Bajak Kapal Tanker, Perompak Somalia Tuntut Tebusan

Arpan Rahman    •    Rabu, 15 Mar 2017 17:00 WIB
perompakan
Bajak Kapal Tanker, Perompak Somalia Tuntut Tebusan
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Mogadishu: Kelompok perompak bersenjata di lepas pantai Somalia, yang membajak sebuah kapal tanker minyak dengan delapan awak Sri Lanka di dalamnya, menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal. 
 
 
Hal ini disampaikan oleh pasukan Angkatan Laut Uni Eropa (EU Navfor). Para perompak merebut tanker Aris 13 berbendera Comoros, Senin 13 Maret, menjadi pembajakan kali pertama di wilayah itu sejak 2012.
 
"Angkatan Laut Uni Eropa telah menerima konfirmasi positif dari nakhoda Aris 13, bahwa kapal dan krunya saat ini sedang ditawan oleh sejumlah tersangka perompak bersenjata di sebuah pelabuhan di lepas pantai utara Puntland, dekat Alula," kata pasukan itu dalam sebuah pernyataan, Selasa 14 Maret, seperti disitir Reuters, Rabu 15 Maret 2017.
 
Puntland adalah wilayah semi-otonom di utara Somalia. Alula merupakan sebuah kota pelabuhan di sana, di mana bajak laut telah mengambil alih tanker.
 
EU Navfor mengatakan segera setelah menerima peringatan dari pembajakan kapal, mereka mengirim pesawat patroli dari pangkalan Djibouti berupaya melakukan kontak radio dengan kapal. Pada Selasa malam, kantor pusat di London dapat menghubungi nakhoda kapal melalui telepon.
 
"Nakhoda menegaskan bahwa orang-orang bersenjata berada di kapal dan mereka menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal. Angkatan Laut Uni Eropa kini telah memberi informasi mengenai kejadian tersebut ke pemilik kapal," kata EU Navfor.
 
Aris 13 berbobot mati 1.800 ton dimiliki oleh perusahaan asal Panama, Armi Shipping, dan dikelola oleh Aurora Ship Management di Uni Emirat Arab, menurut situs data pengapalan Equasis, yang dikelola kementerian transportasi Prancis.
 
Di aksi mereka pada 2011, perompak Somalia meluncurkan 237 serangan di lepas pantai Somalia, menurut data dari Biro Maritim Internasional yang menunjukkan, para lanun menahan ratusan sandera.
 
Di tahun itu, kelompok bantuan Oceans Beyond Piracy memperkirakan pembajakan global memakan biaya sekitar USD7 miliar. Industri pelayaran menanggung sekitar 80 persen dari biaya tersebut, analisis kelompok itu menunjukkan.
 
Namun serangan menurun tajam setelah pemilik kapal memperketat keamanan dan kapal-kapal perang berpatroli lebih jauh dari pantai Somalia.



(FJR)