Pembunuhan Komandan Militer Perburuk Instabilitas di Lesotho

Arpan Rahman    •    Sabtu, 16 Sep 2017 17:57 WIB
lesotho
Pembunuhan Komandan Militer Perburuk Instabilitas di Lesotho
Peti berisi jenazah komandan militer Letnan Jenderal Khoantle Motsomotso dibawa ke pemakaman di Malibamatso, 14 September 2017. (Foto: AFP/SAMSON MOTIKOE)

Metrotvnews.com, Maseru: Rombongan buruh buru-buru meninggalkan pabrik tekstil saat makan siang di Lesotho. Pembunuhan dan intrik politik melatari kegaduhan di kerajaan kecil Afrika selatan ini.

Kematian komandan militer, Letnan Jenderal Khoantle Motsomotso, oleh tembakan senjata api dua perwira tinggi pekan lalu, meningkatkan kekhawatiran regional di Lesotho. Harapan adanya stabilitas di Lesotho sempat muncul saat pemilihan umum pada Juni lalu berlangsung damai.

Pembunuhan Motsomotso menjadi pengingat mengenai seringnya Lesotho jatuh ke jurang ketidakstabilan.

Lesotho memiliki sejarah pemerintahan koalisi yang mudah goyah dan campur tangan militer di bidang politik sejak kemerdekaan dari Inggris pada 1966.

Mengunyah roti goreng, seorang buruh bernama Matselano Senohe, mmengingat kembali pembunuhan mantan jenderal angkatan darat pada 2015. "Itu biasa terjadi di sini. Sebenarnya, kami juga mengetahui hal itu dari radio, sama seperti orang-orang di luar Lesotho," ujar dia, seperti dilansir Associated Press, Sabtu 16 September 2017.

Partai naungan Perdana Menteri Thomas Thabane memenangkan pemilu baru-baru ini, mengembalikan dia ke kekuasaan, tiga tahun setelah dia melarikan diri ke Afsel lantaran khawatir menjadi target pembunuhan. 

Mafa Sejanamane, analis politik di Lesotho, berkata bahwa negara tersebut rentan terhadap ketidakstabilan.

"Negara tidak bisa menarik minat para investor, kecuali ada kepastian bahwa begitu para investor memasukkan uang mereka, mereka tidak akan mengalami kerugian," kata Sejanaman. 

"Sementara beberapa orang mungkin ingin menghindari isu-isu politik, faktanya adalah negara ini tidak akan maju tanpa ada stabilitas," imbuhnya.
(WIL)