Venezuela dalam Kondisi Tegang Jelang Revisi Konstitusi

Arpan Rahman    •    Selasa, 11 Jul 2017 19:09 WIB
konflik venezuela
Venezuela dalam Kondisi Tegang Jelang Revisi Konstitusi
Kelompok penentang Presiden Nicolas Maduro meluapkan kemarahannya kepada pemerintah (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Caracas: Kelompok pro dan anti-pemerintah berjuang keras mendapatkan dukungan publik atas rencana yang digulirkan oleh Presiden Nicolas Maduro agar badan baru yang akan terpilih bulan ini menulis ulang konstitusi.
 
Oposisi, yang bertenaga karena pembebasan salah satu pemimpin ikoniknya, Leopoldo Lopez, memimpin tuntutan terhadap majelis baru yang hendak dipilih dalam pemilu 30 Juli 2017.
 
Pada Senin 10 Juli 2017, pihak pembangkang mengadakan demonstrasi di Caracas, di mana puluhan pemrotes dan beberapa petugas keamanan yang menghadapi mereka sama-sama terluka.
 
Pada Minggu, oposisi mengadakan pemungutan suara simbolisnya sendiri mengenai apakah majelis konstitusional baru harus didirikan.
 
"Populasi ini telah memutuskan mau melanjutkan perjuangan guna mendapatkan kebebasan," kata seorang anggota parlemen oposisi yang ikut ambil bagian, Freddy Guevara. 
 
"Hari Minggu akan menjadi tindakan pembangkangan sipil terbesar dalam sejarah Venezuela," cetusnya, seperti disitir AFP, Selasa 11 Juli 2017.
 
Maduro bertekad menyaksikan rangkaian prosesnya -- yang telah dikritik sebagai cara baginya buat menyisihkan parlemen yang dipimpin oposisi. Kendati muncul kekhawatiran akan lebih banyak kekerasan di jalanan. Sejak 1 April, lebih dari 90 orang tewas dalam demonstrasi.
 
Kediktatoran
 
Presiden Venezuela, memerintah sebuah negara kaya minyak yang sengsara, sudah dituduh oleh Gereja Katolik yang berpengaruh: hendak mengubah negara menjadi "kediktatoran militer".
 
Namun Presiden Rusia Vladimir Putin -- sekutu lamanya -- Senin, memuji Maduro dalam sebuah sambungan telepon atas "upayanya menjaga stabilitas dan perdamaian di negara ini," menurut sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri Venezuela.
 
Putin juga mendukung tuduhan Maduro bahwa dia adalah korban sebuah rencana pihak asing buat menjatuhkannya, kata pernyataan tersebut.
 
Kampanye untuk majelis konstitusional Venezuela yang kontroversial akan berakhir pada 27 Juli. Koalisi oposisi mengatakan bahwa mereka tidak akan mengajukan kandidat apapun dalam pemilu yang dikecam sebagai "kecurangan".
 
Kubu oposisi menguat saat keluarnya Lopez pada Sabtu dari penjara, di mana dia ditahan sejak tahun 2014 atas tuduhan menghasut kekerasan.
 
Dia menjalani sisa hukuman 14 tahun dalam tahanan rumah di ibu kota, meskipun pengacaranya mengatakan bahwa mereka ingin pembatasan itu juga dilepaskan, jadi dia benar-benar bebas.
 
Pada Minggu -- hari ke-100 gelombang protes terhadap Maduro -- 4.000 demonstran bergerak melawan presiden, beberapa di antara mereka mengenakan kaos dengan wajah Lopez dan membawa spanduk bertuliskan: "Seratus hari dan saya terus memberontak melawan tirani. "
 
"Saya mengulangi komitmen saya untuk berjuang sampai kebebasan Venezuela dimenangkan," kata Lopez dalam sebuah pernyataan yang dibacakan oleh seorang pemimpin partainya.
 
Pihak oposisi juga menyatakan akan terus mendesak pembebasan 400 tahanan lainnya yang digambarkan sebagai "narapidana politik." Tapi menurut pemerintah mereka adalah penjahat biasa.
 
Mungkinkah dialog?
 
Seorang analis, Luis Vicente Leon, mengatakan bahwa memindahkan Lopez dari penjara ke tahanan rumah menunjukkan bahwa pemerintah berharap menurunkan ketegangan, dan perundingan politik sekarang tampaknya mungkin terjadi. Maduro terutama ingin menghindari keretakan di dalam tentara, yang tanpa cengkeramannya kekuasaan akan berakhir, katanya.
 
Pengamat lain mencatat bahwa pembebasan pemimpin oposisi tersebut terjadi tiga hari setelah militan pro-Maduro bersenjata tongkat dan pipa menyerbu parlemen dan memukul anggota parlemen, melukai setidaknya tujuh orang, dalam serangan sembilan jam.
 
Maduro secara terbuka mengutuk kekerasan tersebut dan mengatakan telah memerintahkan penyelidikan. Petugas yang bertanggung jawab atas keamanan parlemen, Senin, didakwa melakukan pelanggaran hak asasi manusia karena membiarkan serangan itu terjadi.
 
Di dalam kubu Maduro sendiri, timbul suara-suara berbeda pendapat. Jaksa Agung Luisa Ortega -- pendukung kuat pendahulu Maduro dan mentornya, Hugo Chavez -- telah menentang majelis konstitusional dan mengkritik tindakan pemerintah dan militer.
 
Mahkamah Agung Venezuela sedang melakukan proses hukum melawan Ortega dan akan memutuskan pekan ini apakah akan membekukan dia dari jabatannya dan mengajukannya ke pengadilan.
 
Sekelompok jaksa agung Amerika Latin dan Spanyol, AIAMP, mengadakan sebuah pertemuan istimewa di Argentina, pada Kamis mendatang, untuk membahas urusan Ortega.
 
Badan tersebut telah mengadakan dua pertemuan serupa mengenai isu yang sama. Terakhir bulan lalu, mereka menyuarakan dukungan bagi Ortega dan mengecam tekanan 'ilegal'terhadap dirinya.



(FJR)