Kepedihan Teramat Dalam dari Ibunda Razan al-Najjar

Fajar Nugraha    •    Selasa, 05 Jun 2018 14:46 WIB
palestinapalestina israel
Kepedihan Teramat Dalam dari Ibunda Razan al-Najjar
Sabreen, Ibu dari Razan al-Najjar memegang seragam putrinya (Foto: MME).

Khan Younis: Nama Razan al-Najjar melambung setelah kematiannya oleh prajurit Israel. Perempuan berusia 21 tahun itu tewas ketika berjuang memberikan perawatan kepada warga yang terluka saat protes di Gaza.
 
Peluru menghujam dada perempuan itu dan meninggalkan duka bagi keluarga yang membanggakan upaya Razan selama ini demi warga Palestina.
 
Baca juga: Relawan Medis Wanita Ditembak Mati Israel di Perbatasan Gaza.
 
Selama hampir 10 pekan, Razan merawat mereka yang terluka oleh ulah pasukan Israel saat berlangsung protes Great March of Return. Dimulai 30 Maret lalu, protes tersebut dilakukan di sepanjang perbatasan Gaza dan Israel. Mereka menuntut dikembalikannya warga Palestina ke rumah, ketika diusir dari wilayah yang kini disebut sebagai Israel pada 1948.
 
Pemakaman Razan pada Sabtu 3 Juni 2018 dihadiri oleh ribuan orang termasuk rekan sesama petugas medis. Ribuan orang menangis menunjukkan rasa kehilangannya.
 
Ayah dari Razan, Ashraf al-Najjar membawa seragam medis berwarna putih yang penuh darah putrinya. Seragam itu yang dipakai Razan saat peluru pasukan Israel ketika dia ditembak.
 
"Malaikatku sudah meninggalkan tempat ini, dia kini berada di tempat lebih baik. Aku akan sangat merindukannya. Semoga jiwa mu beristirahat dengan damai, putri tercantikku," tutur Ashraf.
 

Razan al-Najjar tewas ditembus peluru pasukan Israel (Foto: MME).

Rasa kehilangan juga diutarakan oleh ibunda Razan, Sabreen. "Mereka (Israel) tahun Razan. Mereka tahu kalau dia adalah seorang petugas medis, yang sudah membantu orang yang terluka sejak 30 Maret," tutur Sabreen, kepada Middle East Eyes, seperti dikutip Selasa 5 Juni 2018.
 
"Putri saya menjadi target dari penembak jitu Israel. Peluru itu ditembak langsung di dada nya. Ini bukan peluru nyasar," tuturnya.
 
Sabreen menuturkan bahwa putrinya adalah seorang petugas medis yang berani. "Putri saya keluar rumah setiap Jumat antara pukul 7.00 pagi hingga 8.00 sore. Dia di lapangan melakukan pekerjaannya menolong yang terluka. Putri saya seorang pemberani yang tidak takut akan penembak jitu Israel," tegasnya.
 
Jelas di ingatan Sabreen di saat Razan pulang dari tugasnya dengan darah memenuhi seragam medisnya. Bahkan tak jarang, Razan bertahan di lokasi protes hingga semua orang pergi.
 
Baca juga: PBB Kecam Penembakan Israel terhadap Razan al-Najjar.
 
Razan, adalah anak tertua dari enam bersaudara. Dia menjadi petugas medis setelah kuliah keperawatan dan berbagai pelatihan bantuan medis. Dirinya sempat menjadi relawan di rumah sakit dan bersama LSM serta organisasi medis untuk meningkatkan kemampuan serta pengalaman.
 
Sebagai petugas medis, Razan berkonsentrasi membantu perempuan dan anak-anak. Kini dirinya menjadi simbol perlawanan damai terhadap represi yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Palestina di Gaza.
(FJR)