Presiden Mesir Resmikan Gereja usai Serangan Bom

Willy Haryono    •    Senin, 07 Jan 2019 08:33 WIB
terorismeisismesir
Presiden Mesir Resmikan Gereja usai Serangan Bom
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dalam peresmian sebuah gereja di Mesir, 6 Januari 2019. (Foto: AFP/MOHAMED EL-SHAHED)

Kairo: Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi meresmikan sebuah gereja besar di tengah penjagaan ketat pada Minggu 6 Januari 2019. Peresmian dilakukan satu hari usai terjadi ledakan bom di dekat sebuah gereja di Mesir.

Sisi sempat mengheningkan cipta usai ledakan di sebuah gereja di Nasr City, kota di wilayah pinggiran timur Kairo, menewaskan seorang polisi. Korban tewas saat berusaha menjinakkan bom, yang ledakannya juga melukai dua petugas lain.

Pengamanan ditingkatkan saat Sisi secara resmi membuka gereja Cathedral fo the Nativity of Christ di New Administrative Capital, sekitar 45 kilometer dari Kairo. Gereja ini diresmikan menjelang hari raya Natal bagi umat Kristen Koptik di Mesir pada 7 Desember mendatang.

Semua orang yang mengikuti peresmian harus terlebih dahulu melewati tiga set detektor logam. Puluhan kendaraan lapis baja dan ambulans bersiaga di dekat gereja.

Dalam pidato pembukaan, Sisi mengatakan peresmian gereja dan juga masjid Al-Fattah Al-Alim yang dilakukan secara bersamaan mengandung pesan persatuan.

"Kita adalah satu, dan akan terus seperti itu," tegas Sisi, seperti disitir dari kantor berita AFP. "Momen ini sangat penting dalam sejarah negara kita," lanjut dia.

Ulama besar Mesir Ahmed al-Tayeb mengatakan kepada hadirin bahwa "jika hukum Islam mewajibkan para muslim untuk melindungi masjid, maka mereka juga wajib melindungi gereja."

Peresmian gereja mengundang perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump. "Saya antusias menunggu teman-teman saya di Mesir untuk membuka gereja Katedral terbesar di Timur Tengah," tulisnya di Twitter.

"Sisi sedang membawa negaranya menuju masa depan yang lebih inklusif," tambah dia.

Sekitar 10 persen dari total populasi Mesir adalah Kristen Koptik, dan sejumlah pihak menilai Mesir kurang memberikan perlindungan kepada mereka.

Hingga saat ini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru di gereja Mesir. 



(WIL)