Gambia Perlu Bantuan Indonesia di Sejumlah Sektor Penting

Sonya Michaella    •    Jumat, 19 May 2017 10:07 WIB
indonesia-gambia
Gambia Perlu Bantuan Indonesia di Sejumlah Sektor Penting
Indonesia-Gambia membicarakan peluang kerja sama bilateral di KBRI Dakar, Mei 2017. (Foto: KBRI Dakar)

Metrotvnews.com, Dakar: Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Gambia Badara Alieu Joof secara khusus mengunjungi KBRI Dakar di Senegal untuk memperkuat dan mengeksplorasi peluang kerja sama pendidikan dengan Indonesia. 

Badara Joof mengapresiasi bantuan yang selama ini diberikan Pemerintah Indonesia dalam mendukung Gambia membangun sektor pertanian.

Dalam hal ini, Indonesia telah membantu meningkatkan kapasitas para petani Gambia melalui Balai Pelatihan Pertanian Agriculture Rural Farmers Training Centre (ARFTC) di Jenoi, Gambia, yang didirikan Pemri pada 1998.


Dubes Mansyur (kiri) dan Badara Joof. (Foto: KBRI Dakar)

"Hubungan bilateral Indonesia-Gambia telah berlangsung sangat baik. Indonesia juga menunjukkan komitmennya dalam upaya membangun sektor pertanian Gambia," kata Duta Besar RI untuk Senegal dan Gambia, Mansyur Pangeran.

Seperti keterangan tertulis dari KBRI Dakar yang diterima Metrotvnews.com, Jumat 19 Mei 2017, keberadaan Balai ARFTC dengan berbagai pelatihan memberikan manfaat besar bagi Gambia dan juga untuk petani negara-negara sekitar di kawasan Afrika Barat.

"Sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2016, pemerintah Indonesia juga telah memberikan beasiswa kepada 18 pelajar Gambia melalui skema beasiswa Darmasiswa dan KNB," lanjut dia.


Dubes Mansyur (dua kiri) dan Badara Joof (dua kanan). (Foto: KBRI Dakar)

Diutarakan Badara Joof bahwa Gambia sangat memerlukan bantuan dari Indonesia dalam mengembangkan kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologinya, khususnya di bidang teknik sipil, teknik mesin, teknik elektro dan arsitektur.

Oleh karena itu, Pemerintah Gambia ingin meningkatkan hubungan bilateral lewat fokus di empat area, yaitu pertanian, pariwisata, teknologi dan teknik.

Di bidang pariwisata, Badara Joof menyampaikan bahwa Gambia tidak ingin terbatas hanya pada obyek wisata resor. Gambia membutuhkan asistensi dan expertise dari Indonesia dalam mengeksploitasi potensi pariwisatanya, seperti pengembangan eco-tourism yang saat ini sedang populer di Indonesia.


Perwakilan Indonesia-Gambia di depan KBRI Dakar. (Foto: KBRI Dakar)

Sikap proaktif Badara Joof merupakan sinyal dari Pemerintah Gambia yang saat ini sedang gencar mencari bantuan dari pihak luar untuk membantu pembangunan yang sedang berjalan.

Momentum dan keseriusan Pemerintah Gambia tersebut dapat dimanfaatkan Pemerintah Indonesia untuk lebih meningkatkan serta memperluas kerja sama bilateral. 

Kerja sama bilateral kedua negara telah dirintis dengan baik dan juga sesuai dengan fokus Indonesia tahun ini, yakni meningkatkan hubungan dengan negara-negara di Benua Afrika.


(WIL)