan militer.
 
Apa yang AS lakukan dengan Iran?
 
Dalam sebuah pernyataan, pada Rabu, Tillerson katakan sebuah peninjauan, yang telah dilontarkannya dalam sepucuk surat kepada Kongres sehari sebelumnya, akan menilai secara keseluruhan kebijakan AS terhadap Iran -- yang menelaah tidak hanya kepatuhan Teheran terhadap kesepakatan nuklir, melainkan juga tindakannya di Timur Tengah.
 
Dia menuduh negara itu "melakukan provokasi yang mengkhawatirkan dan mengancam dengan ekspor teror dan kekerasan, mengguncang lebih dari satu negara pada waktu bersamaan".
 
"Iran adalah sponsor terorisme terkemuka di dunia dan bertanggung jawab sebab mengintensifkan banyak konflik dan merongrong kepentingan AS di negara-negara seperti Suriah, Yaman, Irak, dan Lebanon, dan terus mendukung serangan terhadap Israel," cetusnya, seperti dikutip BBC, Kamis 20 April 2017.
 
Sebagai bagian dari daftar panjang tuduhan, dia mengkritik keterlibatan Iran dalam konflik Suriah dan dukungannya untuk Presiden Bashar al-Assad.
 
Menlu AS sebelumnya mengakui bahwa Iran telah memenuhi persyaratan kesepakatan nuklir 2015. Namun dia mengatakan ambisi nuklirnya tetap "merupakan risiko serius bagi perdamaian dan keamanan internasional".
 
Apa kesepakatan nuklir Iran?
 
Kesepakatan pada 2015 memuat sanksi ketat yang diberlakukan sesudah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengabsahkan Teheran telah membatasi aktivitas nuklirnya yang sensitif.
 
Barack Obama beralasan kesepakatan antara Iran dan enam kekuatan dunia termasuk Tiongkok, Rusia, dan Inggris, sebagai cara terbaik demi mencegah Iran membiakkan senjata nuklir.
 
Namun Presiden Trump telah menggambarkan kesepakatan penting tersebut sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah ada".
 
Bagaimana posisi AS berubah?
 
Begini, analisis oleh koresponden Departemen Luar Negeri BBC, Barbara Plett Usher:
 
Dalam mengumumkan sebuah tinjauan luas mengenai kebijakan Iran, pemerintah Trump tidak mengabaikan kesepakatan nuklirnya.
 
Tapi Rex Tillerson telah muncul cukup gamblang untuk mengatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak layak dilakukan, meskipun dia harus mengakui itu berhasil.
 
Pekan ini, Menlu AS memberi tahu Kongres bahwa Teheran tetap bergeming pada tawar-menawar untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi, yang harus dikonfirmasikan setiap 90 hari.
 
Namun, dalam ucapan lisan, dia hanya membicarakan perilaku buruk Iran dan menghubungkannya dengan masa depan kesepakatan -- sebuah pesan yang akan bergema jauh lebih keras di Capitol Hill dan yang mungkin ditujukan untuk itu memang.
 
Mantan Presiden Barack Obama akan setuju dengan semua tuduhan: bahwa Iran adalah negara sponsor terorisme, bahwa hal itu mendukung proksi yang melemahkan kepentingan AS di wilayah tersebut, bahwa hal itu bertentangan dengan Israel dan uji coba rudal balistiknya menantang larangan Dewan Keamanan PBB.
 
Namun Obama tetap mempertahankan isu-isu demikian terpisah dari kesepakatan nuklir, yang tidak mungkin dicapai tanpa fokus sempit tersebut.
 
Tillerson, di sisi lain, menyebutnya sebagai pendekatan yang keliru dan mengatakan bahwa sebuah tinjauan akan menilai secara menyeluruh semua ancaman yang ditimbulkan oleh Iran.
 
Apa hubungannya dengan Korut?
 
Presiden Donald Trump telah meningkatkan tekanan AS terhadap Korut, yang menggalakkan uji coba nuklir dan rudalnya dalam beberapa tahun terakhir, terlepas dari kecaman internasional dan sanksi PBB.
 
Tujuan Korut menempatkan sebuah hulu ledak nuklir di sebuah rudal balistik antarbenua yang dapat menjangkau target di seluruh dunia, termasuk AS.
 
Trump katakan bahwa itu tidak akan terjadi, dan semua pilihan sudah tersedia guna menangani Pyongyang. Pada Rabu, Tillerson mengulangi pandangan pemerintahan Trump bahwa "kesabaran strategis menjadi pendekatan yang gagal".
 
Dan dia berkata, AS ingin mengubah haluan sebelum Iran menjadi "bukti kedua" dalam urusan ini. Namun, Iran berkilah punya hak buat mendapatkan energi nuklir -- dan menekankan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.



(FJR)