Yaman Desak Houthi Mundur Sepenuhnya dari Hudaida

Willy Haryono    •    Kamis, 28 Jun 2018 11:12 WIB
konflik yaman
Yaman Desak Houthi Mundur Sepenuhnya dari Hudaida
Pejuang pro pemerintah Yaman berkumpul di Hudaida, 18 Juni 2018. (Foto: AFP)

Aden: Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi meminta pemberontak untuk mundur sepenuhnya dari kota Hudaida. Kabar disampaikan seorang sumber dari pemerintah Yaman, usai berdiskusi dengan utusan PBB untuk Yaman Martin Griffiths di Aden, Rabu 27 Juni 2018.

Griffiths bertemu Presiden Hadi dalam kelanjutan dialog dalam mencari solusi menurunkan ketegangan di Yaman. "Presiden Hadi berkukuh perlunya Houthi untuk mundur tanpa syarat dari Hudaida, atau bersiap menghadapi solusi militer," ujar seorang sumber dari pemerintah Yaman kepada AFP.

Permintaan dari presiden juga muncul dalam laporan di kantor berita SABA, yang menyebutkan bahwa "pemerintah juga meminta penarikan mundur penuh dari provinsi Hudaida, termasuk pelabuhannya."

Seorang sumber diplomatik mengatakan Houthi sepakat melepaskan kekuasaannya di Hudaida kepada PBB. Pernyataan ini belum dapat dikonfirmasi PBB.

Desakan agar Houthi mundur sejalan dengan yang disuarakan beberapa sekutu Yaman. Senin kemarin, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Anwar Gargash menyebut bahwa mundurnya Houthi dari pelabuhan Hudaida dan juga kotanya adalah sesuatu yang "esensial" dan perlu segera diwujudkan.

Pada 13 Juni, UEA dan para sekutunya, termasuk Arab Saudi, meluncurkan operasi militer masih bertajuk "Kemenangan Emas" untuk mengusir Houthi dari Hudaida.

Hudaida merupakan sesuatu yang penting karena sekitar 70 persen impor ke Yaman masuk melalui pelabuhan di kota tersebut.

Hampir 10 ribu orang tewas dalam perang di Yaman sejak 2015, saat Arab Saudi dan para sekutunya mendukung pemerintahan Presiden Hadi melawan Houthi.

PBB telah menyebut perang di Yaman sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia.


(WIL)