Ribuan Orang Melarikan Diri dari Mosul Barat

Willy Haryono    •    Minggu, 19 Mar 2017 20:41 WIB
konflik irakisis
Ribuan Orang Melarikan Diri dari Mosul Barat
Warga sipil melarikan diri dari Mosul barat di tengah pertempuran sengit antar pasukan Irak dan ISIS, 18 Maret 2017. (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Baghdad: Ribuan warga melarikan diri dari Mosul Barat, Sabtu 18 Maret 2017, di tengah pertempuran sengit pasukan pemerintah melawan kelompok militan Islamic State (ISIS) di beberapa distrik di sekitar Kota Tua. 

Pertempuran selama lima bulan untuk merebut Mosul dari ISIS, pasukan Irak telah membersihkan bagian timur dan separuh area barat. Saat ini, Irak fokus merebut Kota Tua Mosul dan juga masjid al-Nuri. 

Saat pertempuran mulai beralih ke gang-gang sempit dan wilayah padat penduduk, semakin banyak warga yang melarikan diri karena kurangnya bahan makanan dan air bersih. Mereka juga melarikan diri karena rumah-rumah di sekitar area pertempuran berisiko terkena mortir. 

"Kami terperangkap selama 25 hari. Tidak ada air, makanan, dan semua orang akan mati, dan mereka akan menarik (jasad) kami dari puing-puing," kata seorang warga di distrik Bab Jdid, seperti dikutip Reuters

Sejumlah keluarga dengan orang lanjut usia dan anak-anak melarikan diri dari jalanan berlumpur di Mosul barat. Beberapa dari mereka mengaku sudah tidak makan selama sepekan, dan harus menggantungkan nasib ke grup relawan lokal. 

"Kondisi ini sangat buruk, ISIS telah menghancurkan kami. Tidak ada makanan, tidak ada roti. Benar-benar tidak ada apa-apa," ucap warga lainnya. 

Sekitar 600 ribu warga sipil diperkirakan masih terperangkap di Mosul barat. 

Sebanyak 255 ribu orang terusir dari Mosul dan area sekitarnya akibat pertempuran sejak Oktober tahun lalu, termasuk 100 ribu dari bagian barat sejak 19 Februari. 

Pekan lalu, 32 ribu warga terusir dari Mosul antara 12 dan 15 Maret.

Amerika Serrikat (AS) mengestimasi sekitar 2.000 militan ISIS masih berada di Mosul barat. AS khawatir meski pun nantinya Mosul benar-benar dibebaskan, masih ada risiko militan ISIS yang akan kembali dan melancarkan serangan dengan cara bergerilya.


(WIL)