Kesaksian Pengacara Arab Saudi Terkait Kasus TKI

Sonya Michaella    •    Jumat, 06 Jul 2018 13:18 WIB
tkiperlindungan wni
Kesaksian Pengacara Arab Saudi Terkait Kasus TKI
Mishal, pengacara Arab Saudi yang menangani kasus-kasus WNI di Negeri Petrodolar (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Setelah delapan tahun mendekam di penjara kota Damman, Arab Saudi, akhirnya Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Nurkoyah bisa kembali ke Indonesia. Hal ini tak lepas dari pembelaan pengacara asal Arab Saudi bernama Mishal.
 
Baca juga: Bebas Hukuman Mati Arab Saudi, TKI Pulang ke RI.
 
Mishal adalah salah satu dari pengacara terbaik di Arab Saudi yang disewa pemerintah Indonesia untuk menangani sejumlah kasus TKI. Ia sendiri sudah bekerja menjadi pengacara KBRI Riyadh sejak 2011 silam.
 
"Saya juga menangani beberapa kasus warga negara lain di Arab Saudi. Tidak ada perwakilan negara lain yang sangat memperhatikan warga negaranya, seperti perwakilan Indonesia," ucap Mishal di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat 6 Juli 2018.
 
"Mereka (KBRI Riyadh) tanpa lelah terus menangani masalah-masalah WNI yang ada di Arab Saudi," lanjut dia.
 
Mishal mengaku, dia kerap menerima telepon dari pihak KBRI Riyadh soal permasalahan TKI. Namun, ia tak pernah merasa terganggu.
 
“Itu bentuk perhatian pemerintah kepada warga negaranya yang sedang terjerat masalah di negara orang. Saya siap untuk terus membantu KBRI Riyadh,” tukas dia.
 
Dalam kasus Nurkoyah, Mishal mengaku bahwa ada sedikit keterlambatan dalam penanganan di mana Nurkoyah sudah terlanjur dipaksa penyidik untuk membuat pengakuan bahwa dia memang memasukkan racun ke susu bayi majikannya dan menyebabkan bayi tersebut meninggal.
 
"Saya mulai menangani kasus Nurkoyah di sidang ke lima. Sempat susah waktu pembelaan karena tidak hadir sejak awal. Namun akhirnya tujuh tahun usaha saya berhasil dan Nurkoyah bisa pulang,” ucap Mishal.
 
Saat ini, Mishal masih menangani delapan kasus TKI lainnya di Arab Saudi. Beberapa dari kasus tersebut tidak termasuk hukuman mati melainkan terkait dengan perdagangan manusia.


(FJR)