Protes Berdarah Berlanjut, Ethiopia Umumkan Status Darurat

Arpan Rahman    •    Senin, 10 Oct 2016 17:00 WIB
konflik ethiopia
Protes Berdarah Berlanjut, Ethiopia Umumkan Status Darurat
Unjuk rasa berdarah di Oromia memaksa pemerintah menetapkan status darurat, 9 Oktober 2016. (Foto: Tiksa Negeri/Reuters)

Metrotvnews.com, Addis Ababa: Pemerintah Ethiopia mengumumkan status darurat menyusul kekerasan anti-pemerintah yang telah terjadi dalam sepekan terakhir, Minggu (9/10/2016). Protes telah mengakibatkan kematian dan kerugian harta benda di seluruh negeri, terutama di wilayah Oromia.

Seperti dikutip The Guardian, sejumlah kelompok hak asasi manusia mengatakan, sejak tahun lalu lebih dari 500 orang tewas dalam berbagai protes di Oromia, sekitar ibukota Addis Ababa, 

Kemarahan dipicu urusan skema modal pembangunan berubah menjadi demonstrasi anti-pemerintah yang lebih luas mengenai politik dan pelanggaran HAM. Padahal pemerintah mempromosikan Ethiopia sebagai salah satu negara dengan kinerja ekonomi teratas Afrika.

Dalam pidato televisi, pada Minggu 9 Oktober, Perdana Menteri Ethiopia Hailemariam Desalegn mengatakan, keadaan darurat diberlakukan karena kerugian harta benda sudah "besar sekali" .

"Kami menempatkan keselamatan warga negara kita di urutan pertama. Selain itu, kami ingin mengakhiri kerusakan yang sedang dilakukan terhadap proyek-proyek infrastruktur, lembaga pendidikan, pusat kesehatan, bangunan pemerintah, dan gedung pengadilan," kata Desalegn kepada media pemerintah, Ethiopia Broadcasting Corporation.

"Perkembangan terbaru di Ethiopia telah menempatkan risiko pada integritas bangsa," katanya.

"Keadaan darurat tidak akan melanggar hak asasi manusia yang dijamin di bawah konstitusi Ethiopia dan tidak akan juga mempengaruhi hak diplomatik yang berlaku di bawah Konvensi Wina," ucap Desalegn.

Jaringan internet hilang di banyak bagian dari Ethiopia sejak akhir pekan kemarin. Pemerintah telah memblokade akses ke dunia maya selama lebih dari sepekan untuk mencegah pengunjuk rasa menggunakan media sosial untuk mengajak lebih banyak orang menggelar protes.

Beberapa kota besar dan kota di seluruh wilayah Oromia, Ethiopia, mengalami kerusuhan. Lebih dari 50 orang tewas dalam kekacauan yang dipicu tembakan gas air mata dan peluru polisi untuk membubarkan demonstran dalam perayaan Irrecha, syukuran tahunan di kota Bishoftu, pada 2 Oktober.

Seorang wanita asal Amerika Serikat tewas pekan lalu setelah dihantam sebuah batu yang dilemparkan pengunjuk rasa. Beberapa kawasan bisnis telah menjadi target protes lantaran diduga punya hubungan dengan pemerintah.






(WIL)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA