Apiknya Pemuda Asing Melakukan Pentas Kebudayaan Indonesia

Fajar Nugraha    •    Kamis, 05 Jul 2018 08:55 WIB
Beasiswa Seni dan Budaya
Apiknya Pemuda Asing Melakukan Pentas Kebudayaan Indonesia
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di pagelaran seni penerima beasiswa seni dan budaya 2018. Dok. Kemenlu.

Jakarta: Melihat warga asing pentas seni dan kebudayaan Indonesia sangatlah membanggakan. Hal ini tampak jelas terlihat dalam pagelaran Indonesia Channel 2018.

Mereka yang melakukan pentas budaya adalah pemuda dan pemudi dari 44 negara sahabat yang menerima Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia 2018 dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Persiapannya singkat, tetapi pertunjukan yang disajikan 72 peserta ini luar biasa.

Dalam pagelaran yang berjalan kurang lebih dua jam ini, peserta menampilkan seni dan budaya dari Sumatera Barat, Bayuwangi, Bali, Kutai Kertanegara, Makassar, Yogyakarta dan daerah lain. Sedikit janggal memang, tapi kebanggaan terlihat karena pemuda asing itu menguasai keterampilan yang ditampilkan dalam waktu singkat.

“Luar biasa dan saya sempat terharu, dalam artian bahwa dalam waktu tiga bulan mereka teman-teman kita dari luar, dari 44 negara dapat mementaskan tarian-tarian tradisional indonesia yang berbeda-beda, dan tidak hanya menampilkan seadanya. Tetapi saya kira kita semua para penonton setuju penampilan mereka malam ini luar biasa,” ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Rabu, 4 Juli 2018.


Pagelaran seni penerima beasiswa seni dan budaya 2018 di Taman Ismail Marzuki. dok. Kemenlu.

Menlu Retno menjelaskan pertunjukan ini adalah program tahunan dari kemenlu dan merupakan salah satu soft power diplomacy melalui seni dan budaya. Tentunya para pemuda Indonesia harus menyadari betapa kebudayaan mereka sangat dicintai warga asing.

“Kalau mereka orang-orang luar dapat mencintai budaya Indonesia kenapa kita tidak. Malam ini kita juga merayakan perbedaan yang sangat dan juga merayakan persatuan. Dan tidak kalah pentingnya bahwa malam ini dengan kita merajut perbedaan dengan kita menebar pertemanan Insyaallah ini merupakan satu benih yang kita tanam untuk perdamaian dunia,” imbuh Menlu.

Menlu menambahkan pertunjukan Indonesia Channel ini bukan hanya mengenai kekayaan budaya Indonesia tetapi juga mengenai promosi filosofi yang berada di dalamnya. Budaya Indonesia bukan hanya mewakili tradisi, nilai, dan gaya hidup tetapi juga mewakili pandangan atas dunia serta aspirasi. 

Filosofi Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika atau berbeda tetapi tetap satu. Indonesia adalah bangsa yang beragam. Keanekaragaman merupakan sebuah aset bukan kelemahan. Keanekaragaman merupakan sumber kekuatan dan bukan alasan bagi sebuah kelemahan.

“Malam ini, kami memupuk rasa hormat atas perbedaan yang kami miliki dan merayakan keragaman yg dimiliki untuk memperkuat persatuan. Jadi malam ini meruapakan perayaan bagi indahnya perbedaan. Kita merayakan perbedaan bukan untuk saling melemahkan tetapi untuk menguatkan satu sama lain,” tutur
Menlu.

“Keragaman adalah anugerah tetapi harmoni tidak. Harmoni tidak boleh dianggap sebelah mata, harmoni harus selalu dipupuk dan dijaga. Seni dan budaya adalah bahasa universal, seni, dan budaya juga tidak mengenal batasan karena bisa membentuk ikatan di seluruh dunia,” imbuhnya.

“Program seni dan budaya Indonesia ini diadakan untuk mengaitkan antar manusia, mengaitkan dunia dan mengaitkan rasa yg hilang dan menyambung ikatan. Ini adalah kekuatan soft diplomacy. Ingat selalu soft power mampu menarik perhatian serta melucuti dan mengembangkan rasa kemanusiaan dan potensinya membentuk rasa aman dan lebih beradab,” tukas mantan Dubes RI untuk Belanda itu.


Pagelaran seni penerima beasiswa seni dan budaya 2018 di Taman Ismail Marzuki. dok. Kemenlu.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang turut hadir dalam pagelaran ini mengatakan bahwa keberadaan 72 peserta dari 44 negara menjadi kesempatan untuk bertukar kebudayaan. Pertukaran budaya bukan hanya menjadi pertukaran budaya saja tetapi juga menjadi kedekatan antar hati antar bangsa.

“Kita berharap pengalaman mereka yang mengikuti program ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi hidupnya. Kehadiran merkea di sini mungkin hanya 3 bulan tetapi hadirnya Indonesia di hati mereka bisa sepanjang hayat,” sebut Anies.

Di akhir program ini Menlu Retno menilai BSBI ini menjadi semakin relevan sebagai salah satu kontribusi Indonesia untuk dunia serta mempromosikan perdamaian toleransi dan harmoni. Tetapi yang terpenting adalah, para peserta menjadi bagian dari sebuah keluarga besar yang bernama Indonesia.

Sebagai penutup Menlu menegaskan,” Ingat, pintu kami selalu terbuka untuk kalian”.
(DRI)