Tolak Serahkan Kota ke Pihak Asing, Pemuda Suriah Gabung ISIS

Arpan Rahman    •    Jumat, 21 Apr 2017 08:14 WIB
isis
Tolak Serahkan Kota ke Pihak Asing, Pemuda Suriah Gabung ISIS
Kekuatan ISIS saat ini masih bertahan melawan gempuran pasukan koalisiai (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Gaziantep: Dia baru berusia 20 tahun ketika gerilyawan Islamic State (ISIS) menyerbu kota asalnya Deir el-Zour di timur Suriah yang kaya minyak. Mohammed telah memerangi pasukan pemerintah dua tahun terakhir, keputusannya mudah saja: bergabung dengan militan agar terus bertempur melawan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.
 
Meskipun berjuang keras, dia tidak pernah menjadi anggota penuh, namun Mohammed mulai mendapatkan kepercayaan militan tersebut. Dia menghafal lebih banyak ayat Alquran dan belajar tentang hukum syariah yang mengatur jihad, atau perang suci. Dia menyempurnakan penampilan ala "ISIS", dengan membiarkan jenggotnya jadi lembut, memakai celana di atas pergelangan kaki, dan melepaskan bordir dari baju longgarnya untuk menunjukkan penghematan. Dia bahkan membawa sebuah buku doa di sakunya.
 
Dia melakukan apapun yang diperlukan untuk terus berjuang demi Deir el-Zour. Tapi ketika para militan memerintahkannya musim panas lalu guna bertarung di tempat lain, dia bubar barisan, melarikan diri ke Turki.
 
Perjalanan Muhammad menggambarkan sebuah kisah dari sebuah generasi muda Syria yang besar di tengah perang. Para remaja saat perang saudara meletus pada 2011, beberapa di antaranya harus memilih pihak dan apa yang harus diperjuangkan. Pada awalnya, kelompok ISIS hanyalah kelompok bersenjata yang melawan musuh bersama.
 
Bagi Muhammad, penyebabnya adalah kampung halamannya. "Kami orang-orang Deir el-Zour, tidak seperti orang-orang Suriah lainnya memiliki cinta naluriah kepada tanah air kami," Mohammed menjelaskan mengapa dia tidak pergi saat ISIS mengambil alih dan menunjukkan penduduk setempat punya rasa bangga yang semakin dalam saat perpecahan tumbuh di Suriah. 
 
"Mengapa saya harus pergi dan menyerahkannya kepada orang luar?," pungkasnya.
 
Dia berbicara kepada Associated Press dengan syarat hanya diidentifikasi nama depannya, karena takut akan pembalasan dari Turki atau kelompok ISIS.
 
Provinsi Deir el-Zour menjadi "benteng terakhir kelompok Islam", kata Omar Abu Layla, aktivis lokal yang sekarang tinggal di Jerman. Sekitar 2.500 pejuang ISIS diperkirakan berada di ibu kota provinsi. Ratusan lagi, banyak dari mereka yang melarikan diri dari kekalahan di Irak, berpindah ke pedesaan provinsi tersebut dalam beberapa bulan terakhir, bersembunyi saat pasukan yang didukung Amerika Serikat (AS) berkonsentrasi pada serangan mereka ke ibu kota de facto kelompok tersebut, Raqqa, di Suriah utara.
 
Jalur di sepanjang Sungai Efrat melalui gurun timur Suriah ke perbatasan Irak membuat Deir el-Zour lebih kaya dan lebih penting secara strategis daripada Raqqa, karena menjadi pusat industri minyak Suriah dan sebab hubungannya dengan Irak. Sangat tergantung pada politik kesukuan, populasinya sangat erat dengan provinsi Sunni Anbar di Irak -- Deiris, sebagaimana mereka disebut, lelucon mereka adalah mereka orang Irak di Syria atau orang-orang Syria di Irak.
 
Bertubuh kecil, Mohammed seorang pemuda yang tangguh. Sebagai anak yang dibesarkan sebuah lingkungan miskin di kota Deir el-Zour, ibu kota provinsi tersebut, dirinya menjadi striker terampil di lapangan sepak bola dan seorang pejuang yang handal di medan perang. Dalam wawancara, ia sering mengungkapkan pengabdiannya untuk dua hal. Salah satunya adalah ibunya. 
 
"Semua untuk Anda, ibu," sebuah tato yang dia toreh di lengan bawahnya setelah sampai di Turki. Yang lainnya adalah senjatanya. "Selama lima tahun (pertempuran), senapan itu menjadi bagian tubuh saya," katanya, seperti dilansir Associated Press, Kamis 20 April 2017.
 
Dia sepertinya bermaksud menunjukkan bahwa dia tidak pernah bersimpati dengan ISIS. Dia mengaku dibaiat sumpah setia pada kelompok tersebut namun menegaskannya tidak sah karena secara teknis: dia tidak mengakhirinya dengan menjabat tangan amir batalionnya sesuai persyaratan.
 
Dia sambil tertawa bercerita tentang merokok sembunyi-sembunyi yang bertentangan dengan peraturan ISIS dan berbicara tentang gadis yang dia cintai menanti dirinya pulang kampung. Sebagai contoh bagaimana dia tidak menerima doktrin militan, dia menyebut bahwa dia selalu menyimpan sebutir peluru di sakunya di medan perang untuk bunuh diri agar tidak ditangkap. ISIS membolehkan "syahid" oleh pelaku bom bunuh diri, namun sebaliknya menganggap bahwa bunuh diri adalah dosa.
 
Meski begitu, sulit menyembunyikan dirinya terpengaruh dalam ideologi militan. Pidatonya dibumbui dengan jargon jihad. Dia bangga mengikuti ujian Syariah kelompok ISIS. Dia merasa nyaman dengan versi Islam garis keras. Sebelum ISIS datang, dia bertugas sebagai pengaman di sebuah pengadilan Syariah yang dibentuk oleh sebuah faksi pemberontak.
 
"Saya tidak akan menyembunyikannya," katanya tentang ISIS, "mereka adalah pejuang hebat yang datang tanpa rasa takut, dengan tekad dan hati yang kuat, mereka berani mati."
 
Sementara Deir el-Zour sekarang dipandang sebagai kubu militan, pada awalnya merupakan daerah pemberontak.
 
Tidak seperti Raqqa, di sana meletus demonstrasi di awal pemberontakan 2011 melawan aturan Assad, karena sengsara selama bertahun-tahun diabaikan oleh Damaskus.
 
Tempat tinggal Mohammed di Jbeileh, salah satu yang paling termasyhur di Deir el-Zour, menjadi garis depan pertempuran sengit antara pemberontak lawan pasukan Assad. Saat usia 17, Mohammed tertarik secara alami kepada para pemberontak. Kakak laki-lakinya berjuang untuk sebuah faksi Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan terluka parah tiga kali -- luka ketiga melumpuhkannya. Dua sepupunya meninggal dalam pertempuran. Ipar perempuannya terbunuh dalam serangan udara pemerintah saat dia memeluk anak perempuannya. Seorang saudara laki-laki lainnya berada dalam tahanan pemerintah, dan seorang saudari sedang dalam pelarian.
 
Pemberontak menguasai sebagian besar provinsi tersebut, meskipun pemerintah tetap menguasai sebagian kota dan bandara strategis. Kemudian kelompok ISIS menyapu bersih dan menyerbu daerah pemberontak pada musim panas 2014, membanjirinya dengan para militan setelah mencaplok Mosul di Irak.
 
"Baik juga membiarkan Daesh (ISIS) masuk atau rezim masuk. Keduanya adalah musuh kami," kata Mohammed.
 
Setelah mendapatkan kontrol, kelompok tersebut membantai anggota suku yang menolak peraturannya, menyalurkan kengerian kepada orang lain. Suku Deiri terbelah, beberapa pendukung ISIS, yang lain adalah oposisi atau memihak pemerintah. Banyak pemberontak dan aktivis anti-pemerintah melarikan diri.
 
ISIS memperketat kontrol atas pejuang lokal yang tersisa. Mereka memonopoli distribusi senjata dan menuntut mantan pemberontak masuk kelas "pertobatan" demi memastikan kesetiaan.
 
Muhammad mendaftarkan diri
 
Hampir 1.000 orang, kebanyakan mantan pejuang pemberontak, masuk dalam kelas mulai fajar sampai tengah malam, belajar hukum Islam, Al Quran dan peraturan jihad. Militan menghukum siapapun yang menunjukkan ketidaktaatan. Terkadang dihukum cambuk; terkadang mereka menyuruh pelaku mengalungkan sebuah dot bayi di lehernya sebagai tanda rasa malu.
 
Ketika sebuah seruan muncul bagi para relawan agar merencanakan pertempuran di kota tersebut, Mohammed melihat kesempatannya dan mengangkat tangan. Ia diterima setelah lulus tes agama. Mohammed katakan bahwa pengujinya asal Tunisia sangat terkesan dengan pengetahuannya yang dia puji sebagai salah satu "anak-anak Khilafah."
 
Dia diterjunkan dalam pertempuran di Deir el-Zour saat para militan maju melawan pasukan pemerintah pada akhir 2015 dan awal 2016. Dalam satu pertempuran, dia ingat, dia dan pejuang lainnya memberondongkan tembakan perlindungan bagi seorang pengebom bunuh diri yang menyerang posisi militer.
 
Tapi dia sangat terkejut dengan hirarki kelompok tersebut. Militan asing yang membentuk pasukan tempur elit tidak bergaul dengan pejuang lokal dan tidak mempercayainya. "Kami tidak berbicara atau duduk bersama," katanya. "Mereka datang untuk mengawasi kami dengan senjata terkokang mereka."
 
Kegegabahan Mohammed segera membuatnya mendapat masalah. Suatu malam, dia melemparkan petasan ke api unggun sebagai lelucon, mengejutkan para komandan ISIS, katanya.
 
Dia ditahan dan senjatanya diambil. Dia memohon supaya dilepaskan untuk bergabung dengan sebuah serangan yang direncanakan di kawasan Deir el-Zour.
 
Sebagai gantinya, komandan ISIS memerintahkannya ke provinsi Hassaka, ke utara, buat melawan orang Kurdi. Dia menolak keras, dan mereka menuduhnya rusak moral. Dengan mata tertutup, dia diinterogasi oleh seorang syekh Saudi, yang dengan saksama bertanya kepadanya apakah dia takut pada pejuang wanita Kurdi, di saat seorang militan lain memukulnya dengan selang.
 
"Dia bilang jihad bukan soal pilihan," kenang Mohammed.
 
Akhirnya, sang syekh memerintahkan Mohammed ke Manbij, dekat perbatasan Turki, di mana para pejuang ISIS diserang oleh pasukan Kurdi.
 
Begitu sampai di Manbij, Muhammad membayar penyelundup manusia untuk membawanya ke Turki.
 
Berbicara kepada Associated Press di kota Gaziantep, Turki, Muhammad berusaha menjelaskan hubungannya dengan ISIS. Dia menunjukkan sedikit kekhawatiran akan kekejaman mereka. Dia mengabaikan pembantaian suku-suku Deiri, mengatakan bahwa dia berasal dari kota itu dan tidak ada hubungannya dengan soal kesukuan. Yang mengecewakannya adalah penyalahgunaan wewenang militan seperti pelecehan terhadap perempuan dan diskriminasi terhadap pejuang lokal.
 
"Kami orang lugu, dan mereka berbicara dengan kami memanfaatkan agama," katanya, menjelaskan mengapa mereka cocok. "Mereka orang Islam. Tapi mereka tidak tahu bagaimana menerapkannya. Mereka mencomot apa yang mereka inginkan dari Islam."
 
Sendirian dan kekurangan uang di Gaziantep selama berbulan-bulan, prioritasnya adalah menemukan jalan pulang. Dia ingin berjuang membebaskan Deir el-Zour dari ISIS, dan kemudian juga melindunginya dari apa yang dia lihat sebagai ancaman berikutnya: orang-orang Kurdi, yang mendominasi pasukan pendukung AS yang memerangi kelompok ISIS di timur laut Suriah. Mohammed, seperti banyak orang Arab Suriah lainnya, takut Kurdi akan menyerahkan wilayah yang dibebaskan ke pemerintah Suriah.
 
"Saya tidak ingin tinggal di sini dan menonton saja," katanya dalam sebuah pesan. "Saya seorang pejuang."
 
Dia berharap bisa bergabung dengan pemberontak yang didukung Turki jika mereka ambil bagian dalam kampanye melawan Raqqa. Tapi skenario itu berantakan, dan Mohammed terjerumus dalam keputusasaan.
 
Dalam pesan terakhirnya, dia menolak menjawab pertanyaan lebih lanjut, hanya menambahkan: "Yang penting saya harus membela martabat saya."



(FJR)