PBB Sebut Serbuan Pasukan Suriah ke Daraa Bisa Memicu Krisis

Arpan Rahman    •    Jumat, 29 Jun 2018 11:12 WIB
suriah
PBB Sebut Serbuan Pasukan Suriah ke  Daraa Bisa Memicu Krisis
Ilustrasi (Foto:Medcom/M Rizal)

Daraa: Serangan baru pemerintah Suriah untuk merebut kembali wilayah pemberontak di barat daya negara itu membahayakan proses perdamaian yang rentan. Selain itu dapat memancing krisis kemanusiaan lebih buruk dari pengepungan Aleppo. Demikian seorang pejabat senior PBB memperingatkan.

Staffan de Mistura, utusan khusus untuk Suriah, mengatakan kepada dewan keamanan PBB bahwa serangan oleh pasukan bersenjata Suriah, yang didukung milisi Iran, akan menempatkan lebih dari 750.000 nyawa dalam bahaya. Dia mengatakan lebih dari 45.000 orang sudah mengungsi.

Serangan yang didukung Rusia berada di salah satu "zona de-eskalasi" yang dengan susah-payah dinegosiasikan Amerika Serikat (AS), Yordania, dan Rusia tahun lalu. Zona-zona itu dipuji sebagai tanda kerjasama Washington-Moskow oleh Donald Trump di sela-sela KTT G20 tahun lalu di Hamburg.

Namun pasukan pemerintah Suriah tampaknya mencoba untuk memecah pasukan pemberontak di Daraa timur sebagai bagian dari upaya merebut kembali wilayah tersebut. Wilayah ini tempat kelahiran revolusi Suriah dan secara diplomatis sensitif karena berbatasan dengan Lebanon, Yordania, dan Israel. Israel tidak akan mentolerir milisi Iran begitu dekat dengan perbatasannya.

De Mistura berkata, serangan itu memiliki potensi yang sama mematikannya dengan pengepungan Aleppo dan Goutha timur. Dia katakan serangan juga kemungkinan akan membalikkan kemajuan rumit yang dia buat dalam membangun dukungan diplomatik untuk konstitusi Suriah yang baru.

Berbicara kepada PBB setelah mendengar laporan De Mistura, wakil duta besar AS untuk PBB, Jonathan Cohen, menepis klaim dari Rusia bahwa pihaknya berusaha mengurangi krisis, malah menuduh Moskow melakukan beberapa serangan udara.

"Amerika Serikat sangat prihatin dengan serangan baru rezim Suriah -- dengan dukungan langsung dari Rusia -- di barat daya, di mana serangan udara yang sedang berlangsung, bom barel, serangan artileri, dan roket mengambil korban signifikan pada penduduk sipil," kata Cohen, seperti dilansir Guardian, Kamis 28 Juni 2018.

Dia mengatakan kawasan itu menikmati ketenangan relatif selama hampir satu tahun karena semua pihak patuh dengan zona de-eskalasi.

Namun demikian, tidak mungkin, bahwa AS akan campur tangan secara militer demi melindungi para pejuang oposisi.

Ribuan warga sipil telah mengungsi ke kamp-kamp sementara dan tempat perlindungan di sepanjang perbatasan barat daya Suriah. Tetapi para pengungsi tidak dapat memasuki Yordania karena pemerintah Yordania telah menutup perbatasan.

Moskow tertarik memediasi sebuah kesepakatan di mana Israel mengizinkan tentara Suriah mengambil kembali kendali atas kawasan itu, dengan pengertian bahwa pasukan Iran mundur. Namun diplomat Israel meragukan Rusia dapat memenuhi janji ini.

Dewan Pengungsi Norwegia telah mendesak Yordania untuk mengambil ribuan warga Suriah yang dikatakannya "tidak memiliki tempat lain untuk dituju" ketika mereka melarikan diri dari pasukan Bashar al-Assad. Dikatakan Jordan tidak bisa diharapkan untuk menanggung beban sendirian. Sebaliknya, komunitas internasional harus "menawarkan dukungan substansial". 

Kelompok tersebut siap membantu calon pendatang baru yang menetap di kamp Azraq di Yordania, yang dapat menerima 80.000 lebih banyak orang, kata dewan tersebut.


(WAH)