Ancaman Pembunuhan Diarahkan kepada Rahaf Al-Qunun

Fajar Nugraha    •    Jumat, 11 Jan 2019 16:18 WIB
arab saudiRahaf Mohammed al-Qunun
Ancaman Pembunuhan Diarahkan kepada Rahaf Al-Qunun
Rahaf Mohammed al-Qunun berada di dalam perlindungan UNHCR setelah menolak pulang ke Arab Saudi. (Foto: AFP).

Bangkok: Khawatir dengan keselamatannya, Rahaf Mohammed al-Qunun menghapus akun Twitternya, Jumat, 11 Januari 2019 ini. Dia dikabarkan mendapatkan ancaman pembunuhan.

Hingga saat ini remaja berusia 18 tahun itu tengah menunggu keputusan di mana dia diberikan suaka. Australia sebelumnya menyatakan kemungkinan akan menerima Qunun, tetapi masih membutuhkan proses.

Baca juga: Australia Sebut Proses Suaka Rahaf al-Qunun Butuh Waktu.

Rahaf Mohammed al-Qunun tiba di Thailand pada Sabtu 5 Januari dan pada awalnya ditolak masuk. Saat tiba, dia segera mulai memposting pesan di Twitter dari area transit bandara Suvarnabhumi Bangkok yang mengatakan bahwa dia telah "lolos dari Kuwait" dan hidupnya akan dalam bahaya jika dipaksa kembali ke Arab Saudi.

Dalam beberapa jam, sebuah kampanye muncul dijuluki #SaveRahaf, tersebar di Twitter oleh jaringan aktivis.

Sekitar tengah hari pada Jumat, akun Twitter-nya, @ rahaf84427714, menjadi offline setelah dia memposting bahwa dia memiliki "kabar buruk dan kabar baik!" Akun muncul kembali sebentar sekitar satu jam kemudian tetapi menjadi offline lagi dalam beberapa menit.

Seorang pengguna Twitter yang dikenal sebagai Nourah, yang Qunun sebut sebagai teman, menulis bahwa Qunun “menerima ancaman kematian dan karena alasan ini ia menutup akun Twitter-nya".

Qunun, yang tinggal di Bangkok di lokasi yang dirahasiakan dan tidak dapat dimintai komentar, sebelumnya mengatakan di Twitter bahwa ia menerima ancaman pembunuhan dari seorang kerabat di platform media sosial.

Sophie McNeill, jurnalis Australia Broadcast Corp yang telah melakukan kontak langsung dengan Qunun, mengatakan remaja itu "aman dan baik-baik saja" tetapi sedang beristirahat sejenak dari Twitter.

"Dia baru saja menerima banyak ancaman mati," kata McNeill di Twitter, seperti dikutip AFP, Jumat, 11 November 2019.

Baca juga: Rahaf al-Qunun Takut Dibunuh Keluarga Karena Murtad.

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengatakan pada Kamis Australia menilai apakah akan memberikan suaka kepada Qunun. Menlu Payne menambahkan status suaka Qunun masih membutuhkan proses.

Payne mengatakan tidak ada kerangka waktu untuk sebuah keputusan. Tetapi Kepala Departemen Imigrasi Thailand, Surachate Hakparn, mengatakan itu akan menjadi jelas pada Jumat malam di mana Qunun akan diberikan suaka.

"Kesehatan fisik dan mentalnya baik. Kita harus tahu malam ini dia akan pergi ke negara mana,” pungkas Surachate kepada wartawan.


(FJR)