Krisis di Kongo, Kabila Disebut Tak Maju dalam Pilpres

Arpan Rahman    •    Jumat, 09 Feb 2018 15:22 WIB
konflik kongo
Krisis di Kongo, Kabila Disebut Tak Maju dalam Pilpres
Presiden Republik Demokratik Kongo Joseph Kabila tak akan maju dalam Pilpres 2018 (Foto: AFP).

Kinshasa: Joseph Kabila, Presiden Republik Demokratik Kongo, yang menolak mengundurkan diri pada akhir mandatnya pada 2016, mengakibatkan demonstrasi jalanan yang terus-menerus berdarah, tidak akan bertahan dalam pemilihan presiden yang akan diadakan tahun ini. Hal itu disampaikan seorang pembantu utamanya.
 
Lambert Mende, menteri komunikasi, mengatakan Kabila, yang menjabat sejak 2001, tidak pernah berniat untuk mengincar masa jabatan ketiga. Ia tidak akan berusaha menunjuk seorang kandidat demi mewakili kepentingannya dalam pilpres, yang dijadwalkan pada Desember.
 
"Ini bukan kerajaan, di mana raja menunjuk ahli waris. Ini adalah republik yang demokratis," kata Mende pada Rabu 7 Februari , seperti dikutip dari Guardian, Jumat 9 Februari 2018.
 
Masa jabatan kedua Kabila sebagai presiden berakhir pada Desember 2016 dan dia telah dituduh sengaja menunda persiapan untuk sebuah pemungutan suara baru. Negara Afrika tengah berada dalam cengkeraman krisis kemanusiaan yang memburuk, didorong konflik antaretnis dan kerawanan pangan.
 
Serangkaian demonstrasi yang meminta Kabila untuk turun secara brutal ditekan dalam beberapa pekan terakhir. Pasukan keamanan menewaskan tujuh orang pada saat demonstrasi pada 31 Desember dan enam orang saat menyebarkan sebuah unjuk rasa anti-Kabila pada 21 Januari.
 
Protes tersebut dipimpin oleh gereja Katolik. Bulan lalu Kardinal Laurent Monsengwo, pejabat gereja paling senior di Kongo, menggambarkan negara tersebut sebagai "sebuah penjara terbuka".
 
Ketidakstabilan politik dan eskalasi konflik antaretnis sudah menimbulkan kekhawatiran bahwa Kongo terjerumus kembali ke dalam perang seperti tahun 1990an ketika jutaan orang meninggal, kebanyakan karena kelaparan dan penyakit.
 
Sedikitnya 30 orang terbunuh dalam dua hari bentrokan antara penggembala Hema dan petani Lendu di provinsi Ituri, timur laut. Badan-badan bantuan mengatakan bahwa kekerasan di timur memaksa ribuan orang mengungsi dari rumah mereka ke negara tetangga Burundi dan Tanzania dalam beberapa pekan terakhir.
 
Diperkirakan hampir 8 juta orang, sekitar 10 persen populasi DR Kongo, terdampak oleh kelaparan yang ekstrem dan lebih dari 4 juta anak di bawah usia lima tahun berisiko mengalami kekurangan gizi akut.
 
Mantan Perdana Menteri Kongo, Samy Badibanga, telah menyerukan sebuah konferensi mendesak bantuan internasional, yang dijadwalkan pada Mei mendatang di Jenewa.
 
"Orang meninggal setiap hari. Anak-anak sekarat karena kelaparan, klinik dibakar, desa-desa hancur. Perhatian tertarik pada pemilu, tapi prioritas utamanya adalah kemanusiaan. Krisis itu benar-benar dibiarkan," katanya.



(FJR)


Menlu AS Temui Raja Salman Bahas Jurnalis Hilang

Menlu AS Temui Raja Salman Bahas Jurnalis Hilang

5 hours Ago

Pompeo berterima kasih kepada Raja Salman karena mendukung penyelidikan transparan pencarian Jamal…

BERITA LAINNYA