FOKUS

Bom Mesir dan Jurus Sektarianisme Kelompok Radikal

Sobih AW Adnan    •    Senin, 27 Nov 2017 22:05 WIB
ledakan mesir
Bom Mesir dan Jurus Sektarianisme Kelompok Radikal
Masjid al-Rawdah di Bi'r al-Abid Kota al-Arish, Provinsi Sinai Utara, Mesir/AFP/STR

Jakarta: Sebanyak 305 jiwa warga Mesir melayang setelah ledakan bom yang dibarengi aksi penyerangan membabi buta oleh 40 orang tak dikenal pada Jumat, 24 November 2017. Meski dugaan kian menguat, namun sampai saat ini belum ada klaim resmi dari kelompok tertentu yang menyatakan bertanggungjawab, terutama ISIS.

Modal sementara, di antara pengepung Masjid al-Rawdah di Bi'r al-Abid Kota al-Arish, Provinsi Sinai Utara itu diketahui membawa bendera mirip lambang ISIS. Dalam keterangan lebih lanjut, beberapa korban yang selamat pun mengaku mendengar pekikan takbir yang diteriakan pelaku selama kurang lebih 20 menit penembakan.

Tak terlalu terburu jika kecurigaan makin membidik kelompok satu ini. Sebab peristiwa mematikan tersebut baru kali pertama terjadi di Mesir. Tepatnya, sebuah aksi kekerasan yang menjadikan masjid sebagai target serangan.

ISIS memang dikenal sebagai salah satu kelompok radikal yang menggunakan sentimen sektarianisme sebagai jurus andalan. Korban dianggap sebagai sesuatu yang berbeda dan musuh terdekat, tentu, selain rutinitas mereka menebarkan teror dan menyerang kalangan nonmuslim dan wisatawan.

Setelah kocar-kacir di Irak dan Suriah, rupanya, ISIS hijrah dan siap menebar ketakutan di beberapa belahan dunia.

Rekam jejak

Ratusan korban tewas, termasuk 27 di antaranya anak-anak itu merupakan jemaah tarikat al-Jaririyah al-Ahmadiyah, pengikut Syekh Ahmad Badawi.

Pengamat politik Timur Tengah Zuhairi Misrawi mengatakan, serangan bom Mesir kali ini menjadi semacam pesan yang ingin disampaikan kelompok teroris bahwa sel-sel mereka masih bergerak dan hidup. Apalagi, wilayah Sinai Utara memang dikenal sebagai basis kelompok garis keras.

"Daerah ini menjadi basis ISIS," kata peneliti Moderate Muslim Society (MMS) tersebut dalam Metro Pagi di Metro TV, Minggu, 26 November 2017.

Pengikut sufi, kata Zuhairi, dijadikan target serangan lantaran memiliki tradisi dan pandangan berbeda dengan kelompok radikal. Mereka dikenal antikekerasan, dan cenderung mendukung dan kooperatif dengan pemerintah sah, terutama terhadap pihak polisi dan militer.

"Salah satu pimpinan kelompok sufi ini, Syaikh al-Muammar Sulaiman Abu Harraz diculik ISIS dua kali. Pada November tahun lalu, tokoh berusia nyaris 100 tahun itu dipenggal kepalanya oleh ISIS di sekitaran Sinai," ujar pria karib disapa Gus Mis ini.

Dalam Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme, dan Oase Perdamaian (2010), Zuhairi juga menulis bahwa aksi teror di Mesir memang kerap terjadi sejak lama. Kelompok garis keras, bahkan disinyalir kuat terlibat pembunuhan terhadap Presiden Mesir Anwar Sadat pada 1981, dan pemikir Muslim Farag Fouda pada 1992.

"Di Mesir, fenomena gerakan jihad (al jahbah al jihadiyyah) dan al jamaah al islamiyyah merupakan sebuah kelompok yang mencemaskan banyak pihak, karena selalu melancarkan aksi bom bunuh diri terhadap wisatawan asing. Di samping itu, mereka memproduksi fatwa pengafiran terhadap para pemikir Muslim yang dianggap tidak sejalan dengan pandangannya," tulis dia.

Selain potensi sentimen sektarianisme, kelompok radikal juga cenderung subur di negara-negara yang sempat mengalami tekanan politik ekonomi yang tidak setabil. Zuhairi menyebut, Mesir salah satunya.

"Bayangkan saja, sepanjang 2013-2017 ada 1.000 tentara tewas di Sinai. Khusus 2017, menelan korban 200 tentara dari 130 serangan yang dilakukan kelompok ISIS di Sinai Utara," kata dia.

Gerakan ISIS di Mesir memang tak melulu berasal dari milisi yang menduduki Irak maupun Suriah. Kebanyakan dari mereka bermetamorfosa dari gerakan lokal yang tergabung dalam Ansar Bait al-Maqdish dan berbaiat kepada Abu Bakar al-Baghdadi.

Kelompok ini eksis seiring peristiwa Revolusi Mesir pada 2011 yang menggoyang kekuasaan Husni Mubarak. Namun Ketika Abdul Fattah as-Sisi mampu merebut kekuasaan Muhammad Mursi yang tak lain junjungan mereka, aksi-aksi teror al Maqdish kian seporadis.

Ultrapuritanisme dan ketimpangan sosial

Di daerah pendudukannya di luar Mesir, ISIS fasih memanfaatkan isu sektarianisme Sunni versus Syiah. Mereka pun menjadikan jargon khilafah sebagai dalih pemersatu seluruh Muslim di dunia demi meraih simpati dan dukungan.

Reno Muhammad, dalam ISIS: Kebiadaban Konspirasi Global (2014) menuliskan, seruan persatuan itu bukan tanpa sambut. Tawaran khilafah, relatif ditanggapi bahkan mampu menggoda kalangan Muslim awam yang tak memahami secara detail geopolitik Arab.

"Meski ada potensi ISIS bisa merekrut segelintir Muslim dari pelbagai penjuru dunia, pada saat  yang sama ISIS mengandung lebih banyak potensi perlawanan dari mayoritas umat Islam," tulis Reno.

Perbedaan mencolok kelompok satu ini, kata Reno, adalah pemahamannya yang bersifat ultrapuritan. Maka amat memungkinkan, jika di kemudian turut mendasari kenapa ISIS pun tak segan-segan menghancurkan banyak masjid di wilayah yang mereka duduki.

"Dengan alasan masjid tersebut jadi tempat pemujaan berbau musyrik yang bertentangan dengan akidah tauhid," tulis dia.

Terkait ketimpangan, Mesir memang tercatat mendapatkan tantangan ini semenjak berabad silam. Jurnalis Amerika Serikat (AS) Max Rodenbeck dalam Cairo: The City Victorious (1998) menyebut, setelah peradaban selama 5.000 tahun, sistem politik di Mesir masih mengekor bentuk bangunan andalannya, piramida.

"Dalam arti, Kairo ada di puncaknya," tulis Rodenbeck.

Piramida dipinjam Rodenbeck sebagai bentuk ketidakmerataan pengelolaan ekonomi politik di Mesir. Di masa lalu, semua lahan pertanian di Mesir malah diteorikan sebagai milik penguasa negara. Sebagian besar keuntungan dari tanah kaya minyak itu dialirkan ke ibu kota.

"Bahkan hari ini, meski lahan pertanian sudah dimiliki perorangan, tetap memiliki 96 persen daerah Mesir, berupa gurun," tulis dia.

Sinai utara basis ekstremisme, secara geografis memang berbeda dengan bagian Sinai selatan. Titik konflik ini dikenal tandus, dan jauh dari kesuburan. Jelas, sebuah dalih ketimpangan yang amat strategis disulap menjadi bahan adu domba antarkelompok dan aliran.




(SBH)