Misa Perdana Paus Fransiskus di Semenanjung Arab

Willy Haryono    •    Rabu, 06 Feb 2019 06:17 WIB
paus fransiskusuni emirat arab
Misa Perdana Paus Fransiskus di Semenanjung Arab
Paus Fransiskus dalam misa perdana di Semenanjung Arab, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 5 Februari 2019. (Foto: AFP)

Abu Dhabi: Paus Fransiskus menggelar misa publik di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Selasa 5 Februari 2019, yang dihadiri sekitar 170 ribu pemeluk agama Katolik. Ini merupakan kunjungan serta misa pertama seorang pemimpin paus Vatikan di Semenanjung Arab -- tempat lahirnya agama Islam.

Menaiki Popemobile menuju Stadion Zayed Sports City, Fransiskus melambaikan tangan ke ratusan ribu orang yang membawa bendera kuning Vatikan dan spanduk lainnya. Sebuah altar dengan salib besar terpasang di lokasi misa.

Biasanya, UEA melarang adanya kegiatan keagamaan selain Islam di luar tempat ibadah masing-masing. Namun dalam kunjungan Fransiskus, UEA mengizinkan adanya misa di ruang publik.

Fransiskus, seorang pria yang berusaha menggandeng komunitas Muslim sejak dirinya menjadi paus, mengakhiri kunjungan historisnya selama tiga hari di Semenanjung Arab dengan sebuah misa.

Komentar publik Fransiskus di Abu Dhabi difokuskan kepada seruan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah dan melindungi hak-hak semua orang.

Dalam pidatonya di hadapan puluhan ribu pemeluk agama Katolik di UEA -- yang sebagian besar adalah pekerja migran -- Fransiskus menyampaikan pesan menyejukkan.

"Tentu saja tidak mudah bagi kalian semua untuk tinggal begitu jauh dari rumah, merindukan orang-orang tercinta, atau bahkan merasa khawatir mengenai masa depan," sebut Fransiskus, seperti dilansir dari laman AFP.

"Tapi Tuhan itu tidak pernah menelantarkan kita semua," lanjut dia.

Sementara itu dalam pesawat menuju Roma, Fransiskus menyebut kunjungannya ke Semenanjung Arab sebagai "kemajuan" di bidang dialog antar-agama, terutama dengan Islam. Ia menginginkan hubungan baik ini tetap terjaga dengan baik selamanya.

Sebelumnya, Fransiskus telah menandatangani deklarasi damai dengan Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb. Dokumen deklarasi ini ditandatangani dengan disaksikan perwakilan Kristen, Islam, Judaism dan agama lainnya.

Inti dari dokumen ini adalah toleransi, yang perlu "diserukan kepada diri sendiri, kepada semua pemimpin global dan para pembuat kebijakan."
 
Isi dokumen juga menyebutkan tekad melawan ekstremisme harus dijalankan atas dasar membela "semua korban perang, persekusi dan ketidakadilan."


(WIL)